
"Apa yang anda lakukan?" Mata Melia melebar ketika Anderson mengatakan suatu hal final kepada Melia.
"Ya, sudah kubilang kamu harus resign dari tempat itu." Anderson masih memasang wajah tidak perduli, ia membenarkan dasinya ketika mereka berdua sudah berada di depan rumah. Sementara Bram, sudah berada di ujung jalan bersama dengan mobil porsche hitam yang entah sejak kapan datangnya.
"Tapi aku harus menghidupi diriku sendiri."
"Wanitaku tidak akan pernah kuizinkan bekerja. Lagi pula sepuluh menit yang lalu Bram sudah mendatangi bosmu dan sudah mengatakan kalau kamu keluar dari tempat itu."
"Jahat sekali ..."
"Itu tempat material yang benar-benar membahayakan."
Melia menghela napas. "Aku tetap harus mencari perkerjaan yang lain."
"Oke, kalau kamu tetap kekeh untuk bekerja, kembali lah ke tempatku."
"Apa?"
"Tidak ada pilihan lagi, Melia. Dan sekarang, cepat ganti bajumu kita akan berangkat sesegera mungkin."
"Tapi."
"Kuhitung sampai tiga kalau kamu tetap ngeyel, mau tidak mau aku harus menggendongmu sekarang juga."
"Apa? Dengan baju tidur seperti ini?"
"Satu ... dua ..."
"Sial!"
***
Bram saat ini melirik ke arah Tuannya yang sekarang berjalan ke arahnya. Sungguh. Sampai sekarang pun, Bram masih tidak percaya ketika pada akhirnya Tuannya ini keluar dari rumah itu tanpa harus mengendap-endap lagi.
"Sepertinya hubungan anda sudah banyak mengalami kemajuan, Tuan."
Anderson membalas senyuman yang diberikan oleh Bram. Selama ini, mungkin hanya Bram lah saksi hidup betapa Anderson tergila-gila dengan gadis itu.
"Ya, tapi aku belum sepenuhnya memiliki dia sepenuhnya."
"Sudah saya katakan untuk memperkosanya saja dan buat dia hamil anak Tuan. Untuk itu, dia tidak akan pernah bisa melarikan diri."
Anderson melenguh. "Kamu tahu aku tidak bisa menyakitinya, kan? Dan dia, bukan tipe wanita murahan yang menuntutku untuk bertanggung jawab."
Bram mengernyit.
"Kalau kamu berada di posisiku, apa itu yang akan kamu lakukan?"
"Tentu saja."
Anderson kembali mengernyit. "Kamu lebih membahayakan dari pada aku rupanya. Sebaiknya perempuan yang kamu cintai harus benar-benar waspada denganmu."
Tapi pembicaraan mereka terhenti ketika sosok perempuan itu keluar dari dalam rumahnya, Melia tengah berjalan ke arah Anderson dan Bram langsung dengan sigap membukakan pintu untuk mereka berdua.
"Bram, jangan lupakan dosa. Kamu paham surga dan neraka."
"Jadi sekarang? Anda sudah berubah agamis Tuan?"
__ADS_1
"Eh?" Hanya Melia yang tidak tahu arah pembicaraan mereka. "Memangnya kalian sedang membicarakan apa? Kenapa tiba-tiba mengatakan hal seperti itu?"
"Ah, tidak sayang ... Bram hanya menyuruhku untuk menidurimu dan hamil anakku agar kamu tidak bisa lepas dariku."
"Apa?!" Mata Melia membelalak hebat.
Bram dan Anderson kemudian tertawa terbahak-bahak setelahnya, dan mungkin, hanya Melia yang sedang tampak bodoh sekarang ini.
Mereka tidak tahu, bahwa sedari tadi ada yang mengendap-endap menatap ke arah mereka. Reyan mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Menatap ke arah Melia yang masuk ke dalam mobil Anderson dengan suka rela.
Sesaat kemudian, Reyan mengumpat. Ia kemudian menyalakan motornya lagi dan pergi dari tempat ini.
***
"Aku turun di sini saja ..."
Bram melirik ke arah spion, tapi Anderson segera menggeleng supaya Bram tidak menuruti perintah Melia turun di tepi jalan.
"Kenapa situasinya sama seperti dulu?"
"Dulu kamu masih belum mengakui aku kekasihmu, sekarang kamu sudah mengakui kalau aku pacarmu jadi mari kita turun dan memamerkan kemesraan kita."
"M-maaf, tapi aku belum siap."
"Aku tidak butuh jawabanmu, Melia."
"Tapi, bisa kah saya di sini bekerja dengan tenang? Aku tidak mau semua orang memandangku sebagai pacar anda. Aku hanya merasa ..."
"Bram, jangan perdulikan Melia. Tugasmu sekarang, umumkan ke semua orang kalau Melia adalah kekasihku. Aku mau semua orang harus hormat padanya."
"Jangan."
