
Satu tetes air mata jatuh dari kedua sudut milik Melia. Ketika ia melihat dirinya sendiri di depan cermin, ia masih tidak percaya dengan pantulan dirinya yang berbalut dengan gaun putih, serta riasan cantik hingga membuat dirinya merasa sangat sempurna.
"Cantik,"
Dan kata itu disebutkan oleh orang yang berada di samping Melia. Tangan mereka bertautan. Anderson menyapu lembut tangan Melia seperti mengatakan bahwa semua baik-baik saja.
"Kamu gugup?"
Melia mengangguk. Mustahil kalau ia bilang tidak.
"Tenang lah. Semua akan berjalan dengan semestinya."
Kata-kata Anderson jauh lebih menenangkan. Melia jatuh lagi ke dalam pelukan Anderson dan Anderson langsung menangkapnya.
"Kamu harus tahu kalau hari ini adalah hari paling membahagiakan bagiku." Saat mengatakan itu, mata Anderson berkaca-kaca. Melihat Melia, sedang berada di depannya saat ini juga mengenakan baju pengantin, adalah hal yang tidak mampu Anderson lukiskan dengan kata-kata.
Semuanya masih terasa seperti mimpi. Kilas balik tentang masa lalu kembali muncul satu persatu. Tentang perjuangannya, tentang kebohongannya, tentang bagaimana ia tertatih-tatih untuk memiliki gadis ini dan pada akhirnya ...
Anderson berhasil.
Meski awalnya Melia membencinya setengah mati, tapi ia berhasil membuat Melia jatuh hati kepadanya.
"Aku mencintaimu, Mel."
"Aku juga cinta kamu."
Lalu mereka bergandengan tangan. Segera menuju tempat di mana mereka seharusnya berada. Penghulu sudah menunggu mereka sejak lama hingga pada akhirnya Anderson duduk, mengucapkan ikrar suci hingga suaranya bergetar dan terdengar tegas di telinga Melia.
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah!"
Dan seruan itu benar-benar membuat perasaan Anderson lega luar biasa. Perasaannya membuncah. Setelah sekian lama ia menunggu, kini Melia benar-benar menjadi miliknya.
Satu tetes air mata kembali jatuh. Anderson tidak bisa menahan perasannya ketika ia melihat wanitanya itu tersenyum lebar kala menatapnya. Pun dengan Melia, setelah semua hal yang sudah mereka lewati, akhirnya ia memasrahkan dirinya dengan laki-laki ini.
__ADS_1
Mereka kemudian saling menautkan cincin di jari manis mereka. Anderson segera menyium kening itu dibarengi dengan suara riuh tamu undangan yang bertepuk tangan ikut berbahagia dengan pernikahan mereka yang pada akhirnya terlaksana juga.
Seluruh karyawan, kolega, saudara, kerabat jauh mau pun dekat hadir dalam pernikahan ini. Anderson dan Melia saling menautkan tangan, memeluk beberapa teman dan saudara mereka satu persatu untuk mengucapkan terima kasih atas doa dan dukungan yang tidak pernah berhenti sampai sekarang ini.
"Selamat Mel."
"Terima kasih, Ros."
Kini giliran Rosa yang ikut berbahagia. Melia juga ikut membalas pelukan itu. Tapi setelah itu, Melia menoleh ke kanan dan ke kiri seperti mencari seseorang. Sedangkan Rosa langsung tahu siapa yang saat ini Melia cari.
"Maaf, tapi Reyan tidak bisa datang ke sini."
Melia menggigit ujung bawah bibirnya sendiri. Jelas dia masih merasa bersalah dengan Reyan. Orang yang saat ini adalah orang yang paling tersakiti setelah Rosa.
"Ros, bisa kah kamu titip salam permintaan maafku?"
"Berbahagialah Mel. Jangan pikirkan masalah lain disaat kau menikah seperti ini."
Saat mereka berbincang seperti ini, bagi Anderson, dia juga merasa kosong. Disaat-saat bahagia seperti ini, bukan kah biasanya akan ada Frans yang ikut dalamnya? Namun sekarang, bahkan mendengar kabar tentangnya saja Anderson tidak tahu.
"Mel ..."
Lalu, pesta berjalan dengan semestinya. Beberapa tamu undangan kini menyebar untuk menikmati hidangan para koki yang tersebar di seluruh penjuru. Ada puluhan pos makanan. Semua bisa mengambil makanan tergantung dengan selera mereka masing-masing.
"Kamu bahagia, Mel?"
"Pertanyaan macam apa itu?"
Anderson terkekeh.
"Percaya lah. tidak ada hal yang jauh lebih membahagiakan kecuali hari ini."
Senyuman dari Melia lagi-lagi membuat Anderson tenang. Kini, mereka berjalan beriringan. Dengan degup jantung yang bergemuruh ketika ia akan memasuki kamar hotel mereka.
Wajah Melia memucat, Anderson pun tahu akan hal itu. Ketika knop pintu berhasil dibuka, sungguh, Melia seperti ingin kabur saat ini juga.
__ADS_1
Melia gelagapan. Dengan cepat, Anderson segera menangkap Melia. Meraih tangan itu dan memaksanya masuk ke dalam kamar.
"Menurutmu, setelah kita sudah menikah seperti ini, aku akan mudah untuk melepaskan mu, Mel? Ha ha ha."
"K-kamu mau apa?!"
"Pertanyaan bodoh! Malam pertama kita tentu saja! Kita sudah menikah." Anderson menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Menatap ke arah Melia dengan tatapan yang ...
Astaga! Muka Melia merah padam.
Anderson tertawa melihat reaksi yang telah diberikan oleh Melia. Ia kembali menarik tangan Melia lagi lalu menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
Keringat dingin mulai bercucuran. Melia menahan napas saat Alexander mulai menjelajah seluruh tubuhnya. Detak jantungnya bergemuruh hebat. Sementara tangan Anderson kini mulai membuka resleting bagian belakang Melia dengan sangat cepat.
Namun sentuhan itu terasa sangat hangat, perlahan-lahan ketegangan dari tubuh Melia mulai mengendur secara perlahan. Ketika Anderson mulai mengecup bibir itu, rasanya Melia juga ikut mengikuti arahan yang diberikan oleh Anderson.
Lagi pula, mereka sudah sepasang suami istri. Tatapan penuh hasr*t kini terpancar dari kedua sudut mata milik mereka. Anderson semakin menciumi Melia dengan napas yang tidak dapat dikendalikan.
Panas. Kulit mereka mulai panas dan mendamba satu sama lain. Tangan dan bibir mereka sudah tidak dapat dikendalikan lagi, namun tiba-tiba ...
Terdengar langkahan kaki yang terdengar dengan keras. Suara gedoran pintu terdengar berulang kali hingga mereka melebarkan mata.
"Tuan! Tuan Anderson!"
Sial!
Sedang apa anak buahnya itu berada di luar ruangan!
Niat Anderson ingin memarahi mereka habis-habisan. Turun dari atas ranjang dan membuka pintu itu dengan amarah yang meletup.
"Ada apa ini?!"
"Maaf, Tuan. Tapi kamu harus memberi tahu ini kepada Tuan. Seluruh tamu undangan, maksud kami hampir seluruh tamu undangan yang hadir mengalami keracunan dan mereka semua sedang menuju rumah sakit!"
"APA?!"
__ADS_1
Tidak hanya Anderson yang kaget, namun Melia yang ikut mendengar itu semua juga ikut kaget mendengar semua pemberitaan itu.
***