
Lalu semua terjadi begitu saja ...
Bram menarik paksa Rosa dari Reyan, dan Reyan tidak pernah diberi kesempatan untuk menolong Rosa karena dua pengawal Bram sudah menarik tangan Reyan hingga menjauh dari Rosa.
"Lepaskan aku!"
Cengkeraman tangan Bram terlalu kuat. Rosa sudah tidak diberi kesempatan untuk melarikan diri lagi.
"Reyan ...!"
Rosa semakin khawatir, tapi emosi Bram malah semakin tersulut ketika mendengar Rosa meneriakkan laki-laki lain di depannya.
Tangan Bram mulai mengepal kuat. Ia sudah berulang kali memberi Reyan pelajaran tapi lagi-lagi Reyan tidak pernah belajar dari kesalahannya itu.
Reyan dibekap, kedua tangannya dipegang oleh kedua pengawal itu. Membuatnya semakin terkunci dan tidak bisa melakukan apa-apa.
Bram lalu berlari ke arahnya, niatnya ingin segera menghajarnya tapi tiba-tiba Rosa memohon-mohon dan malah menarik tangan Bram.
"Jangan aku mohon!!!" Rosa mulai panik karena takut Bram akan memukulnya lagi.
"Apa kamu tidak punya hati?! Kamu selalu memukulinya dan main keroyokan seperti ini?!" Rosa mulai mengamuk, ia berteriak di depan Bram sambil menangis terisak-isak.
"Kamu selalu menyakiti orang-orang lemah! Di mana nuranimu selama ini hingga kamu tega melakukannya?!!!"
"Rosa, kamu tidak tahu apa-apa."
"Kamu dan Anderson sama saja!!! Bahkan kamu jauh lebih parah. Apa kamu tidak sadar seberapa pengecutnya dirimu hingga kamu membawa semua pengawal-pengawal bersamamu?!!"
Bram tersentak akan semua kata-kata itu. Baru kali ini Rosa mempunyai keberanian sampai seperti itu. Rosa yang selalu takut, bersembunyi dan bahkan selalu mencari cara aman, tiba-tiba berani mengeluarkan kata-kata seperti itu.
"Rosa ...?"
Apa itu semua Rosa lakukan hanya demi membela laki-laki ini?
Reyan yang takut Rosa kenapa-kenapa, kini kembali berteriak.
"Pukul saja aku! Kamu memang pengecut yang hanya berani main keroyokan. Anjing penurut yang selalu mengekor majikannya apa pun yang dia katakan."
"Berani-beraninya!"
Tangan Bram kembali mengepal karena tersulut akan kata-kata itu. Baru saja dia akan memukul Reyan tapi tiba-tiba Rosa meraih tangan itu untuk mencoba melindungi Reyan.
Tapi, Bram sudah terlanjur emosi, ia tanpa sadar menghempaskan tangan itu hingga Rosa terjatuh. Terpental jatuh ke atas lantai hingga membuat semua orang syok dengan apa yang sedang terjadi kepada Rosa.
"Rosa!"
Rosa ambruk, Bram langsung berlari menolong Rosa.
Rosa mendesis kesakitan. Tiba-tiba saja ia memegangi perutnya yang terasa nyeri tidak tertahankan.
"Sakit,"
Semua orang terbebelalak kaget. Mereka tahu bahwa ada bayi yang sedang dikandung Rosa. Dan itu lah hal yang membuat Bram ketakutan setengah mati.
Dan hanya beberapa saat kemudian, Rosa sudah jatuh pingsan hingga membuat Bram semakin panik.
"Kita harus segera ke rumah sakit."
__ADS_1
"Rosa maafkan aku ..."
***
Di tempat lain, Melia tampak sedang membungkam mulutnya sendiri ketika melihat sudah ada begitu banyak gaun yang saat ini sudah berada di rumah Anderson.
Dari lantai atas tempatnya berdiri saat ini, gaun-gaun itu sudah berjejer rapi. Sesuatu hal gila lain dari sisi Anderson dan Anderson mampu mewujudkannya.
