Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
TAMPARAN UNTUK ANDERSON


__ADS_3

Dengan segala kekuatan yang ada, Melia terus berontak. Sungguh, ia harus melawan karena kalau tidak, Anderson akan benar-benar melakukan hal yang tidak-tidak.


Kakinya meronta-ronta, dan saat ia menemukan celah ia memandang ke arah mana pun hingga tanpa sengaja memukul keras daerah sensitif Anderson.


Anderson memekik keras. Dan saat Melia menemukan celah, dengan cepat Melia langsung berdiri. Menghindari Anderson secepat kilat tapi ternyata Anderson masih mampu untuk menarik tangan Melia.


"Melia."


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di sebelah pipi Anderson saat ini. Amarah Melia sudah benar-benar meledak. Ia sudah merasa tidak mempunyai harga diri lagi jika Anderson bertindak seperti ini.


Tangis Melia juga ikut meledak. Ia menangis sesenggukan dengan tangan yang bergetar hebat. Melia berpikir keras, ia langsung mengambil vas bunga dan dengan cepat memecahkannya untuk dijadikan senjata.


"Sekali anda mendekat, saya akan menyerang anda."


Anderson terpana akan tatapan Melia ketika menatapnya. Tatapan benci, marah dan kecewa bercampur menjadi satu hingga membuat Anderson tiba-tiba tersadarkan begitu saja.


Astaga, apa yang baru saja tadi aku lakukan?


Sisi bipolar Anderson mulai muncul. Cepat-cepat ia melangkah mundur ke belakang dan dengan cepat menyesali semuanya.


Kurang ajar! Bagaimana bisa kamu menyakitinya lagi? Ucapnya pada diri sendiri.


"Mau sampai kapan anda seperti ini?! Banyak wanita lain yang lebih cantik, lebih segalanya dibandingkan saya. Kenapa harus saya? Anda tahu kalau saya tidak pernah mau untuk berurusan dengan anda. Dan apa yang anda lakukan tadi?! Apa anda tidak cukup melecehkan saya waktu itu?"


"Melia, aku bisa jelaskan ... maaf, aku kelepasan. Aku ... tidak bermaksud menyakitimu." Kata-katanya terbata, Anderson menggeleng keras dan langsung memegang kepalanya frustrasi.


Melia tersentak kaget. Melia jelas kebingungan dengan sifat Anderson yang tiba-tiba langsung berubah. Tadi dia begitu agresif, tapi kenapa sekarang dia bisa berubah menjadi orang yang seperti ini?


Psikopat!

__ADS_1


Melia mundur ke arah belakang. Sungguh. Melia mulai takut.


"Lebih baik anda keluar dari sini sekarang juga!"


"Melia, apa kamu tidak tahu kalau hanya kamu wanita satu-satunya?"


"Saya mohon anda keluar, Pak!"


"Aku jatuh cinta padamu, Mel."


"KELUAR!!!"


Dengan keberanian yang tersisa, Melia segera mendorong keras-keras tubuh Anderson keluar dari rumahnya.


***


Di depan pintu, Anderson hanya berdiri kaku memandang ke arah pintu Melia. Melia sudah jelas-jelas menutup pintu hatinya untuknya, dan sudah sangat mustahil untuk mendapatkannya.


"Maaf, Tuan. Apa saya terlambat menjemput anda?"


Bram termangu. Ia ikut memandang ke arah pintu yang sudah tertutup di sana dengan mata yang menyipit.


"Maksud anda, Tuan?"


"Aku menyakitinya lagi. Aku hampir memperkosanya."


Bram menghela napas.


"Bram."


"Ya, Tuan."

__ADS_1


"Sepertinya dia sudah benar-benar yakin kalau aku adalah laki-laki bajingan. Dan mungkin, rencana yang kemarin aku katakan padamu juga harus dijalankan agar aku bisa segera memilikinya. Kalau dia sudah terlanjur menganggapku bajingan, aku akan menunjukkan padanya seberapa parah bajinganku bukan?"


Bram kembali menghela napas.


"Ya, Tuan. Akan saya laksanakan. Dan mari, saya akan antarkan anda pulang."


Tapi Anderson menggeleng.


"Kamu saja yang pulang, Bram. Aku masih ingin menemaninya. Tinggal tunggu beberapa jam lagi dan aku akan menemaninya seperti biasa."


Mendengar perintah itu, Bram hanya bisa mengangguk dan segera melaksanakan perintah Tuannya untuk pergi dari sini.


***


Di sudut sana, Melia masih ketakutan. Tangannya bergetar hebat sambil terduduk di sudut tempat tidur.


Sedari tadi, ia harus menyeka air matanya berulang kali. Ingatan tentang apa yang dilakukan Anderson benar-benar membuatnya trauma.


Melia melihat keadaan sekitar. Ia harus memastikan bahwa Anderson sudah pergi dari tempat ini supaya ia bisa tenang.


Ia segera bangkit dan melihat ke arah jendela. Tidak ada tanda-tanda Anderson di sini dan mungkin Melia sudah merasa aman. Sesaat setelah itu, Melia berlari ke seluruh sudut ruangan dan mengecek semua pintu dan jendela.


Setelah memastikan bahwa rumah ini terkunci rapat-rapat, Melia segera pergi ke dalam kamar. Ia harus beristirahat sekarang ini karena besok, dia akan segera pergi ke kantor untuk menyerahkan surat pengunduran diri.


Jika Anderson mengancam untuk meminta ganti rugi, Melia juga bisa mengancam agar melaporkan tindakan Anderson ke pihak yang berwajib.


Ya, Melia memang tidak sebodoh itu.


Melia mengaca dirinya di dalam kamar mandi. Sungguh. Dirinya sudah sangat berantakan sekali. Cepat-cepat ia mencuci mukanya dan kemudian mandi. Tapi, saat ia selesai menggosok giginya, entah kenapa sesuatu hal melintas di pikirannya kali ini.


Hari ini, akan Melia pastikan kalau Melia menaruh sikat gigi di tempatnya. Dan bukan hanya itu, Melia juga memastikan kalau ia membalik botol sampo yang biasanya ia gunakan.

__ADS_1


Melia menahan napas. Ia memandang lama sikat gigi dan juga sampo di sana. Berharap, kalau tidak ada hal-hal aneh seperti kemarin.


***


__ADS_2