
Sungguh. Teriakan dari Anderson benar-benar membuat mata semua orang terbelalak kaget. Seruan bahwa orang yang saat ini dibuat terkapar di atas lantai adalah calon isteri dari tuan Anderson berhasil membuat mereka membeku hampir bersamaan.
Mata Anderson menyala-nyala. Dengan cepat, Bram langsung menyingkirkan Jiny untuk menjauh dari tubuh Melia, sementara Anderson langsung membantu Melia bangkit dari atas lantai.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?"
Dan ketika semua orang memperhatikan Anderson yang langsung memeluk Melia, semakin membuat semua orang tercengang hebat.
Dan hampir semua orang yang ada di sini, sepertinya telah membuat kesalahan fatal. Beberapa waktu yang lalu mereka telah ikut mendukung Jiny saat Jiny memperolok bahkan memperlakukan Melia dengan begitu kasar.
Rata-rata dari mereka langsung meringsut mundur ke arah belakang. Mereka mulai ketakutan. Anderson adalah orang yang tidak akan segan-segan membuat hidup orang hancur berantakan jika ada orang yang berani macam-macam dengannya.
Dan sekarang?! Mereka telah melakukan kesalahan fatal pada calon isterinya.
Sial! Jika mereka tahu kalau Melia adalah calon isterinya, mereka pasti tidak akan pernah melakukan apa pun terhadapnya.
Termasuk Jinny.
Ia bahkan tidak bisa berkata-kata. Ia ikut meringsut mundur ke belakang ketika ia pada akhirnya tahu kalau dia telah membuat sebuah kesalahan besar. Tangannya bergetar hebat, kengerian benar-benar menyergapnya. Gosip tentang kekejaman Anderson jika dia sedang marah besar sudah menyebar ke segala penjuru. Bisa-bisa, beberapa saat lagi dia akan dibuat menderita, Anderson pernah membuat salah satu karyawan yang terlibat korupsi menjadi gelandangan bahkan sampai ke keluarganya.
Jinny benar-benar ketakutan. Ia ingin menghilang saja di dunia ini, tapi sorot mata Bram sepertinya tidak akan pernah mengizinkan Jinny untuk lari dari kemurkaan Anderson.
Sedangkan Melia masih menangis sesenggukan, Anderson menyeka air mata itu dan menghapus darah segar yang membekas di kedua sudut pipinya.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Ulang Anderson lagi. Mengusap pipi itu lembut sambil terus menerus menenangkannya.
Melia hanya diam karena tidak bisa berkata apa-apa. Sementara itu, Anderson langsung menatap tajam ke arah Bram. Memastikan bahwa Bram segera membereskan semua masalah ini dan memastikan kalau tidak akan pernah terjadi lagi hal ini ke depannya.
"Bram, pecat semua orang yang sudah membuat tunanganku seperti ini! Dan pastikan, mereka dikeluarkan secara tidak hormat. Buatkan mereka daftar hitam agar mereka tidak bisa bekerja di perusahaan mana pun di negara ini!"
"DAN DIA!"
Tiba-tiba Anderson langsung menunjuk ke arah Jinny yang masih membeku di sudut sana.
"Buat dia di penjara! Buat keluarganya juga menanggung semua akibat dari perbuatannya!"
Adalah kata-kata mengerikan yang dikeluarkan dari mulut Anderson dan langsung membuat semua karyawan yang mendengarnya langsung syok dan melotot tajam.
Semua orang tiba-tiba langsung gaduh, mereka saling membela diri masing-masing dan mengaku tidak terlibat, mereka saling cek cok, dan mulai menyalahkan Jinny seorang. Membuat Jinny semakin tersudut dan terasingkan.
Apa-apaan mereka? Padahal tadi mereka juga ikut merundung Melia dan mendukung Jinny. Tapi sekarang ...? Mereka saling menyalahkan satu sama lain. Mencari keamanan mereka masing-masing agar Anderson tidak membuat nama mereka ke dalam daftar hitam.
Karena sekali mereka masuk ke dalam daftar itu, mereka bisa-bisa menjadi gelandangan seperti apa yang sudah-sudah terjadi kepada orang yang berani dengan Anderson.
"Baik, Tuan. Akan saya laksanakan," dan ucapan Bram juga tidak kalah mengerikan. Semua orang semakin syok ketika Bram menyaguhi apa yang dikatakan oleh Anderson.
__ADS_1
Dan sekarang, Anderson menarik tangan Melia, pergi menjauh agar ia bisa menenangkannya.
***
Di dalam ruangan pun, tubuh Melia masih gemetar. Ia masih trauma dengan apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu ketika Jinny menyerangnya dengan membabi buta.
"Masih sakit ...?" Anderson menyeka kening Melia dengan air hangat. Membersihkan luka yang bahkan hampir di seluruh wajahnya.
