Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
PULAU


__ADS_3

Dan pada akhirnya, Anderson benar-benar membawa Melia pergi. Naik menggunakan pesawat pribadinya dan masih terlelap tidur dengan tangan yang masih terus tergenggam oleh Anderson.


"Sebentar lagi kita akan sampai, Tuan."


Anderson mengangguk.


"Aku dan Melia akan menetap di sana sampai sementara waktu."


"Tapi Tuan Bram ..."


"Biarkan dia menyelesaikan semua masalahnya terlebih dahulu sebelum bekerja denganku lagi."


Pengawal yang menggunakan jas serba hitam itu pun mengangguk. Sedikit merasa kasihan pada wanita yang tertidur lelap di samping Anderson dengan kerutan yang ada di dahinya.


"Saya akan pastikan nona Melia nyaman di tempat baru."


Anderson menatap ke arah Melia lagi. Setelah pengawal itu berlalu, Anderson mengecup kembali tangan itu.


"Kamu milikku, Mel. Selamanya milikku."


***


Dan pada akhirnya, mereka telah tiba. Setelah berpindah menggunakan helikopter, kini mereka telah sampai di tengah pulau dengan rumah megah di tengah sini.


"Bienvenue, Monsieur."


Anderson tampak mengangguk ketika ia sudah menurunkan Melia di dalam sebuah kamar serba putih.


"Assurez-vous que mon amant est a l'aise,"


"Oui Monsieur."


Seorang laki-laki tinggi paruh baya, menggunakan pakaian serba putih tampak selalu menunduk di hadapan Anderson. Dia menatap ke arah Anderson lalu sekilas menatap ke arah perempuan muda yang terbaring di atas ranjang.

__ADS_1


"J'ai prepare le diner, Monsieur."


"J'attendraj que mon amant se reveille."


Laki-laki itu mengangguk kemudian segera melangkah. Menutup pintu itu dengan pelan lalu beranjak pergi dari sini.


Anderson menarik napas panjang, menatap ke arah luar ruangan dan hanya sebuah air di seluruh mata memandang.


Pepohonan menjulang tinggi, pulau ini benar-benar cocok jika untuk melarikan diri.


Melia, sudah dibawa Anderson dengan sangat jauh ... berada di sebuah tempat terpencil dan kini hanya ada mereka berdua dan beberapa pengawal di tempat ini.


Dan sudah tidak akan pernah mungkin, Melia untuk kabur lagi dari sisinya.


Anderson melihat detikan jam di lengan kirinya. Pengaruh obat bius akan hilang sebentar lagi. Dan Melia, pasti akan segera bangun.


Mungkin, Melia akan mengamuk, marah dan menuntut untuk pulang, tapi Anderson sudah siap akan hal itu.


Semua hanya tinggal masalah waktu ... Melia pasti akan menerimanya lagi.


***


Tiga puluh menit berlalu ...


Satu jam ...


Dan pada akhirnya dua jam ...


Rupanya obat bius itu masih kuat di tubuh Melia hingga ia terbangun lebih dari yang Anderson kira.


Kepalanya masih terlalu pening, rasanya masih terasa sakit saat Melia mengerjap-erjap matanya berulang kali. Tapi, yang Melia lihat hanya lah sebuah ruang serba putih, dan hanya lampu redup hingga membuat suasana remang-remang.


"Di mana ini?" Melia masih lemah, tapi ia tetap berusaha untuk bangun. Duduk dan matanya langsung melebar ketika menyadari bahwa ia sudah berada di sebuah tempat asing.

__ADS_1


Melia mengibaskan pandangan ke sekitar. Segera turun dari atas ranjang dan kebingungan dengan dirinya yang entah berada di mana.


Melia menuju pintu, tapi berulang kali ia berusaha untuk membuka pintu itu, ia tetap tidak bisa. Kamar ini dikunci rapat-rapat dari luar.


"Keluarkan aku dari sini!!!"


Melia mondar-mandir. Ia mulai frustrasi.


"Keluarkan aku!!!"


Dan hingga pada menit pertama, terdengar suara pintu yang dibuka kuncinya.


"Le diner est pret, mademoiselle."


Mulut Melia berhasil dibuat menganga. Ia benar-benar kebingungan saat ada orang asing lagi mengatakan sesuatu hal yang tidak ia mengerti sama sekali.


"Apa yang kamu katakan?!"


Tidak ingin merasa frustrasi lagi, Melia segera berlari dari tempat itu. Kebingungan mencari jalan dan terus turun menyusuri anak-anak tangga di bawah sini.


Melia harus segera keluar dari tempat ini. Harus!!!


Melia berlari secepat kilat, menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari jalan keluar. Sempat tersesat oleh beberapa ruang tapi kini, ia berhasil menemukan pintu besar dan ia berhasil keluar dari tempat ini.


Tapi ...


Baru satu langkah Melia berhasil menginjakkan kaki. Melia kembali dibuat syok seketika.


Sebuah pasir putih yang ia jejakkan, juga dengan hamparan laut di sepanjang mata memandang. Ketika Melia melangkah lagi, Melia kembali di hadapkan fakta bahwa dia memang sedang berada di tempat terpencil, asing dan entah di mana.


"Kamu sudah tidak bisa keluar dari tempat ini, Melia.


Dan tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh bahunya dari arah belakang. Anderson ikut memandang hamparan laut dalam kegelapan.

__ADS_1


***


17:16


__ADS_2