"Ini agak sedikit memalukan ..."
"Jadi menurutmu? Berpacaran denganku memalukan?"
"Aku mohon, jangan bicara apa-apa dengan semua orang. Aku hanya ... ingin bekerja secara tenang," pinta Melia.
Anderson mendengus. "Kamu wanitaku, sudah sepatutnya mereka tahu kalau kamu adalah pacarku."
Dan lagi-lagi Melia menggeleng. Hingga sampai suatu saat, mobil mereka telah sampai di depan gedung yang menjulang tinggi ke atas.
Anderson langsung menarik tangan Melia, sepertinya Anderson mengabaikan permintaan Melia agar Anderson tidak menunjukkan hubungan mereka di depan umum.
"Pak? Sudah aku katakan jangan seperti ini."
"Kenapa Melia? Aku hanya menggandeng tanganmu. Aku sudah menurutimu agar Bram tidak mengumumkan ini di depan umum."
"Tapi dengan anda menggandeng tangan saya, bukan kah itu sama saja?"
Anderson terkekeh. Mengabaikan pembicaraan mereka dan kini menarik tangan Melia untuk masuk ke dalam gedung. Membuat semua orang lagi-lagi gempar akan tindakan Melia dan Anderson seperti itu.
Di sudut sana, ada Rosa yang tersenyum kecut memandang ke arah mereka. Dia kalah, sudah sangat jelas kalah. Hari ini, mungkin dia juga harus merelakan jabatannya sebagai sekretaris karena Melia sudah kembali.
Rosa menarik napas panjang. Munafik kalau Rosa tidak iri dengan Melia. Tapi mau bagaimana lagi ...? Anderson jauh lebih memilih Melia dibanding dirinya kan?
"Kenapa menangis lagi? Ingusmu membuatku ingin muntah."
__ADS_1
"Eh?" Rosa kaget. "Pak Bram?"
"Sedang patah hati?"
"Eh?"
"Oke. Kalau begitu aku tidak ingin mengganggumu."
Rosa menarik napas. "Kenapa ada laki-laki menjengkelkan seperti anda?"
Tapi Bram hanya berjalan sambil lalu, tapi tiba-tiba, langkahannya terhenti saat ia seperti melihat sesuatu.
Ketika di seberang sana ada Anderson dan Melia yang sedang menimbulkan kegemparan, ada sosok laki-laki lain yang mengamati mereka dalam diam.
Laki-laki bertato yang Bram sangat kenal. Bahkan, Anderson juga pasti sudah paham akan sosoknya.
"Sial, kenapa dia datang lagi?! Padahal aku sudah pastikan kalau aku membayarnya dengan begitu mahal."
"Apa anda bilang? Anda baru saja mengumpati saya?" Sepertinya Rosa salah paham.
Rosa berlari mengejar Bram, tapi tiba-tiba, Bram membekap mulut Rosa.
***
Sial! Anderson benar-benar memberikan kegemparan baginya di hari pertamanya bekerja setelah resign.
"Kenapa Mel?"
"Ah, Ros." Melia kaget akan kedatangan Rosa kali ini. Di sebuah kafetaria kantor dan Rosa sedang membawa nampan berjalan ke arah Melia yang sedari tadi menepuk-nepuk kepalanya.
"Kamu sakit?" Rosa mendekat.
"Ah, tidak. Hanya saja ...." Melia melihat ke seluruh kafetaria kantor. Semua orang menatapnya dengan tatapan intens dan juga dalam.
"Ha ha ha. Wajar saja. Kamu kan pacar bos besar di perusahaan ini."
Melia melenguh, ia menatap ke arah Rosa yang tampaknya baik-baik saja saat bersamanya. Ia kemudian duduk dan menaruh nampan itu di sisi Melia.
Dan melihat Rosa baik-baik saja seperti itu, malah membuat Melia merasa bersalah. Apa lagi kemarin ...
"Rosa ... masalah kemarin aku ..."
Belum selesai Melia mengatakan hal itu, tiba-tiba ada seseorang yang membuatnya terhenyak kaget. Seorang laki-laki bertato yang tanpa sengaja Melia juga ikut melihatnya di ujung kafetaria.
"Astaga." Melia benar-benar syok sekaligus kaget.
Laki-laki itu ...!
Sosok laki-laki yang sangat Melia kenal.
Buru-buru Melia meninggalkan Rosa sendirian di sini, dengan secepat kilat ia berlari ke arah sosok itu. Sosok orang yang dulu membunuh orang tuanya.
Tapi kosong.
Begitu Melia berlari, ia tidak menemukan sosok laki-laki itu lagi.
"Tidak, tidak. Aku pasti salah lihat. Dia masih ada di penjara kan? Dia dihukum delapan tahun penjara, dan sekarang, baru lima tahun setelah kecelakaan itu."
__ADS_1
"Ya, aku salah lihat. Dia pasti masih berada di dalam penjara."