
Dan di sini, Anderson menggenggam erat tangan Melia. Mengecup punggung tangan Melia berulang kali saat ia masih pingsan terlelap dalam tidurnya.
Bayangan tentang kenangan masa lalu tiba-tiba kembali berputar di kepalanya. Melihat perempuannya terluka, lagi-lagi membuat hatinya sakit hingga tersiksa.
"Bangun, Mel ..."
Bisikan itu menerus keluar dari mulut Anderson. Melia tidak tahu kalau sedari tadi Anderson tidak bisa menghentikan air matanya. Dulu, saat Melia pulang dari bersimpuh di makam orang tuanya, diam-diam Anderson juga mengunjungi makam itu, berjanji kepada kedua orang tuanya untuk menjaga Melia apa pun yang terjadi.
Tapi sekarang ... Anderson merasa gagal setelah ia melihat luka sobekan di bagian leher Melia.
"Kenapa dia masih belum sadarkan diri?" Anderson menatap ke arah Melia dengan putus asa. Jarum infus yang menancap di bagian tangan kirinya juga semakin membuat Anderson menderita.
"Kami memberinya obat penenang, Tuan. Nona Melia sangat syok."
Anderson mengangguk. Ia menghela napas sebentar sebelum akhirnya ia bangkit. Keluar menemui pengawalnya yang sedari tadi berdiri di depan pintu.
"Ya, Tuan."
"Cari dia sampai dapat. Beri dia pelajaran atas apa yang telah ia lakukan kepada Melia. Selama ini, aku sudah bersikap lunak dan menolerir sifatnya karena dia sudah menggantikan aku di penjara. Tapi kali ini, ketika dia melanggar janjinya bahkan menyakiti Melia, aku tidak bisa menolerir sifatnya lagi."
"Cari dia sekarang juga. Kalian harus menyeretnya di depan kakiku hidup atau mati."
"Ya Tuan."
Saat Anderson akan berbalik, ia menatap lorong rumah sakit yang lengang. Seharusnya Bram sudah ada di sini sejak sedari tadi. Tapi ...?
Tiba-tiba ucapan dari sosok itu kembali berputar di kepalanya. Dia mengatakan bahwa Bram telah mengabaikannya, bahkan sampai sekarang pun Bram tidak memberinya kabar sama sekali.
Bram, ada apa dengannya akhir-akhir ini?! Pekerjaan yang biasanya ia susun rapi agak sedikit berantakan beberapa waktu belakangan.
Tiba-tiba Anderson berbalik lagi.
"Cari tahu di mana Bram sekarang. Apa yang dia lakukan dan apa yang sudah membuat pekerjaannya semua berantakan?"
***
Tengah malam dan Rosa menangis sesenggukan. Ia meringkuk di sudut sana dengan derai air mata yang tidak bisa berhenti sedari tadi.
Bram telah melakukan kesalahan besar, dan ia sudah berdiri di sana, mengambil minuman berwarna cokelat pekat sambil mengambil putung rokoknya.
__ADS_1
"Kamu jahat sekali ..."
Rosa benar-benar merasa menjadi orang paling hina di dunia ini. Laki-laki itu telah merusak kehormatannya. Mencurinya dengan paksa dengan sangat kurang ajar.
Mendengar kata itu, Bram menoleh, ia hanya menyipitkan mata sebentar sebelum akhirnya ia kembali menghisap rokoknya lagi.
"Aku mencintaimu, Rosa. Aku menginginkanmu."
"Itu bukan alasan."
Bram hanya mengangkat bahunya sebentar. "Kamu tidak perlu takut, aku akan bertanggung jawab."
Rosa kembali menangis sesenggukan. Ia bahkan tidak berharap mendapatkan pertanggung jawaban dari laki-laki jahat di depannya saat ini. Melihatnya sekarang ini bahkan membuat Rosa benar-benar sakit hati dan merasa dirinya tercabik-cabik.
Dan bagaimana ia bisa hidup dengan laki-laki seperti itu? Bukan kah laki-laki yang baik tidak akan pernah merusak wanitanya?!
