Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
TANGISAN ROSA


__ADS_3

Melia hampir terjatuh ke atas lantai. Matanya masih membelakak sempurna ketika ia masih tidak mempercayai dengan apa yang ia lihat saat ini. Bahkan, tangannya masih gemetar saat ia membungkam mulutnya sendiri.


"Ya Tuhan, apa-apaan ini?"


Kaki Melia melangkah ketika pintu itu tanpa sadar tertutup lagi. Masuk ke dalam ruangan yang hanya tampak remang-remang dan hanya ada satu jendela yang ada di ujung ruangan, satu-satunya sumber cahaya yang tersisa.


Melia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia masih belum percaya. Semua dinding yang ada di ruangan ini semuanya penuh dengan fotonya. Melia bahkan tidak sadar kapan tepatnya foto ini diambil.


Jantung Melia kembali berdegup kencang, suara nyaring dering ponselnya yang ada di atas meja pun sepertinya sudah tidak ia dengar lagi. Melia masih syok, akan kenyataan yang ada di depannya kali ini.


Air mata itu tak sengaja jatuh. Foto-foto ini semuanya tampak sangat mengerikan. Saat Melia bersama dengan teman-temannya, saat Melia masih menggunakan seragam putih abu-abu.


Melia hampir ambruk ketika menyadari itu semua. Foto-foto ini semuanya benar-benar gila! Seluruh foto tersebar di seluruh ruangan dan tampak semakin mengerikan.


Melia pikir, pertama kali Melia mengenal Anderson adalah saat di mana ia datang ke perusahaan ini. Tapi ternyata Melia salah, benar apa kata Reyan, kalau Anderson sebenarnya lebih mengenal Melia jauh dari itu.


Seluruh foto ini masih membuat Melia benar-benar tidak habis pikir. Dari mulai Melia makan, bersama dengan teman-temannya, pergi ke mana pun yang ia suka, semuanya nyaris berada di sini. Seluruh aktivitas Melia seperti direkam hingga sebuah foto lainnya berhasil membuat Melia kembali syok.


"A-apa ini ...?"


Ada di satu sisi yang menampilkan begitu banyak foto keseharian Melia ketika berada di dalam rumah. Saat-saat di mana Melia melakukan semua aktifitasnya di rumah kontrakannya yang lama.

__ADS_1


Dan detik itu juga, mata Melia kembali melebar. Saat ia menyadari akan satu fakta, bahwa kemungkinan besar ... penguntit Melia selama ini memang benar adalah Anderson. Melia ingat ketika dulu Reyan melucuti seluruh cctv yang ada di dalam rumahnya.


"Ya Tuhan ..."


Air mata Melia kembali menetes deras. Ia terisak-isak. Semua perkataan Reyan ... adalah nyata. Anderson tidak sebaik yang ia pikirkan selama ini. Dan yang lebih parahnya lagi, Anderson sudah menguntit hidupnya jauh lebih lama.


Melia menggeleng-geleng kepalanya hebat. Ia masih tidak percaya. Ia meremas kepalanya frustrasi.


Tapi untuk apa ...? Kenapa Anderson memilihnya?! Apa ada alasan lain?! Atau kenapa Anderson bisa bertindak sampai sejauh ini?!


Dan detik itu juga, lagi-lagi terdengar suara ponselnya kembali berdering nyaring. Membuat Melia terjaga dan segera berlari ke arah ponsel yang tertancap pada charger dengan begitu frustrasi.


Nama Rosa muncul dari atas layar dan Melia


langsung mengangkatnya.


"Rosa? Rosa ...?"


"Melia ..." dan suaranya lebih mirip seperti sebuah kaset yang rusak. Rosa tampak lemah dan suara sesenggukannya mampu membuat Melia khawatir dibuatnya.


"Rosa, ada apa? Kenapa kamu menangis?"

__ADS_1


"Bisa kah kamu datang ke sini? Aku ... aku butuh teman. Aku seperti ingin mati."


"Rosa! Apa yang kamu katakan!"


"Dengar kan aku, Melia. Jangan pernah berurusan dengan semua orang yang berkaitan dengan Anderson atau kamu akan berakhir sepertiku."


Dahi Melia kembali mengerut saat mendengar Rosa kembali menangis lagi dan terdengar putus asa.


"Rosa ... apa yang ingin kamu katakan ..."


"Mereka orang jahat. Aku ... diperkosa ... oleh Bram, pengawal pribadi Anderson ..." Dan tangisan itu kembali pecah hingga semakin lama tidak terdengar.


"Rosa! Rosa! Rosa!"


Dan suara dari Rosa tidak Melia dengar lagi. Membuat Melia semakin khawatir dan ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.


"Nona Melia!"


Belum selesai rasa terkejutnya, suara dari Bram benar-benar membuat Melia kembali kaget. Melia kembali membungkam mulutnya sendiri. Ia sembunyi. Ia langsung berlari mencari persembunyian agar ia tidak kembali tertangkap oleh Bram.


Melia harus kabur dari tempat ini! Harus!

__ADS_1


__ADS_2