
Anderson dan ke lima pengawalnya sudah berada di atas, beberapa pengawal langsung menodongkan pistol ke arah sosok itu dan langsung menjambak rambut Melia dan menarik ke arahnya.
"Jangan mendekat atau aku akan benar-benar akan mengiris leher perempuanmu." Ucapan itu berhasil membuat Anderson mati kutu. Sementara Melia semakin menangis terisak ketakutan.
"Jangan macam-macam atau aku benar-benar akan membunuhnya!"
Dahi Anderson mengernyit dibuatnya, melihat Melia yang tampak ketakutan seperti itu mampu membuat jantungnya diremas begitu saja. Demi apa pun! Anderson tidak tega melihat Melia menangis seperti itu.
"Melia ..."
Melia terisak tapi sosok itu semakin mengacungkan pisau itu ke leher Melia.
"Turunkan pistol itu atau aku akan nekat!"
Mendengar ancaman itu, Anderson semakin tidak bisa apa-apa. Anderson tidak berani mengambil resiko kalau sosok itu melakukan hal yang membuat Melia kenapa-kenapa. Untuk itu, Anderson langsung mengangkat tangannya, menyuruh pengawalnya untuk menurunkan pistol yang mereka bawa.
Sosok itu masih menatap tajam ke arah semuanya.
"Angkat tangan kalian!"
Dan lagi-lagi, Anderson menyuruh para pengawalnya untuk melakukan apa pun yang dia minta.
Ha ha ha. Dan saat ini, sosok itu tertawa terbahak-bahak. Ia sudah merasa menang ketika melihat Anderson sang penguasa itu bertekuk lutut di depannya.
"Jadi ... kamu memang begitu mencintai perempuan ini, eh? Sampai-sampai kamu ketakutan melihatnya kenapa-kenapa."
Anderson membeku, sedangkan Melia mulai mengerjapkan matanya karena pisau itu terus menerus menyentuh wajah dan lehernya.
"Aku jadi penasaran ... bagaimana kalau aku mengiris sedikit wajahnya."
"JANGAN MACAM-MACAM!"
Ha ha ha. Sosok itu kembali tertawa.
"Apa maumu?! Katakan! Aku akan memberimu apa pun asal kamu mau membebaskannya."
"Ha ha ha. Kamu tahu apa yang aku maksud rupanya ..."
"Katakan! Apa yang kamu mau?!"
"Kamu memang pintar, kalau begitu aku butuh uang satu milyar sekarang juga!"
"Apa?!"
"Kenapa?! Kenapa tiba-tiba kamu kaget?! Jumlah uang itu, bukan kah kecil bagimu?!"
Anderson menggertakkan giginya. Sosok ini benar-benar memeras dirinya ...!
"Atau ... kamu memang memilih wajah perempuan ini berdarah?"
"Tidak! Jangan! Aku akan mengirim uang itu sekarang juga!"
Ha ha ha. Sosok itu lagi-lagi tertawa penuh kemenangan.
"Aku janji akan mengirim uang ke rekeningmu sekarang! Jadi, bebaskan Melia sekarang?!"
"Tidak, apa kamu pikir aku bodoh?! Bisa saja kamu langsung memblokir rekening yang sudah kamu kirim. Aku butuh uang tunai sekarang juga!"
"Apa?!"
Dia benar-benar ...! Anderson semakin meremas tangannya kuat-kuat.
__ADS_1
"Kenapa Anderson ...? Itu sudah sebanding dengan apa yang sudah kamu lakukan kepadaku di masa lalu? Apa kamu tidak tahu bagaimana menyedihkan penjara saat aku menggantikanmu ..."
"Stop! Oke, baik lah! Aku akan memberimu uang sekarang juga!"
Ha ha ha.
"Beri aku waktu dua puluh menit agar aku bisa mengambil uang itu."
"Well, well, baik lah."
Anderson kemudian memanggil salah satu pengawalnya, menyuruhnya untuk segera pergi ke kantornya untuk mengambil uang itu ke dalam brankas ruangannya.
Begitu pengawal itu mengangguk, dia segera berlari untuk menuruti apa yang dikatakan oleh tuannya itu.
Dan sekarang, situasi semakin mencekam. Melia semakin terisak ketakutan dan Anderson harap-harap cemas menanti pengawalnya datang kembali dengan membawa uang.
"Jadi, seperti ini kah obsesimu pada wanita ini?"
"Aku sudah cukup bersabar, tapi sekretarismu Bram benar-benar membuatku marah!"
Anderson mengernyit.
"Dia sama sekali tidak menanggapi pesanku. Apa kamu yang menyuruhnya untuk mengabaikanku?"
Dan ucapan itu lagi-lagi membuat Anderson menahan napas. Anderson sama sekali tidak memberinya perintah tentang itu. Dan Bram ...? Dia pasti akan melaporkan hal sekecil apa pun padanya. Tapi ...
"Katakan padanya untuk jangan macam-macam denganku! Atau aku akan merobek ..."
