
Sepasang mantan kekasih itu pun hanya saling tatap. Menghabiskan waktu dalam pikiran mereka masing-masing hingga pada akhirnya Reyan berucap.
"Katakan padaku, kenapa kamu sampai tega melakukan ini semua padaku."
Melia tertunduk, ia hanya bisa meremas tangannya sendiri karena ia pun juga kebingungan untuk menata kata-katanya agar Reyan mengerti, agar Reyan juga mampu memahaminya.
"Padahal kamu tahu kalau Anderson lah orang yang menghancurkan hubungan kita. Orang yang bahkan sudah menghancurkan keluargaku, hidupku hingga aku tidak mempunyai apa-apa lagi."
Melia semakin terisak. Melia jelas egois untuk kali ini.
"Aku meminta maaf secara tulus atas nama Anderson. Dia memang melakukan hal buruk kepadamu ..."
"Lalu setelah kamu tahu, kamu tetap memilihnya?"
Lagi-lagi lidah Melia kelu. Semua perkataan Reyan memang benar, hingga membuat Melia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Terbungkam akan tamparan kata-kata Reyan yang semakin membuat Melia tersudut tanpa bisa membela diri.
Dirinya lah yang egois di sini, jelas-jelas Melia tahu, hidup Reyan menderita memang karena Anderson.
Hanya saja ... hanya Melia yang tahu dengan apa alasan Anderson melakukannya. Anderson mencintainya sampai-sampai dia salah langkah. Anderson yang terlalu mencintainya, hingga Anderson melakukan segala macam cara.
Dan parahnya, Melia juga mencintainya. Bahwa yang paling dirugikan di sini menang benar Reyan. Membuat Melia sadar, bahwa dirinya lah yang memang manusia paling jahat di sini.
"Anderson, menyesali semua perbuatannya padamu. Dia berjanji akan mengembalikan semua ke tempat asalnya. Dia berjanji akan ..."
"Terlambat. Apa kamu tidak tahu seberapa menderitanya aku dan keluargaku dulu?"
"Maaf, tapi bisa kah kamu memberi kesempatan pada Anderson untuk memperbaiki semuanya?"
Reyan menggeleng. "Tidak akan pernah aku lakukan."
"Kamu juga tidak akan memaafkanku?"
"Kamu mengkhianatiku, Mel."
"Aku tidak pernah mengkhianatimu, Rey."
Reyan menahan napas ketika melihat air mata Melia. Jika dulu Reyan selalu akan datang padanya saat melihat Melia menangis, tapi saat ini ia malah marah melihat Melia yang seperti itu.
"Bahkan kamu juga telah memaafkannya ketika kamu tahu kalau Anderson yang membuat orang tuamu tidak ada di dunia ini."
Melia menggeleng lagi.
"Anderson tidak pernah sengaja melakukannya ..."
Tiba-tiba saja Reyan tertawa pahit di depan Melia. Rasanya, sangat mustahil untuk berbicara pada Melia yang sedang jatuh cinta pada orang itu. Sepanjang lebar apa pun Reyan menjelaskannya, Melia pasti akan tetap membelanya. Dan ternyata benar, di mata Melia, Anderson lah orang yang yang sangat ingin ia lindungi.
Dan pada akhirnya Reyan sadar ...
Bahwa Melia, ternyata sudah bukan orang yang selama ini ia kenal. Melia sudah berubah, nyaris seratus delapan puluh derajat.
Sementara di atas sana, ada yang selalu panik melihat ke arah mereka berdua. Anderson menatap pada detikan jam yang bahkan sudah melebihi waktu yang telah ditentukan.
Sudah setengah jam lebih, tapi mereka belum selesai. Duduk berhadapan hingga Anderson semakin panas.
Anderson tidak bisa menunggu lebih lama lagi, pada akhirnya ia turun, berlari ke arah Melia karena ia semakin ketakutan kalau Melia akan berubah pikiran.
Dan saat Reyan melihat Anderson datang, Reyan berdiri. Memasukkan kedua tangannya pada kantung hoddie yang ia kenakan dan kemudian menatap ke arah Melia.
"Reyan, maafkan aku ..."
