Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
KEJUJURAN


__ADS_3

Anderson menghela napas, seperti biasa ia menunggu waktu yang tepat untuk datang ke tempat itu. Di genggamannya sudah ada tisu dengan obat bius, dan sebentar lagi Anderson akan segera melangkah ke tempat Melia.


Tapi tiba-tiba, Anderson berubah pikiran, ia memasukkan lagi tisu itu ke dalam mobil dan melengang pergi ke rumah itu. Menurutnya, sudah cukup selama ini ia menjadi pengecut. Malam ini, Anderson tiba-tiba menginginkan kalau Melia secara sadar, menyadari akan kehadiran dirinya.


Sementara di dalam rumah, Melia benar-benar tidak bisa tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi tapi otaknya kembali dipenuhi oleh Anderson.


Melia belum pernah seperti ini, tapi nyatanya ... melihat Anderson bersama dengan Rosa benar-benar menganggu pikirannya.


Melia menarik napas. Ia bangkit kembali dan duduk di atas kasur merasakan dadanya yang tiba-tiba terasa panas.


Ya Tuhan, aku kenapa?


Jika Anderson pada akhirnya menemukan pasangan, bukan kah itu bagus? Anderson tidak akan pernah menganggunya lagi.


Tapi ...


Kenapa Melia merasa kalau dia sudah terlalu biasa untuk diganggu? Bahkan, ketika Melia melihat ponselnya berulang kali dan tidak ada panggilan atau pun pesan dari Anderson, justru itu malah membuat pikirannya terganggu.


Biasanya, Anderson akan meninggalkan panggilan dan pesan bahkan hingga ratusan. Tapi begitu Melia melihat ponselnya kosong dan tidak ada tanda-tanda Anderson menghubunginya, Melia malah merasa ada yang hilang dari kehidupannya.


Berlebihan mungkin, tapi itu yang benar-benar dirasakan oleh Melia. Hanya saja, selama ini dia sudah mulai terbiasa akan segera tingkah dan kelakuan dari Anderson.


Melia mengacak-acak rambutnya frustrasi. Lagi-lagi ia kembali teringat saat Anderson bersama dengan Rosa beberapa waktu yang lalu. Sesuatu pemandangan yang benar-benar membuat Melia sangat terganggu.


"Ya Tuhan, apa aku sudah gila?"


Rasanya, Melia mau menangis dibuatnya. Ketika saat ini ia menggenggam ponselnya erat-erat, itu artinya dia menunggu Anderson untuk menghubunginya seperti biasa.


Melia jelas kehilangan itu.

__ADS_1


Apa Anderson sudah tertawa dengan perempuan lain? Apa Anderson sudah menemukan pengganti dirinya? Apa Anderson sudah benar-benar mencintai Rosa bahkan tadi mereka sudah bergandengan tangan?


Ya Tuhan, apa aku sedang cemburu?


"Aaaaaa!!!!"


Tanpa sadar Melia berteriak keras. Sungguh. Melia benar-benar frustrasi. Ia benar-benar tersiksa karena penasaran setengah mati apa yang dilakukan Anderson bersama dengan Rosa malam ini.


Tapi tidak, Melia kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudah bagus kan jika dihidupnya tidak ada lagi pengganggu? Lagi pula, Anderson adalah laki-laki mesum yang selama ini terus menerus membuat hidupnya tidak tenang.


Melia kemudian membenamkan diri lagi ke atas ranjang. Ia berusaha untuk tidur dan menyingkirkan semua perasaan ini.


Tapi begitu ia akan memejamkan mata, terdengar suara ketukan pintu hingga membuat Melia terbelalak kaget.


Waktu sudah menunjukkan setengah tiga pagi dan ada seseorang yang mengetuk pintunya?


Bagaimana kalau orang itu adalah penguntit yang selama ini menganggu hidupnya?


Buru-buru Melia mengambil tongkat dari ujung kamar yang kemarin sudah ia persiapkan. Jantungnya bergemuruh hebat, ia benar-benar merasa takut.


Tok tok tok


Dan suara itu semakin mencekam. Saat ini Melia sudah berada tepat di depan pintu bersama dengan tongkat yang ada di dalam genggamannya.


"S-siapa?"


Dan pada akhirnya Melia bersuara.


"Ini aku."

__ADS_1


Dan tiba-tiba Melia merasa lemas seketika. Suara itu entah kenapa terasa begitu hangat di telinganya. Suara baritonnya sangat khas hingga Melia langsung melempar tongkat itu begitu saja dan langsung membuka kancing pintunya untuk melihat apakah orang itu benar-benar pemilik dari suara ini.


Dan begitu pintu itu terbuka lebar, wajah Anderson terpampang jelas berada di depannya.


Jantung Melia bergemuruh hebat. Perasaan Melia membuncah bahagia. Setelah tadi dia begitu khawatir kenapa Anderson tidak menghubunginya dan lebih memilih bersama dengan perempuan lain, kini laki-laki itu berada tepat di depannya.


"Pak Anderson?"


Anderson menatap tajam ke arah Melia. Wajah perempuan ini adalah wajah yang benar-benar ia rindukan seharian ini.


Air mata Melia tidak sengaja menetes. Sosoknya ternyata tidak berubah sedikit pun. Anderson masih sama menjadi sosok yang masih terobsesi pada dirinya. Masih mencintainya dan masih memerdulikan dirinya. Dan itu lah hal yang benar-benar membuat Melia langsung tenang seketika. Paling tidak, hal yang tadi Melia takutkan, tidak benar-benar terjadi.


Anderson, tidak lagi menghilang dari kehidupannya kan?


Dan tiba-tiba saja, Anderson menyeka air mata itu. Menghapus semua air mata yang keluar, yang mungkin saja, Melia sendiri juga tidak sadar bahwa dirinya sedang menangis.


"Jujur padaku, apa kamu cemburu melihatku bersama dengan perempuan lain?"


Mata Melia masih berkaca-kaca. Hal-hal seperti ini lah yang benar-benar Melia rindukan.


Anderson, masih begitu perduli padanya.


Melia menarik napas panjang. Ia menatap lagi mata itu dalam-dalam.


"Aku tanya sekali lagi. Apa kamu cemburu melihatku bersama dengan wanita lain?"


Rasanya sangat sesak. Melia kembali menangis dibuatnya.


"Ya, aku cemburu melihatmu bersama dengan perempuan lain." Dan pada akhirnya kata-kata itu meluncur deras dari mulut Melia saat ini. Melia sudah tidak bisa berbohong, ia sudah tidak bisa lagi menutupi perasannya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2