Bagaimana mungkin Anderson mampu mendatangkan satu buah truk berisi gaun dan kini semua sudah terpajang dengan rapi di lantai bawah. Benar-benar sesuatu hal yang sebenarnya mustahil tapi Anderson mampu melakukannya.
"Anderson kamu gila ..."
Anderson menyombong. Ia merangkul bahu Melia kemudian mengecupnya.
Melia kemudian turun menyusuri tangga. Niatnya ingin segera ke lantai bawah, tapi tiba-tiba ia tersandung. Hatinya entah kenapa terasa nyeri hingga ia harus berpegangan tangan pada sisi dan Anderson dengan cepat berlari datang ke arahnya.
"Melia, kamu tidak apa-apa?"
Melia menggeleng. Untung saja dia dengan cepat berpegangan tangan tadi, karena kalau tidak ... Melia tidak tahu dengan apa yang sedang terjadi.
"Sebenarnya kamu kenapa ...?"
Melia menggeleng saat ia sudah berada di lantai bawah. Menatap ke arah gaun-gaun itu dengan ekspresi yang berbeda.
Tadi Melia kegirangan bukan main, tapi sekarang ia malah tampak sedih menatap gaun-gaun itu.
"Mel?"
"An, kenapa perasaanku jadi tidak enak seperti ini?"
"Maksudmu?"
Anderson kebingungan dengan apa yang sedang terjadi kepada Melia. Tapi beberapa saat kemudian, ada dering ponsel dari saku jas Anderson hingga Anderson segera mengangkatnya.
Pengawal Anderson yang lain ...
"Halo, Tuan."
Anderson meninggalkan Melia sejenak. Anderson segera tahu siapa pengawal ini. Pengawal yang seharusnya bersama dengan Bram untuk mencari keberadaan Reyan dan juga Rosa.
"Nona Rosa ..."
Lalu pembicaraan itu terus berlanjut. Anderson tampak syok lalu sejenak tampak menahan napas.
Kenapa masalah selalu mendekat setiap kali Anderson merencanakan pernikahan?
Lagi-lagi Anderson memijat pelipisnya. Buru-buru Melia yang melihat Anderson tampak tidak baik-baik saja kini mendatanginya.
"An, kenapa wajahmu tiba-tiba pucat?"
"Emm, Mel. Gaun mana yang kamu suka?"
Anderson tidak menjawab pertanyaan Melia tapi malah mengalihkan Melia dengan pertanyaan lain.
Tidak akan Anderson biarkan lagi sesuatu hal mengusik pernikahannya yang akan ia laksanakan satu minggu lagi.
"Tadi kamu ...?"
__ADS_1
"Gaun dengan pita itu terlihat boleh juga."
Melia mengernyit lalu menghela napas.
Ada yang aneh dengan Anderson ... dan tiba-tiba Melia merasakan lagi dadanya yang entah kenapa terasa nyeri. Perasaanya tidak enak, entah karena apa.
***
16:51
Note : Jangan dibaca ... ini naskah buat w a t t p a d ... kalau kalian pengen lanjut, lanjut di w a t t p a d ya... xixixixi
PERNIKAHAN PAKSA ARINI
Arini menatap pada ranjang kosong yang ada di hadapannya. Duduk termenung ketika menyadari, bahwa pada akhirnya ia ditinggalkan oleh Romeo.
Arini melenguh, menatap pada pantulan cermin yang ada di hadapannya. Bahkan, dirinya masih menggunakan baju pengantin setelah tadi, dia dan Romeo melanjutkan akad dua jam yang lalu.
Lagi-lagi Arini menangis, merasakan hati yang sakit karena menyadari bahwa Romeo meninggalkannya. Bahkan, di malam pertama saat mereka menikah.
Arini meremas ponselnya, berusaha menghubungi Romeo karena bukan kah ini termasuk kewajibannya sebagai seorang istri?