Anderson menghampiri Melia, berada di sampingnya dan ikut menatap ke arah Reyan.
"Aku tidak bisa memaafkan kalian."
Tangan Melia bergetar, dan Anderson langsung meraihnya. Menggenggamnya erat-erat saat Anderson mulai dapat membaca situasi apa yang saat ini sedang terjadi.
Melia menangis, Reyan malah tersenyum sinis melihat mereka berpegangan tangan.
__ADS_1
"Jangan membuat Melia semakin tersudut. Satu-satunya orang yang patut disalahkan adalah aku. Aku yang harus minta maaf padamu atas semua apa yang telah aku lakukan padamu," Anderson berucap itu dan malah membuat Reyan semakin tertawa.
"Kalian ternyata sama saja."
"Reyan, aku mohon ..."
Reyan menggeleng. "Mulai sekarang aku tidak akan pernah mengusik kalian lagi. Aku telah sadar di mana posisiku seharusnya. Dan selamat, kalian telah berhasil membuat hidup seseorang menderita."
Dan ucapan dari Reyan semakin membuat hati Melia sakit tak terkira. Bagaimana Melia bisa melihat Reyan pergi disaat Reyan masih membenci mereka dan bahkan belum bisa memaafkan mereka?
"Reyan ...?"
Tapi sebelum Reyan pergi, Reyan menyempatkan untuk menoleh ke arah Melia. Menatap kedua mata itu dan berkata dengan sungguh-sungguh.
"Satu-satunya hal yang harus kamu lakukan saat ini adalah Rosa."
Mendengar nama itu mata Melia kembali melebar.
"Dia sahabat baikmu kan? Lebih baik tanyakan pada orang yang ada di sampingmu itu bagaimana keadaannya sekarang. Di mana dia dirawat dan apakah dia baik-baik saja."
"..."
"Aku sangat sedih saat merasakan bagaimana nasibnya. Rosa meminta pertolongan padaku hingga membuatku tidak tega. Rasanya sangat menyakitkan saat dia meminta pertolongan tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, untuk itu aku datang ke sini, meminta padamu untuk membebaskan Rosa agar dia bisa kembali menjalani hidupnya."
Melia terperangah. Tapi sebelum Melia berkata lebih jauh lagi, Reyan sudah pergi, keluar ke arah gerbang dan benar-benar menghilang di jalanan.
Sementara itu, Melia sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia terisak-isak, ia sangat amat merasa bersalah pada Reyan, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Reyan tidak memaafkannya, dan itu lah yang paling membuat hatinya sakit.
"Melia ...?"
"Di mana Rosa ...? Apa benar apa kata Reyan kalau kamu sudah tahu di mana Rosa berada? Aku harus bertemu dengannya. Aku harus bertemu dengan Rosa."
Melia panik, Anderson mencoba untuk menenangkannya.
***
Sudah tidak ada yang berada di sisinya sekarang ini, tidak ada satu orang pun yang membelanya padahal jelas-jelas di sini Reyan yang jauh lebih menderita.
Apakah semesta memang tidak pernah berpihak kepadanya? Rasanya semua tidak pernah adil hingga Reyan pada akhirnya hanya bisa menangis, meluapkan seluruh emosi yang ada di dalam dirinya.
***
.
.
09:43
NOTE : Jangan dibaca kalau malah buat kalian penasaran... waka waka
ini prolog ceritaku di w a t t p a d ya...
HASRAT TUAN ALEXANDER
Alexander Hoorans. Ia benar-benar marah, napasnya memburu menahan emosi yang meluap ketika mendapati salah satu karyawannya telah membuat kesalahan besar.
Bagaimana bisa...?
Karyawan rendahan, manager keuangan telah memanipulasi data penjualan dan melakukan korupsi hingga ratusan juta rupiah.
"Seret dia ke kantor polisi dan buat keluarganya menderita!" Pekik Alexander dengan mata yang menyala-nyala.
"Baik, Pak." Seorang bertubuh tegap di sana segera menganggukkan kepalanya satu kali. Menyeret laki-laki itu dengan paksa untuk segera keluar dari ruangan ini.
