Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
KECUPAN


__ADS_3

Anderson seketika membeku mendengar pengakuan yang baru saja dikatakan oleh Melia di depannya kali ini. Matanya menatap tajam, giginya gemeletuk karena masih belum percaya dengan apa yang baru saja ia dengar tadi.


Ya ... setelah sekian lama ...


Sementara Melia, tidak mampu berucap lagi. Ia sendiri pun juga masih tidak percaya kenapa ia bisa mengatakan hal ini kepada Anderson. Perasaannya sudah tidak mampu ia tangguhkan. Melihat Anderson bersama dengan wanita lain, nyatanya memang menyakitkan. Bahkan, Melia baru sadar kalau dia baru saja menangisi Anderson.


Mereka terdiam membisu satu sama lain. Masing-masing dari mereka membeku, tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Hanya bisa saling menatap tanpa mau melakukan apa-apa.


Tapi, Melia tidak ingin merasa menyesal untuk yang kedua kalinya. Tiba-tiba ada sebuah rasa yang mendorongnya untuk melangkah maju, dan Melia membiarkan itu. Ia melangkah mendekat ke arah Anderson dan tiba-tiba saja ia langsung meraih tubuh Anderson hingga berakhir ...


Memeluknya.


Anderson mati kutu dibuatnya. Saat tubuh Melia benar-benar menempel di tubuhnya ia benar-benar masih belum percaya.


Perempuan ini ... selama bertahun-tahun ia mengejarnya, pada akhirnya Anderson berhasil membuat Melia jatuh ke dalam pelukannya.


Aromanya benar-benar memabukkan. Bau yang selama ini ia sesap setiap malam tanpa kesadaran.


"Mel-lia ...?"


"Tolong sebentar saja. Saya hanya ingin memastikan tentang satu hal," begitu ucap Melia ketika ia malah semakin mempererat pelukannya.


Melia berharap bahwa perasannya adalah salah. Ia tidak mungkin jatuh cinta dengan Anderson. Tapi ternyata, jantung Melia malah semakin berdegup kencang, hatinya berdesir tidak karuan, rasa ingin terus berada di sampingnya seperti bohlam lampu yang sekarat hingga terus membutuhkan pertolongan.


Tidak. Melia benar-benar tidak bisa berbohong lagi. Ia sudah tidak mampu menampik semua perasaan yang ada. Satu-satunya hal yang mungkin dapat membantunya adalah mungkin, dengan membuat Anderson terus berada di sampingnya.


"Sepertinya saya mencintai Bapak ..."


Dan kata-kata itu berhasil membuat Anderson syok setengah mati. Matanya membelalak hebat ketika dihadapkan oleh rentetan kalimat itu.


Setelah sekian lama ...


Buru-buru Anderson melepaskan pelukan itu, langsung menelingkup wajah Melia dengan kedua tangannya karena masih tidak percaya dengan apa yang terus terusan dikatakan oleh Melia.


"Maaf, seharusnya saya tidak menjadi orang yang munafik sedari awal, tapi ... apa saya sudah terlambat?" Suaranya serak seperti ingin menangis lagi.


"Apa saya benar-benar sudah terlambat karena Bapak sudah bersama dengan perempuan lain?" Kata-katanya tertahan. Melia mulai berkaca-kaca lagi.


"Apa yang kamu katakan ...?"


"Bapak sudah jatuh cinta dengan perempuan lain."


"Bulshit." Tiba-tiba saja Anderson mengatakan itu. "Siapa yang mengatakan omong kosong itu, Melia?"


"Tadi anda bersama dengan ..."


"Rosa?"


Melia mengangguk dengan Anderson yang masih menelingkup wajahnya.


"Semua hanya pura-pura."


"Maksud Bapak?"


"Hanya kamu wanita satu-satunya di hidupku, Melia. Tidak ada siapa pun lagi. Aku mencintaimu dengan segenap jiwaku. Aku rela melakukan apa pun untuk mendapatkanmu. Jadi, jika kamu berpikir aku berpaling darimu, itu semua omong kosong."


"..."

__ADS_1


Sungguh. Melia berhasil menjadi perempuan yang paling bahagia saat ini. Kata-kata Anderson berhasil membuatnya tergila-gila, semua ucapannya memabukkan hingga membuat Melia kembali menangis dibuatnya.


"Aku jatuh cinta padamu, Mel."


"Saya juga jatuh cinta dengan Bapak."


Dan pada akhirnya, semua pertahanan mereka runtuh. Tidak ada yang bisa melukiskan perasaan mereka saat ini. Tawa dan haru melebur menjadi satu. Mereka tersenyum satu sama lain ketika pada akhirnya mereka saling mengakui perasaan, bahwa mereka memang saling mencintai.


Anderson kembali memeluk Melia. Semua usahanya nyatanya tidak sia-sia. Di raihnya wajah Melia, semua hal yang ada di dalam Melia, adalah benar-benar miliknya.


Senyum mereka masih merekah satu sama lain. Kini, Anderson meraih tubuh Melia kembali dan memeluk Melia erat-erat.


***


"Teh atau kopi?"


Pukul empat pagi dan mereka masih terjaga. Duduk di sebuah sofa panjang dan hanya ditemani oleh lampu yang remang-remang.


Setelah semua hal yang terjadi, rasanya aneh bukan mereka bisa bersama seperti ini?


Melia masih kikuk dengan adanya Anderson saat ini. Setelah pengakuan mereka, Melia malah merasa agak canggung berada di dekat Anderson.


