Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
SENYUM MENYERINGAI


__ADS_3

Ha ha ha. Tawa Reyan renyah ketika ia berhasil mengerjai Melia. Membuat Melia langsung memukul bahunya keras-keras karena masih syok dengan apa yang dilakukan oleh Reyan.


"Reyan, ini tidak lucu."


Reyan terkekeh geli. Muka Melia yang tampak syok seperti itu membuat Reyan tidak bisa berhenti untuk tertawa.


"Maaf, maaf. Salah sendiri ponselmu tidak bisa dihubungi."


Melia menghela napas. "Ponselku memang mati sedari tadi. Aku tidak tahu kalau aku disuruh lembur."


"Lain kali, panggil aku untuk mengantarmu pulang. Apa kamu tidak takut jalan sendirian seperti ini."


Melia menghela napas. "Tidak apa-apa, Rey. Aku terbiasa sendiri."


"Hey, sekarang sudah aku."


Melia mengangkat dahinya. Sebenarnya dia ingin mengatakan sesuatu tapi sepertinya saat ini situasinya tidak tepat. "Ayo, aku harus pulang. Besok aku harus berangkat pagi."


"Aku ingin mengajakmu makan di kedai dulu kalau kamu tidak keberatan."


"Tapi ..."


"Ayo lah."


Belum selesai Melia menjawab lagi, tiba-tiba Reyan sudah menarik tangannya. Membawanya naik menggunakan sepeda motor dan membawa Melia pergi dari sini.


***


"Terima kasih, Tuan. Anda baik sekali mengantarkan saya pulang." Rosa tampak tersipu dengan adanya Anderson yang duduk di sebelahnya.


Sedangkan Anderson tidak membalas ucapan Rosa sama sekali. Ia hanya fokus menyetir dengan kepalanya yang penuh dengan Melia.


Rosa tersenyum tiada henti. Hari ini, adalah kesempatannya. Kapan lagi dia bisa duduk romantis seperti ini bersama dengan bosnya?


"Pak Anderson, apa anda sudah mempunyai pacar?" Tanpa mempunyai rasa malu sedikit pun, Rosa menanyakan akan hal itu.

__ADS_1


Tapi, sedetik saja ucapannya tidak berhasil membuat Anderson tertarik sama sekali. Beberapa kali Anderson malah menatap ke arah ponsel, berharap kalau Bram segera melaporkan di mana dan ke mana Melia berada.


Tapi, nihil ...! Entah ke mana Bram hari ini. Kenapa dia lama sekali?


"Kalau boleh, boleh kah saya mendekati bapak? Karena saya ... tertarik dengan bapak."


Jantung Rosa berdebar tidak karuan. Ia curi-curi pandang ke arah Anderson yang mungkin Anderson mau menanggapinya dengan serius. Tapi ternyata, Anderson sama sekali tidak memandang ke arah dirinya.


Anderson seperti tidak memperdulikannya sama sekali. Sedari tadi ia hanya menatap ke arah ponselnya dan terlihat cemas. Mungkin, puluhan kata yang tadi Rosa ucapkan, sama sekali tidak di dengar oleh Anderson.


Melia, Melia dan Melia.


Saat ini otak Anderson hanya di penuhi oleh Melia. Hingga pada akhirnya, saat ia melesat di jalan raya, entah kenapa ia seperti melihat sosok Melia sedang dibonceng oleh seseorang di tengah jalan raya.


Anderson membelalak sempurna. Dari dalam mobilnya tempat ia duduk saat ini, ia langsung membeku seketika. Sosok yang ia lihat saat ini jelas-jelas adalah Melia!


Dan dia bersama dengan Reyan?!


"Pak, sepertinya saya mencintai bapak." Tapi sepertinya, Rosa masih terus berusaha untuk menggoda Anderson.


Tanpa sadar Anderson mengumpat hingga membuat Rosa terbelalak kaget.


Dan saat itu juga, ketika motor itu terus melesat dengan cepat, Anderson langsung menginjak gasnya dengan kecepatan tinggi.


Amarah Anderson meledak-ledak, ia tidak terima jika wanitanya berduaan bersama dengan laki-laki lain seperti itu apa lagi di depan matanya.


Motor Reyan terus bergerak maju, sementara Anderson berusaha menyalipnya tanpa memerdulikan Rosa yang berteriak ketakutan karena Anderson terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Pak hati-hati."


Tapi sepertinya, Anderson sudah kelewat marah untuk mendengarkan apa pun yang dikatakan oleh Rosa.


***


"Reyan! Jangan cepat-cepat!" Melia juga mengamuk ketika Reyan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Tapi sepertinya, Reyan juga tidak perduli. Lewat kaca spion yang ia lihat saat ini, Reyan sadar ... bahwa ada orang yang saat ini sedang panas dingin melihat dirinya bersama dengan Melia.


Anderson.


Reyan mengucapkan nama itu di dalam hati.


Entah, ada sesuatu hal yang sepertinya ingin Reyan buktikan hari ini. Kalau sepertinya, orang yang menguntit Melia selama ini, adalah sosok Anderson.


Mari kita lihat, seberapa gila dan marahnya dirimu jika aku berhasil mendapatkan Melia malam ini.


"Mel, apa kamu ingin bermain?" Reyan harus sedikit berteriak karena ucapannya kalah dengan suara knalpot motornya yang terlalu memekakkan telinga di tengah jalan raya.


"Rey! Pelan-pelan!!!"


Tapi Reyan, malah melajukan motonya lagi dengan kecepatan tinggi.


Hingga pada akhirnya, lampu merah yang ada di ujung jalan menyala. Membuat Reyan mau tidak mau memberi ancang-ancang untuk segera menghentikan laju motornya.


Decit panjang memekakkan telinga. Membuat Melia hampir terlonjak ke depan saat Reyan menghentikan motornya.


"Reyan, apa kamu sudah gila?"


"Mungkin. Ha ha ha." Reyan malah tertawa ketika dia berada di belakang zebra cross.


Saat ini, lampu sudah hampir menyala hijau, dan lewat kaca spion di motornya, ia melihat mobil Anderson yang sudah hampir berhasil menyusulnya.


"Sial! Dia boleh juga." Celetuk Reyan tapi membuat dahi Melia mengerut.


"Ada apa, Rey? Kenapa?" Melia masih belum sadar bahwa sosok orang yang ada di mobil bagian belakang adalah Anderson yang mengikuti Melia dari kejauhan.


Lampu kuning menyala. Reyan kembali ancang-ancang. Tapi sebelum ia kembali mengegas motornya kembali, ia melirik ke arah Anderson. Tersenyum menyeringai hingga membuat kepala Anderson kembali mendidih dibuatnya.


"Kurang ajar! Apa yang baru saja ia lakukan?!" Tangan Anderson mengepal kuat. Tangannya memegang kemudi dengan sangat erat dan bisa-bisa kemudi itu patah jika Anderson memegang kemudinya lagi.


Lalu mereka, kembali kebut-kebutan berada di tengah jalan raya.

__ADS_1


__ADS_2