"Maafkan saya, Tuan. Maafkan saya. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Saya mengaku khilaf. Saya mohon kebesaran hati anda. Dan tolong jangan bawa keluarga saya. Mereka tidak tahu apa-apa." Begitu kira-kira permohonan ampunannya.
__ADS_1
Tetapi sayang, Alexander tidak bergeming sama sekali. Alexander hanya berdiri membelakanginya sambil menatap ke luar jendela pada lantai atas gedung ruangannya. Menyedekapkan tangannya tanpa mau menoleh sedikit pun.
"Tuan Alexander. Saya mohon... Saya mohon tuan." Secepat kilat pria itu melepaskan cengkeraman sekretaris yang bernama Frans itu dan berlari ke arah Alexander. Duduk bersimpuh di hadapannya dan memegang celana Alexander sambil memohon.
"Tolong saya, tolong saya. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan saya. Masih ada anak perempuan saya yang masih kuliah, anak laki-laki saya yang sedang sakit dan istri saya yang sedang hamil besar. Tolong ampuni keluarga saya. Saya melakukan korupsi karena semata-mata saya putus asa membiayai penyakit anak laki-laki saya. Saya kekurangan biaya untuk mengobatinya."
Alexander hanya tersenyum skeptis mendengar alasannya. Ia tidak menunjukkan raut wajah kasihan sama sekali di depan orang ini. Tapi kemudian ia tertawa, menoleh kepada Frans yang berdiri di sana. Sekretarisnya bahkan masih berusaha untuk menyeret koruptor ini. Masih berusaha menjauhkannya dari tubuh Alexander.
"Kamu dengar itu, Frans? Tugasmu sekarang adalah buat anak perempuannya yang sedang kuliah, keluar dari kampusnya...! Lalu jangan biarkan anak laki-lakinya mendapatkan pengobatan dari rumah sakit mana pun! Dan terakhir, sita tempat tinggalnya karena itu semua merupakan merupakan layanan perusahaan! Aku tidak mau aset perusahaan masih melayani seorang koruptor seperti dia!"
"Tuan Alexander...! Saya mohon jangan lakukan itu, Tuan! Saya mohon. Bagaimana saya bisa bertahan hidup jika tuan melakukan itu semua? Mohon maafkan kesalahan saya yang satu ini tuan!" Laki-laki paruh baya itu semakin menunduk dan bersujud saat itu juga. Sungguh. Ketakutan benar-benar menyergapnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi jika Alexander melakukan semua hal yang tadi ia katakan.
Ciih.
"Usir dia dari sini, Frans! Aku tidak mau melihat mukanya lagi."
"Baik, sir."
Hingga akhirnya Frans menyeret pria itu untuk keluar dari ruangan, sementara dia masih menjerit histeris dan mengiba kepada Alexander. "Mohon maafkan saya, tuan. Maafkan saya." Lalu suaranya samar-samar menghilang dari balik pintu.
Di sini, Alexander masih tidak bergeming. Ia menyedekapkan tangannya, menatap pada jendela kaca besar yang ada di sana tanpa sudi untuk menoleh lagi ke arahnya.
Dan ini lah Alexander yang kejam, bengis, tanpa ampun sedikit pun. Dengan hanya menjentikkan jarinya, ia sudah bisa melakukan apa saja. Alexander sangat tidak bisa menolerir kesalahan bahkan sebesar sebiji kopi sekali pun. Dan jika dia merasa dikecewakan oleh suatu hal, Alexander tidak akan pernah bisa memaafkannya.
Semua orang begitu membenci dan memuja Alexander hampir bersamaan. Semuanya tergantung oleh suasana hatinya. Jika dia merasa puas oleh kinerja seseorang, dia bisa memberikan balasan setimpal, bahkan harta yang tidak habis tujuh turunan untuk mereka. Tetapi jika dia marah dan kecewa akan hasil kerja seseorang, sudah bisa ditebak orang itu akan jatuh ke lubang penderitaan. Sama hal nya dengan pria yang telah melakukan koruptor tadi.
Semua harus sempurna. Sedari kecil, Alexander dididik untuk tidak membuat kesalahan. Masa kecil Alexander begitu berat, hingga menjadikannya pria yang kuat tapi keras seperti batu.