Bram hanya bisa berdiri di sana setelah sekian lama, tanpa sengaja ia melihat ponselnya berkedip di atas meja. Begitu ia melangkah ke arah meja dan membuka seluruh pesan dan panggilan yang tak terjawab, mata Bram melebar dengan seketika.
Ia tampak kaget sekaligus syok. Buru-buru ia segera mengambil pakaiannya, memakai jasnya dan segera pergi dari tempat ini. Tanpa kabar dan tanpa teguran kepada Rosa. Bram sepertinya telah lupa dengan apa yang sudah ia perbuat dengan Rosa hingga ia bisa melupakan Rosa begitu saja.
Dan melihat itu semua, hati Rosa semakin teriris-iris. Dan detik itu juga ia kembali sadar.
***
Anderson berdiri bersama dengan salah satu pengawalnya di ujung lorong tangga rumah sakit yang tampak begitu sepi.
Mel?! Apa kamu tidak sadar juga?! Apa kamu bisa tidak sadar seperti apa sosok lelaki yang kamu cintai itu?!
Orang yang sudah menghancurkan keluargaku. Orang yang sudah membuat Ayahku bangkrut, orang yang sudah membuat Ibuku meninggalkanku, adalah orang yang selama ini menguntit hidupmu.
Lalu, siapa orang yang dulu selalu datang ke rumahmu? Orang yang memasang kamera pengintai di rumahmu?! Dan sekarang ...?! Setelah apa yang sudah Anderson lakukan padamu, kamu baru sadar kan bahwa hanya dia satu-satunya orang yang mampu melakukan segala macam cara. Melakukan hal licik untuk mendapatkanmu.
Dan itu semua adalah rentetan kalimat yang terus menerus keluar dari sebuah rekaman kaset yang baru saja Anderson dengan kali ini. Membuat giginya gemeletuk dan tangannya meremas kuat.
Reyan ... Dia sudah terlalu banyak bicara?!
"Jadi, apa yang akan kita lakukan, Tuan?"
"Sepertinya sudah tidak ada cara lain, aku akan segera membawa Melia pergi."
__ADS_1
"..."
"Siapkan pesawat. Kita akan ke Perancis sekarang juga."
"Baik, Tuan."
Begitu Anderson berbalik, sosok pengawal lain datang. Ia segera mengangguk ke arah Anderson.
"Kami sudah berhasil membekuk orang yang anda cari, Tuan. Dan ini ..." pengawal itu memberikan dua buah koper kepada Anderson.
"Uang ini masih utuh seperti sedia kala."
"Bagus."
Anderson mengangguk. Ia kemudian menyuruh pengawalnya untuk mengembalikan uang itu di tempat awalnya uang itu berasal.
Sosok itu rupanya lupa dengan siapa yang menjadi saingannya. Apa menurutnya dia bisa bebas dengan usahanya sendiri?! Selama ini Anderson hanya bersikap sedikit lunak karena dia sudah berjasa untuk menggantikannya di penjara. Tapi ketika dia berhasil membuat Melia terluka, Anderson tidak akan segan-segan lagi kepadanya.
"Lalu, apa yang akan kita perbuat lagi kepadanya Tuan?"
Anderson menggeleng. "Aku tidak perduli. Kalian buat mati pun aku juga sudah tidak peduli."
Lalu, terdengar langkahan kaki. Bram datang terburu-buru dari arah lain.
"Tuan?"
Dahi Anderson mengernyit.
"Kamu masih hidup?"
"Maaf, Tuan."
"Padahal aku sudah berpikir untuk mencari penggantimu."
Bram mengangkat kepalanya. Mengernyit dan menghela napas.
***
Gais maaf, akhir2 ini aku sibuk. Aku lagi di tempatin di kantor pusat jatah nge swab pasien sejak dari Jumat kemarin.. maklum, kan daftaran PNS harus pakai antigen negatif jadi pasien agak rame belakangan ini. Jadi agak keteteran pakai hasmat.. hari ini pun aku jatah swab tapi untung udah pindah ke kantor cabang jadi agak longgar. Makasih ''
__ADS_1