"Aku tidak butuh kopi atau teh," ucap Anderson dan tiba-tiba meraih rambut Melia dan menciumnya. Sedari tadi, Anderson hanya memandang ke arah Melia tanpa mengalihkan tatapannya hingga membuat Melia semakin canggung.


"Emm, kalau begitu. Bapak ingin makan apa?"


"Aku tidak lapar. Tapi, satu-satunya hal yang ingin aku makan adalah kamu."


Dan ucapan itu berhasil membuat Melia terhenyak. Kata-katanya seirama dengan tangan Anderson yang tiba-tiba meraih lagi tubuh Melia hingga jatuh ke dalam pelukannya.


Dan mungkin saja, hanya Anderson di sini yang sama sekali tidak merasakan canggung sedikit pun. Ia masih sama menjadi laki-laki mesum nan bajingan yang mengikat Melia tidur dengan melingkarkan kakinya di tubuh Melia.


"Menurutmu, setelah kamu mengatakan kalau kamu cinta padaku, aku akan melepaskanmu dengan begitu mudah? Oh, tentu saja tidak."


Anderson terkekeh sedangkan Melia kelabakan melepaskan pelukan itu.


Tapi pada akhirnya Melia menyerah. Ia membiarkan saja Anderson mempermainkannya karena jika tidak, Anderson bisa-bisa akan melakukan hal yang lebih buruk dari ini.


"Kenapa kamu jatuh cinta padaku, Mel?"


"Saya tidak tahu." Melia menggeleng dengan kondisi tubuh masih di atas Anderson.


"Kalau begitu sejak kapan?"


"Saya juga tidak tahu."


Anderson melenguh kecewa. "Aku jadi ragu."


"Ragu tentang?"


"Buktikan kalau kamu cinta padaku." Tiba-tiba Anderson mengatakan akan hal itu.


"Apa?"


"Buktikan." Perintah Anderson yang malah membuat Melia semakin kebingungan.


"Bagaimana saya harus membuktikannya?"

__ADS_1


Lagi-lagi Anderson melenguh kecewa. Dan melihat wajah Anderson berubah seperti itu, entah kenapa membuat Melia sedih.


Melia berdehem sejenak. Lalu tiba-tiba Melia mengelus kerutan yang ada di dahi Anderson, dan dengan gerakan tiba-tiba, Melia langsung mencium bibir Anderson.


Satu detik, tapi langsung membuat Anderson membeku dibuatnya.


Astaga! Apa yang baru saja aku lakukan?!


Melia kaget dengan apa yang baru saja ia lakukan. Melia membungkam mulutnya sendiri, dan melihat reaksi yang diberikan oleh Anderson.


Tidak disangka-sangka, Anderson juga ikut syok dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Melia. Tubuhnya langsung terasa panas, efeknya seperti terbakar oleh api yang membara hingga tiba-tiba Anderson langsung mendorong Melia jauh-jauh dari dirinya.


Anderson langsung berdiri. Dan jujur, itu membuat Melia kaget dengan perlakuan itu. Melia sedikit kecewa karena Anderson ternyata tidak menyukainya.


Melia berdiri dan melangkah mundur dari sisi Anderson, sedangkan Anderson juga melangkah pergi sejauh mungkin dari sisi Melia.


Melia menahan napas.


Apa sebegitu tidak sukanya Anderson terhadap dirinya tadi?


"M-maaf."


"Bukan, Melia." Anderson malah mengusap-usap mukanya. "Bukannya aku tidak menyukainya. Tapi ..."


"Tapi apa?"


"Aku hanya takut ... jika aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Kamu tahu kalau aku tidak bisa menyakitimu."


Melia menahan napas. "Jadi?"


"Saat kamu menciumku, efeknya begitu kuat. Aku harus pergi, Mel. Maaf. Aku hanya takut jika aku tidak bisa menahannya dan malah berakhir menyakitimu."


Mia menelan salivanya pasrah. Tiba-tiba saja ia melihat ke arah Anderson dari bawah sampai atas.


"Jadi bukan karena Bapak tidak menyukai saya?"


"Tentu saja bukan. Aku hanya takut kalau aku tidak bisa mengendalikan diriku."


Dan semua perkataan Anderson malah membuat Melia ikut terasa panas. Jantungnya bergemuruh hebat oleh semua kata-kata itu. Dan entah karena dorongan apa, Melia malah kembali melangkah ke arah Anderson.


Sungguh. Melia mungkin sudah gila.


Tepat di hadapan Anderson, Melia tersenyum. Menatap dalam-dalam wajah itu dan berjinjit untuk mencium bibir Anderson selama beberapa detik.


Satu ... dua ... tiga.


Tepat di detikan ketiga, Melia melepaskan ciuman itu.


"Maaf, Pak. Saya hanya penasaran apa yang akan Bapak lakukan jika saya mencium Bapak lagi seperti ini."


"****!!!"


Anderson mengumpat. Ia langsung menarik tangan Melia dengan sangat keras, masuk ke dalam kamar dan mendorong tubuh Melia jatuh ke atas ranjang.


***


*Halo, selamat datang kembali. Maaf off dua hari. Hehe, ditunggu komen dan klik tombol suka ya...

__ADS_1


jika kalian suka, tolong tinggalkan jejak. thank love u. oiya mohon maaf belum bisa balas komen kalian satu satu.. huhuhu.. maafkan aku didunia nyata aku juga seorang ibu buat anakku ;) jadi agak sibuk dan riweh, tapi aku baca kok semuanya.


makasih saran dan pesannya ya.. love u*


__ADS_2