"Halo, Romeo kau di mana...?" Begitu sambungan terangkat, Arini langsung menanyakan keberadaannya, begitu ingin tahu kalau suaminya sedang dalam keadaan baik-baik saja.
"Aku sudah memenuhi tanggung jawabku untuk menikahimu. Dan sekarang bisa kah kau diam saja dan tidak mengangguku?"
Arini menahan napas, merasakan bahwa ia sudah di lempari jawaban pahit bahkan Arini belum sempat bertanya lebih jauh lagi.
"Baik lah, kalau begitu aku akan menyiapkan makanan saat kau pulang nanti."
Ha ha ha. Dan terdengar tertawa yang semakin keras. "Jangan berlagak kalau kau benar-benar istriku. Kau tahu kalau aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini?!"
Arini merasakan paru-parunya sesak hingga sangat sulit baginya untuk bernapas, mendengar jawaban itu sudah menyakiti hati Arini hingga benar-benar terasa sangat sakit.
"Dan jangan kau pikir, kamu bisa berada di kamar itu. Jangan pernah sekali pun kau menginjakkan kaki di kamar itu karena kamar itu hanya milik Aluna! Jangan pernah berpikir untuk menggantikan posisi Aluna di sini! Ingat itu!!!"
Arini terperangah kaget, bahkan dirinya langsung berdiri ketika Romeo seperti bisa melihat bahwa sekarang Arini berada di kamar ini. Tampak seperti orang bodoh dan mengharapkan malam pengantin dan sedang menunggu mempelai laki-laki.
Hingga akhirnya sambungan terputus, Arini menyeka air matanya ketika menatap seluruh kamar ini. Entah kenapa, kata-kata Romeo langsung membuatnya sadar dan sedikit membuka mata, bahwa ia memang tidak pantas berada di kamar ini.
Dengan masih menggunakan baju pengantin Arini kemudian pergi, meraih knop pintu lalu keluar dari dalam kamar.
Bodoh...! Dirinya benar-benar bodoh! Seharusnya Arini sadar, kalau kamar ini seharusnya milik kakaknya, dan bukan milik dirinya. Betapa bodohnya Arini karena menganggap bahwa dia bisa diterima baik oleh Romeo.
Setelah Arini keluar dari kamar, ia menatap pada sebuah rumah besar yang tampak lengang ini. Dan rumah ini pun juga...! Bukan kah rumah ini juga dipersiapkan Romeo untuk kakaknya...? Ketika seharusnya yang menikah dengan Romeo adalah Aluna, dan bukan dirinya.
Arini hanya hadir, mengusik hubungan mereka dan berakhir dibenci oleh Romeo.
Kini, Arini lebih memilih untuk turun ke lantai bawah dan memilih kamar di paling sudut ruangan, berada di samping dapur yang sepertinya memang ditujukan sebagai kamar pembantu.
Tapi biar lah, biar lah Arini berada di sini. Berada di kamar yang paling tidak, sangat jauh letaknya dari kamar milik Romeo. Dari pada ia harus tersiksa batin karena Romeo masih bersikukuh kalau kamar itu milik almarhumah kakaknya dan juga Romeo.
Di sini, Arini menangis sedih, meremas dadanya yang semakin sesak untuk ia bisa bernapas lagi. Dan sepertinya, tidak ada tempat bagi Arini untuk mengisi ruang di hati Romeo. Arini hanya benalu, datang secara tiba-tiba dan membuat Romeo harus bertanggung jawab untuk menanggung kehidupannya.
Arini harus sadar diri.
Di dalam kamar ini, Arini meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. Seandainya waktu dapat diulang, dirinya akan lebih memilih semuanya berjalan dan normal seperti dulu. Sebelum kecelakaan itu menewaskan kedua orang tuanya dan juga Aluna.
__ADS_1
"Kau harus kuat Arini, kau harus kuat." Ucapnya menenangkan diri, berbicara pada dirinya sendiri dan menepuk-nepuk tubuhnya untuk menenangkan.
***