
Awalnya kabur, tapi lama kelamaan semakin jelas. Berulang kali Melia mengerjap-erjapkan matanya untuk bangun dari tidur lelapnya kali ini, tapi yang ia rasakan masih pusing di seluruh kepalanya.
Rasanya masih terasa nyeri. Luka sayatan yang ada di bagian lehernya membuat Melia mendesis kesakitan kala ia semakin berusaha sadar.
Melia sendirian. Di sebuah kamar bernuansa putih dengan infus yang menancap di bagian tangannya membuat Melia kembali mengingat tentang apa yang sebenarnya sudah terjadi.
Dan rekaman itu terus berputar di seluruh ingatan Melia. Seperti sebuah kaset yang rusak hingga membuat kepalanya terasa sakit lagi. Seharian ini, Melia benar-benar melewati banyak hal. Dari mulai ia masuk ke dalam daftar hitam, diusir dari rumah, dirampok, lalu pertemuannya dengan Reyan hingga berakhir bertemu dengan pembunuh itu.
Dada Melia terasa sangat sesak. Saat ia bangun dalam keadaan sendiri seperti ini, entah kenapa ia langsung mundur ke arah belakang. Seperti sebuah gerakan refleks ketika ia langsung memeluk dirinya sendiri.
Air mata itu nyatanya masih terus saja jatuh tak tertahankan ketika Melia terus menerus mengingat kenangan menyakitkan itu. Tapi, bukan tentang bagaimana ia hampir mati di tangan pembunuh itu, melainkan ... saat Melia mengingat semua perkataan Reyan yang menceritakan semua fakta mengerikan tentang orang yang sangat ia cintai.
Anderson ...
Dan detik itu juga, terdengar suara knop pintu yang terbuka, Anderson masuk ke dalam ruangan dan sudah mendapati Melia yang bergetar, meringsut di atas ranjang.
"Melia ...?"
"Pak Anderson ...?"
Buru-buru Anderson melangkah ke arah Melia. Tatapan khawatir, haru, dan senang melihat Melia yang sudah membuka mata bercampur menjadi satu.
Ditatapnya dalam-dalam mata Melia, setitik air mata turun dari kedua mata milik Anderson.
"Akhirnya kamu sadar juga ..." tangan Anderson menelingkup wajah Melia, membelai rambut Melia dan kemudian membawa Melia ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Syukur lah kamu sudah sadar. Aku mencintaimu, aku benar-benar takut kehilanganmu."
Dan detik itu juga Melia membeku dibuatnya. Jujur, Melia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Di satu sisi, ia benar-benar merasakan kelegaan yang luar biasa bersama dengan Anderson, tapi di satu sisi ... fakta tentang Anderson ... benar-benar mengerikan.
Dan seirama dengan itu, kata-kata Reyan mulai berputar di kepalanya seperti sebuah rekaman kaset yang rusak.
Dia adalah orang yang selama ini menguntitmu, Melia. Orang yang selama ini membuat hidupku hancur, membuat Ayahku depresi, dan mengusirku dari negeri ini. Dan Anderson ... adalah orang yang hampir membunuh Boby!
Tiba-tiba Melia tersentak kaget. Tiba-tiba Melia langsung melepas pelukan itu dan menatap Anderson dengan nanar.
"Mel, ada apa ...?"
Melia kalut. Bahkan ia dibuat membeku seketika. Tangan Anderson yang mulai menyisir anak-anak rambut Melia yang terjatuh tapi entah kenapa Melia langsung menepisnya.
"M-maaf." Begitu ucap Melia sambil meremas tangannya.
Dan yang lebih parahnya lagi, Melia juga mencintai orang ini.
"Kenapa Mel?"
Melia menggeleng.
"Apa ada yang menggangu pikiranmu?" Lagi-lagi Anderson meraih wajah Melia, menelingkup wajah itu dan menatapnya dalam-dalam.
Ya Tuhan ...
__ADS_1
Melia menahan napas. Ia benar-benar kalut. Jika Anderson terus melakukan hal seperti ini, Melia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.
"Aku mencintaimu, Mel."
Dan pertahanan Melia runtuh. Ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaannya juga.
Tatapan Anderson terasa begitu tulus. Dan Melia semakin tidak tega jika terus menerus ditatap seperti ini. Pernyataan cinta itu nyatanya memang tidak pernah berbohong. Sorot mata Anderson tidak pernah mampu untuk menipunya.
"Aku juga mencintai bapak ..." dan pada akhirnya, pertahanannya benar-benar hancur berkeping-keping.
Kenapa mencintai orang bisa menjadi semengerikan ini?
Anderson memeluk Melia lagi tapi kali ini Melia ikut membalas pelukan itu. Terjatuh didada orang yang selama ini memang mencintai dirinya. Dan detik itu juga, tangisan Melia kembali pecah. Mungkin, memang hanya Anderson lah orang yang paling mengerti dirinya. Satu-satunya orang yang tahu betapa mengerikannya pembunuh itu ketika menawannya bahkan hampir memperkosanya.
Pelukan itu semakin erat tidak bisa dipisahkan, berulang kali Anderson menepuk-nepuk bahu Melia dan terus menerus menenangkan, sedangkan Melia masih terus menangis karena nyatanya, berada di pelukan Anderson memang sangat menenangkan.
Ya Tuhan ... izinkan sejenak aku merasa tenang bersamanya.
Melia berusaha mati-matian untuk sejenak saja mengubur semua pertanyaan yang terus berputar di kepalanya. Mungkin nanti ... setelah ia tenang, ia akan bertanya dengan Anderson tentang semuanya. Tapi mungkin ... tidak sekarang, karena di waktu sekarang, Melia sudah terlalu nyaman berada di dalam pelukannya.
Tuhan ... izinkan aku egois untuk beberapa saat.
"Aku mencintaimu, Melia."
Dan kata-kata itu ... yang membuat Melia semakin mempererat pelukannya.
__ADS_1
***
Gais, mampir di virgin not for sale ya... makasih