Tanpa sadar Ayahnya telah menciptakan Alexander yang seperti ini. Kenangan masa kecilnya bahkan membuat Alexander mempunyai rasa dendam jauh di dalam hatinya yang terdalam.
"Sudah kau bereskan semuanya, Frans?!" Saat Alexander menyadari akan kedatangan Frans, ia langsung melontarkan pertanyaan itu. Karena satu, Alexander harus memastikan kalau dia tidak akan pernah bertemu lagi dengannya. Orang yang pernah membuatnya kecewa tidak akan pernah diizinkan untuk hadir di dalam hidupnya lagi.
"Ya, sir."
"Saya sudah mengusir orang itu keluar dari perusahaan. Membakar data dirinya lalu menyuruh kaki tangan saya untuk mengusir dia dan keluarganya dari rumah itu saat ini juga. Kemudian saya sudah menghubungi pemilik kampus, tempat anak perempuannya kuliah untuk segera mengeluarkannya. Dan untuk rumah sakit kepunyaan anda, saya sudah menghubungi semuanya untuk tidak menerima pengobatan anak laki-laki itu."
"Bagus." Senyum kepuasan terpampang jelas di kedua sudut milik Alexander. Hanya Frans, sekretaris pribadinya yang hampir tidak pernah membuat kesalahan.
"Oh, ya." Sepertinya Alexander tiba-tiba teringat akan sesuatu.
"Keluar lah, Frans. Kau pasti perlu istirahat. Aku bisa mengurus diriku sendiri di dalam sini."
"Baik, sir. Saya di depan pintu kalau ada apa-apa tinggal panggil saya."
Alexander mengangguk kemudian Frans dengan cepat keluar dari ruangan milik Alexander. Sekretaris itu begitu menurut, walau pun usia mereka sepantara tetapi, tidak menyurutkan rasa hormat sedikit pun dari Frans untuk bosnya.
Ada kenangan masa lalu yang membuat Frans seperti ini. Kenangan rasa terima kasih dan hutang budi yang begitu dalam pada Alexander yang secara tidak langsung menyelamatkan hidupnya.
Sementara itu di dalam sana, Alexander kemudian sibuk dengan setumpuk berkas yang ada di atas mejanya. Hingga tanpa sadar sebuah dering ponsel membuatnya sedikit terkesiap. Nama Mama muncul di atas layar hingga cepat-cepat Alexander mengangkatnya.
"Halo, sayang."
"Hai, Ma."
Dan satu lagi, satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya adalah Mamanya. Tidak ada orang lain di dalam hidupnya yang bisa sepenting Mamanya. Mamanya, adalah orang yang paling Alexander hormati, yang paling ia cintai melebihi apa pun di dunia ini.
Walau pun Alexander di depan orang lain adalah orang yang paling kejam, angkuh dan keras seperti batu, tetapi di depan Mamanya dia bisa berubah menjadi halus bahkan menjadi penurut demi melihat Mamanya bahagia.
Semua itu dilakukan Alexander hanya satu. Karena Alexander tahu, bahwa satu-satunya orang yang mencintai Alexander secara tulus hanya lah Mamanya. Mamanya yang mampu merawat dirinya sampai besar, dengan penuh kasih dan sayang ketika dulu dirinya di usir oleh Ayahnya sendiri hanya karena seorang perempuan lain yang mampu membuat Ayahnya berselingkuh dari Mama.
"Uhuk, uhuk, uhuk." Hingga akhirnya terdengar batukan yang membuat Alexander semakin khawatir akan kondisi Mamanya.
"Mama... Mama tidak apa-apa? Aku... Aku akan ke rumah sakit sekarang juga."
"Kamu tahu kalau Mama sudah tidak mempunyai umur yang panjang lagi, bisa kah kamu sekarang membuka hatimu untuk perempuan dan memikirkan tentang pernikahan? Mama khawatir jika Mama tidak ada lagi di dunia ini kamu akan sendiri."
Dan begitu ucapan Mamanya hingga membuat Alexander syok setengah mati.
__ADS_1
***