Melia menggeleng.
"Kamu tahu? tindakanmu tadi malah membuat semua orang pada akhirnya tahu tentang hubungan kita."
"Lalu ... apa masalahnya? Kamu tunanganku dan sebentar lagi kita menikah."
Melia kembali diam. Ia menyeka air matanya lagi dan lagi.
"Tenang lah, Bram sudah melaporkan perempuan itu ke polisi."
"Jangan bertindak terlalu jauh."
"Lalu aku harus bagaimana? Aku benar-benar tidak terima jika wanitaku diperlakukan seperti ini."
"Aku yang menyerangnya lebih dulu. Aku yang menamparnya pertama kali."
"Itu karena dia melukai perasaanku."
"Ya, tapi dia yang pada akhirnya menyerangmu dengan begitu fatal."
"Tapi tetap saja aku yang mulai ... jika kamu melaporkan Jinny pada polisi, pada akhirnya yang salah tetap aku, karena bagaimana pun aku yang memulai lebih dulu."
Tapi Anderson menggeleng hebat.
"Dengar, Melia. Tetap dia yang salah. Dia yang sudah menyerang wanitaku terlebih dulu. Kamu tidak perlu takut pada polisi karena aku akan melakukan segala macam cara agar kamu tidak terlibat. Aku akan melakukan apa pun dan merekayasa semua bukti agar orang yang bernama Jinny itu tetap lah satu-satunya orang yang salah di sini."
Dan ucapan Anderson benar-benar membuat Melia terhenyak.
"A-apa ...?"
Melia menelan salivanya pasrah.
"Kamu harus lihat dia di penjara, karena aku yakin itu akan membuatmu tenang. Aku juga akan membuat semua orang yang mencelakaimu menderita. Aku bahkan bisa menghancurkan seluruh keluarganya hanya dalam hitungan detik."
Dan lagi-lagi ucapan Anderson benar-benar membuat bulu kuduk Melia meremang.
"T-tidak. Bukan seperti itu."
__ADS_1
"Aku bahkan bisa menyingkirkan mereka sekarang juga."
"Jangan." Buru-buru Melia melarang Anderson yang saat ini akan memanggil Bram.
"Pak? Apa bapak tidak sadar dengan apa yang bapak lakukan?"
"Kamu milikku, Melia. Milikku. Aku tidak akan pernah mengizinkan kamu disakiti oleh siapa pun."
Tiba-tiba Melia bangkit dari sofa dan mundur satu langkah ke arah belakang. Semua ucapan Anderson tiba-tiba membuatnya semakin ngeri.
"Melia?"
"Maaf, tapi bapak tiba-tiba membuatku takut." Melia mengerutkan keningnya. "Maksudku, apa bapak memang selalu seperti ini? Dapat melakukan apa pun sesuai yang bapak inginkan?"
"..."
"Apa bapak sering melakukannya? Maksudku, menyuap polisi, merekayasa apa pun agar membuat semua orang yang menurutmu menyusahkan menghilang?"
Gigi Anderson gemeletuk, sepertinya ia telah lepas kendali hari ini.
"Ya, Melia. Aku memang sering melakukan hal seperti ini terlebih ketika aku sedang tidak waras saat aku tidak berhasil mendapatkanmu."
"Kamu bercanda."
"Sayangnya aku tidak bercanda. Untuk itu jangan pernah tinggalkan aku apa pun yang terjadi kalau kamu tidak ingin melihatku jauh lebih gila."
Melia menahan napas.
Sebenarnya? Siapa orang yang ada di hadapan Melia kali ini?
Kadang Anderson seperti malaikat, tetapi kenapa dia bisa berubah menjadi monster hanya dalam satu waktu?
***
Hai, aku kembali. Rindu padaku? wkwkwkkw.
Ya ampun .... pas aku baca komen kalian, aku Sampek mok nangis... gag tau mau bilang apa tapi makasih banget atas dukungannya. maaf banget gag bisa bales satu persatu karena kalian tahu kemarin aku bener2 fokus belajar. Energiku kayak langsung muncul pas baca komenan kalian... ya ampun aku terharu ..
Alhamdulillah aku udah tes SKD.. skorku 448 kemarin.. sesuai janjiku, aku up cerita ini ya ...
doakan aku masuk perangkingan tiga besar ya ... dan bisa lanjut SKB...
oiya.. aku up cerita baru judulnya virgin not for sale.. tapi masih review.. coba ditengok kalok kalian longgar. wkwkwk. sebenarnya ini udah tamat. cuman karena di aplikasi dan bab berbayar, aku sengaja mindahin ini di sini supaya gratis.. biar karyaku bisa dibaca sama semua orang...
aku belum ttd kontrak sama siapa2 jadi sah sah aja...awokwokwok
__ADS_1