
Malam sudah semakin larut tapi Melia masih gelisah di dalam tidurnya. Entah kenapa pikirannya terganggu. Berulang kali Melia berusaha mengenyahkan seluruh pemikiran ini tapi tetap saja ia tidak bisa. Kejadian yang terus menimpanya terasa janggal dan Melia benar-benar penasaran setengah mati.
Tersangka pembunuhan itu? Apakah dia sudah bebas?
Kenapa Boby mengatakan bahwa yang menabraknya adalah kaki tangan Anderson?
Sungguh. Ini semua membuat Melia benar-benar gila, belum selesai Melia menemukan tersangka siapa penguntitnya selama ini, tapi ia kembali dihadapkan fakta oleh semua hal yang membuat Melia benar-benar kepikiran.
Hingga sampai pada suatu ketika, terdengar pintu yang diketuk tiga kali. Membuat Melia tersentak kaget dan segera bangkit dari atas ranjang.
"Melia?"
Suara Reyan terdengar dan berhasil membuat Melia terkesiap. Buru-buru Melia keluar dari dalam kamar dan berlari menuju ke arah pintu.
"Reyan?"
Yang pertama kali Melia lihat adalah sosok Reyan yang kacau balau. Rambut yang kusut serta sorot matanya yang terlihat lemah.
"Astaga, kamu kenapa?"
Buru-buru Melia menuntun Reyan untuk duduk di teras rumah. Menanyakan kenapa Reyan bisa terlihat sangat kacau seperti itu.
"Reyan?"
"Mel, apa kamu benar-benar bersama dengan Anderson? Apa kamu meninggalkanku karena lelaki itu?"
Dan pada akhirnya kata-kata itu meluncur deras dari mulut Reyan saat ini, menatap ke arah Melia dengan tatapan kosong penuh dengan luka.
"Reyan, masalah itu ..."
"Apa kamu benar-benar melupakan tentang hubungan kita?"
"Hubungan kita sudah lama berakhir Reyan ..."
"Apa kamu tidak pernah curiga dengannya? Apa kamu benar-benar sudah menutup mata? Apa kamu tidak merasa bahwa ada begitu banyak hal yang mencurigakan dari laki-laki itu?"
"Reyan, cukup."
"Tinggalkan dia, Mel. Kembali lah padaku."
"..."
"Aku jatuh cinta padamu."
"Reyan, jangan."
"Tinggalkan Anderson! Aku bersumpah, dia orang jahat!"
__ADS_1
"BERANI-BERANINYA KAMU MENYURUH MELIA UNTUK MENINGGALKANKU!"
Dan tiba-tiba terdengar suara itu. Anderson tiba-tiba datang entah dari mana asalnya. Secepat kilat datang dan langsung berdiri tepat di samping Melia.
Dua orang membeku hampir bersamaan. Melia dan Reyan juga kaget akan kedatangan sosok itu.
"Seharusnya kamu yang pergi, kan? Apa kamu tidak tahu kamu sedang berkunjung ke rumah perempuan yang jelas-jelas sudah mempunyai kekasih?"
"Melia tidak pantas bersama dengan orang jahat seperti anda."
"Hei, bocah. Bisa-bisanya kamu mengatakan hal seperti itu?"
Reyan langsung berdecih begitu saja. Entah kenapa menatap Anderson seperti ini mampu membuat dirinya benci sekaligus jijik begitu saja. Kepalanya tiba-tiba terasa mendidih entah karena apa.
"Ini sudah malam, cepat pulang sana. Apa kamu tidak takut dimarahi Mamamu?"
Sungguh. Emosi Reyan kembali tersulut. Bisa-bisanya dia berlagak seperti ini.
"Tutup mulut anda. Anda sendiri yang menggunakan cara kotor untuk mendapatkan Melia."
Dahi Anderson tiba-tiba mengerut.
Bocah ini ...? Kenapa tiba-tiba bicaranya seperti ini? Sejauh mana yang dia tahu? Batin Anderson di dalam hati.
