Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
RAHASIA


__ADS_3

Melia merasakan tubuhnya terasa sangat sakit saat ia bangun dari tidurnya kali ini. Badannya terasa pegal dan ia seperti merasa ada yang menindihnya sepanjang malam.


Melia mengerjap-erjap, tapi ia tidak ingat apa pun, ia hanya merasa bahwa akhir-akhir ini ia selalu lelap dalam tidurnya.


Melia kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Niatnya ingin segera menggosok gigi tapi lagi-lagi keanehan kembali terjadi.


Apa aku lupa menaruh sikat gigiku lagi? Kenapa sikat gigi ada di atas wastafel?


Dan saat Melia menatap ke arah kloset yang ada di sana ... kenapa kloset itu terbuka?


Jantung Melia bergemuruh hebat. Untuk kesekian kalinya, Melia merasa ada yang tidak beres di dalam rumah ini.


Tapi cepat-cepat ia menggeleng kepala hebat. Mungkin saja dia teledor bukan? Cepat-cepat ia segera mempersiapkan diri untuk segera pergi ke kantor.


"Hei, Melia."


Baru saja Melia keluar dari rumah dan mengunci pintu, tiba-tiba ada seseorang yang berada di depan rumah. Ia tersenyum lebar dan menyedekapkan tangannya kala menatap ke arah Melia.


"Pak Anderson?"


Anderson melambai-lambaikan tangannya.


"Kamu cantik sekali, sayang?"


"Eh?" Mata Melia melotot tajam. "Sejak kapan anda di sini?"


Melia menatap ke arah Anderson bersama dengan mobil porsche hitamnya. Tidak seperti biasanya, dia hanya sendirian tanpa adanya Bram dan menggunakan pakaian santai.


"Kamu lupa kalau hari ini kita akan ke Bali?"

__ADS_1


"Tapi, masih nanti siang."


"Tidak apa." Anderson melepas kaca mata hitamnya dan kemudian berlari ke arah Melia. Menarik tangannya untuk mendekat ke arahnya.


"Anggap saja kita sedang kencan selama kita menunggu waktu kita ke Bali."


"T-tapi."


Terlambat. Melia sudah dipaksa masuk ke dalam mobil. Anderson membawa Melia untuk ikut dengannya dan melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Pak. Kita mau ke mana?"


"Sudah aku katakan kita akan kencan."


"Tapi ada banyak pekerjaan di kantor sebelum kita berangkat."


"Sudah kusuruh orang untuk mengerjakannya. Tenang saja."


"Pakai sabuk pengamanmu, Melia."


Belum selesai Melia melakukannya, Anderson kembali menancap gasnya hingga membuat Melia memekik keras.


"Pak, hati-hati ...!"


Tapi Anderson hanya terkekeh.


***


Butuh waktu sebentar saja ketika mereka sampai pada sebuah restauran yang langsung membuat jantung Melia berhenti untuk berdetak.

__ADS_1


"Dimsum?"


"Ya, kamu menyukainya kan?"


Melia menatap tajam ke arah Anderson yang langsung menggandeng tangannya. Anderson tersenyum lebar ketika ia menuntun Melia untuk masuk ke dalam ruangan khusus yang hanya diisi oleh mereka berdua.


"Aku sudah memesannya. Aku tahu kamu menyukainya."


Melia hanya diam saja. Ia hanya menurut dan duduk di depan Anderson. Anderson bersila dan bersemangat ketika menyambut Melia. Sungguh. Ini pertama kalinya mereka makan bersama dan duduk santai seperti ini.


Ketika makanan sudah datang, Melia masih tidak percaya saat ia kembali memakan makanan ini semenjak orang tuanya meninggal.


"Di makan Mel."


Melia ragu, tapi tampaknya Anderson menyadari itu. Anderson kemudian mengambil sumpit dan menyuapkan makanan ini ke arah Melia.


Melia berkaca-kaca. Sementara itu, Anderson mengangkat alisnya.


"Kamu ingat orang tuamu?"


Melia mengangkat kepalanya sekaligus mengernyit.


"Ini makanan terakhir yang kamu makan sebelum orang tuamu kecelakaan kan?"


Deg.


Jantung Melia seperti berhenti untuk berdetak.


"Tapi bukan kah ini makanan kesukaanmu? Kamu harus mencobanya, jangan biarkan kamu bersedih karena pasti orang tuamu di atas sana juga akan bersedih."

__ADS_1


"T-tunggu ..." Melia ingin menyela saat ia mulai menemukan kata-kata yang terasa janggal dari ucapan Anderson. "Dari mana kamu tahu kalau orang tuaku meninggal karena kecelakaan dan dari mana kamu tahu kalau makanan terakhir yang aku makan saat bersama dengan orang tuaku adalah ini?"


Mata Anderson membelalak. Wajahnya memucat saat ia baru sadar bahwa dia telah membuat kecerobohan besar.


__ADS_2