Melia semakin mengerjapkan matanya, tangannya semakin gemetar ketika pisau itu terus menerus meneliti setiap jengkal lehernya. Melia terisak, bahkan, sedari tadi Melia tidak berani untuk bergerak sedikit pun.
"Aku sudah katakan untuk menuruti semua ucapanmu! Jangan, aku mohon jangan membuatnya takut."
Sosok itu terkekeh. "Sebegitu cintanya kamu padanya, eh?"
Tanpa sengaja mata Melia dan Anderson bertemu, sorot mata ketakutan benar-benar terpancar jelas hingga Anderson merasa iba. Tangisan itu benar-benar menyakiti hati Anderson.
Anderson mengangguk satu kali, sebuah tanda bagi Melia bahwa semua akan berakhir baik-baik saja. Sedangkan Melia, hanya bisa mempercayai semua ucapan Anderson, bahwa Anderson akan membebaskannya apa pun yang terjadi.
Hingga sampai pada suatu ketika pengawal Anderson kembali datang dengan membawa dua buah koper lalu diserahkan kepada Anderson. Secepat kilat, Anderson langsung membuka koper-koper itu, memperlihatkan kepada sosok itu oleh setumpukan uang yang ia minta.
"Cepat berikan padaku!"
Anderson menenteng dua buah koper itu ke arah dirinya. Meletakkan koper-koper itu di bawah kaki sosoknya.
"Angkat tanganmu!"
Dengan cepat Anderson mengangkat tangannya.
"Sekarang! Semua orang harus melangkah dua puluh mundur ke belakang."
"Tapi ..."
"Apa kamu pikir aku bodoh?! Kamu bisa saja menyerangku terlebih dulu kan?"
Sial!
"Tendang semua pistol itu dan mundur ke belakang, CEPAT!!!"
Dan untuk ke sekian kalinya Anderson mau tidak mau menuruti semua perkataannya. Nyawa Melia sedang dipertaruhkan dan Anderson benar-benar tidak bisa mengambil resiko.
Melia semakin ketakutan. Dan saat ini ... nasibnya akan benar-benar dipertaruhkan. Melia sungguh tidak tahu apakah pembunuh ini akan benar-benar menepati janjinya atau tidak.
__ADS_1
"Hei, Melia ... betapa beruntungnya kamu. Tapi ..."
Tangan Melia semakin gemetar, kata tapi itu entah kenapa terasa mengerikan.
Begitu sosok itu melihat bahwa Anderson dan semua pengawalnya benar-benar sudah jauh, ia tersenyum lebar. Ia melirik ke tanah di bawahnya, begitu ia mengambil koper itu, ia bisa melompat turun ke bawah dan segera melarikan diri.
"Kamu takut ..."
Melia semakin gemetar.
"Mereka sudah jauh dari posisimu. Aku bisa sedikit bermain-main padamu."
Melia menggeleng.
"Aku akan membuat sedikit kenang-kenangan."
Slash!!!
Melia memekik kesakitan. Sosok itu menggores tangan Melia hingga darahnya langsung bercucuran keluar dengan begitu deras.
"MELIA!!!"
Anderson berteriak, sementara sosok itu langsung melompat dengan membawa dua buah koper itu.
Ha ha ha.
Melia terjatuh, seluruh tubuhnya langsung lemas seketika. Sendi-sendinya sudah tidak mampu lagi menahan beban tubuhnya. Rasa sakit, nyeri berkumpul menjadi satu ketika Melia menyadari ada begitu banyak darah keluar dari tangannya.
"Melia ...?"
Melia menangis tersedu-sedu. Ketakutan benar-benar menyergapnya, dan saat melihat Anderson, napas kelegaan langsung masuk ke dalam paru-parunya.
Anderson meraih tubuh Melia. Sementara Melia langsung memeluk Anderson kuat-kuat. Menangis di dadanya dengan penuh ketakutan.
"Tenang, sudah tidak apa-apa."
Melia masih terus menangis. Ia masih meraih tubuh Anderson dan berharap kalau pelukan itu bisa bertahan sedikit lebih lama lagi. Melia benar-benar masih trauma dengan apa yang terjadi padanya.
"Melia tanganmu ..."
Tapi, Melia menggeleng. Rasa sakit ini belum ada apa-apanya dibandingkan nyawanya yang hampir hilang.
"CEPAT TEMUKAN DIA APA PUN YANG TERJADI?! DAN BAWA DIA KE HADAPANKU!"
"Baik Tuan."
Kelima pengawal itu mengangguk dan segera mencari sosok itu yang mungkin masih belum jauh dari sini.
"Mel ..."
"Maafkan aku ..."
Melia masih menangis tapi Melia masih tidak mau melepas pelukan ini. Sungguh. Pelukan Anderson benar-benar menenangkan, dan Melia tidak bisa melepas pelukan ini sekarang.
"Melia. Tanganmu ..."
Tapi sedetik kemudian, Anderson merasakan pelukannya melonggar begitu saja.
"Mel?"
Begitu Anderson meraih tubuhnya, ia baru menyadari bahwa mata Melia sudah terpejam.
__ADS_1
"Melia, Melia ... Melia ..."