"Cih." Tiba-tiba Anderson berdecih. Ia kemudian menatap Reyan dari atas sampai bawah.
Dan lagi-lagi, Anderson memperlakukan Reyan seperti anak kecil. Apa dia tidak tahu kalau justru tingkahnya yang seperti anak kecil?
"Apa anda gila?!"
"Ya, aku sedang gila," ucap Anderson. "Aku memang sedang tergila-gila oleh perempuan yang ada di depanmu, puas?" Ucap Anderson sambil mencibir Reyan dengan mulutnya.
Melihat itu semua, malah Melia yang memutar kedua bola matanya.
"Pak, sepertinya anda sudah salah paham. Reyan sedang mengkhawatirkanku."
"Mengkhawatirkan apanya? Jelas-jelas tadi dia menyuruhmu untuk meninggalkanku?"
"Pak, bisa kah kita bicara kan ini di tempat lain? Anda tahu kalau aku dan Reyan bersahabat."
"Sahabat macam apa yang panas melihatmu bersama dengan laki-laki lain?"
Mendengar itu membuat Reyan mengernyit. Sungguh. Dia mengatai Reyan seperti anak kecil, tapi justru dia yang bertingkah seperti anak kecil.
"Bisa kah kamu mengusir dia sekarang, Melia? Apa dia tidak tahu kalau dia sedang menggangu kita yang ingin berpacaran?"
"Pak! Jaga ucapan anda."
__ADS_1
"Aku sangat ingin menciummu sekarang, tapi temanmu ini membuatku sungkan melakukannya."
"Sial!"
Reyan bangkit dan buru-buru ingin memukul wajah Anderson, tapi untung saja Anderson bisa langsung menghindar sehingga pukulan itu tidak mengenai wajah Anderson.
"Wow. Boleh juga kamu, bocah."
"Reyan?!" Melia membungkam mulutnya sendiri. Sungguh. Emosi Reyan mungkin sudah benar-benar tersulut hingga Melia harus segera menarik tangan Reyan.
"Reyan?"
Sepertinya Reyan sudah muak dengan semua hal menjijikkan yang ditunjukkan oleh laki-laki ini. Buru-buru Reyan bangkit, ia melepaskan tangan Melia dan segera melangkah mundur dari sini.
"Sepertinya, aku harus membuktikan dulu betapa jahatnya orang ini agar kamu bisa membuka mata, Mel," ucap Reyan sebelum akhirnya melangkah pergi keluar dari rumah Mia.
"Reyan?"
"Pak Anderson! Anda harus meminta maaf!"
"Da da! Bye bye!" Anderson malah melambaikan tangannya ke arah Reyan yang kini mulai menaiki motornya.
"Pak Anderson! Anda seperti anak kecil!"
Sebelum Melia mengomel lebih jauh lagi, Anderson menarik tangan Melia untuk masuk ke dalam rumahnya. Mengunci pintu itu rapat-rapat dan menyudutkan Melia di ujung dinding.
"Pak ...? Apa yang bapak lakukan?"
Sorot mata Anderson berubah seratus delapan puluh derajat. Tiba-tiba saja Anderson sudah meremas kedua bahu Melia dengan sangat keras. Menatap dalam-dalam dengan sorot mata tajam, berbeda sekali dengan tatapannya beberapa waktu yang lalu saat di luar rumah.
"Katakan padaku, Melia. Apa pun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan aku."
"Pak, anda ...?"
"Katakan! Berjanji lah, apa pun yang terjadi jangan pernah mempunyai pemikiran untuk meninggalkanku."
"P-Pak?"
"Berjanji lah, Mel."
"Ya, aku janji."
Dan kata-kata itu benar-benar melegakan. Paru-paru Anderson seperti langsung terisi dan mampu bernapas seketika karena sudah beberapa hari ini terasa sesak.
"Aku pegang janjimu."
"Sebenarnya, ada apa?"
__ADS_1
Tapi Anderson langsung memeluk Melia erat-erat.