
Terkadang tidak butuh kata lagi untuk menjelaskan semuanya. Mereka kemudian tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing, hanya saling tatap, menunduk dan tertegun dan kemudian menarik napas panjang lagi.
Makan malam mereka telah usai, tapi perasaan mereka yang belum usai. Penyiksaan itu nyatanya memang menyakitkan, tapi rasa cinta yang masing-masing mereka rasakan, ternyata jauh lebih menyedihkan.
Melia meremas tangannya sendiri menatap pada nampan makanan yang sudah kosong di atas meja. Menunduk tanpa berani menatap ke arah Anderson.
Sedangkan Anderson juga tidak mempunyai keberanian lagi menatap Melia, ia menunduk menyesali perbuatannya. Mengutuk tindakannya dulu yang memang keliru. Kenangan itu nyatanya masih terasa menyakitkan. Perasaan bersalah masih terus membekas entah sampai kapan. Sesekali ... bahkan Anderson masih tampak menyeka air matanya.
"Kamu juga harus istirahat ..." tiba-tiba Melia mengatakan hal itu. Meremas tangannya sendiri karena tidak tahan melihat bawah mata Anderson yang benar-benar sudah tampak seperti panda.
"Lagi pula, sudah sejak kapan kamu tidak tidur?"
Anderson terperangah.
Melia ternyata masih memperhatikannya ...
"Menurutmu, setelah apa yang sudah terjadi ... aku bisa tidur?"
Sedangkan Melia tampak meremas ujung selimut yang ia kenakan. Lalu beberapa saat kemudian ia menggeleng. Buru-buru Melia mengambil selimut dan segera tidur menghindarinya.
"Terserah kamu saja ..."
Anderson hanya bisa mengamati Melia yang kini sudah memejamkan mata dan tidur memunggunginya. Memperhatikan setiap detail napasnya yang tampak dari belakang dan menenangkan.
Melihat Melia yang sudah mulai bicara padanya sedikit membuat bibir Anderson tersungging. Rasanya sangat menghangatkan. Selama bertahun-tahun Anderson membuntutinya, bohong rasanya kalau Anderson tidak tahu bagaimana sikapnya yang sudah mulai mencair menerimanya.
"Aku cinta kamu, Mel ..."
Melia terpejam. Entah itu hanya pura-pura saja atau bukan.
Tapi ...
Tidak ada hal yang paling membahagiakan di sini selain melihat Melia yang mulai menerimanya. Nyatanya, air mata itu menetes lagi meski sekuat tenaga Anderson tahan.
Dan ketika samar-samar Melia mendengar Anderson mulai menangis lagi, ia menoleh ...
Tapi, baru saja Melia bangkit, Anderson sudah turun ke atas ranjang dan memeluk Melia dari arah belakang.
"Apa yang kamu ..."
"Tolong seperti ini sebentar saja."
Dan Anderson mengunci Melia untuk tidak bisa bergerak lagi dari sisinya. Memeluknya dari belakang dan menenggelamkan kepalanya pada bagian tengkuk Melia bagian belakang.
"Lepaskan aku."
"Terima kasih,"
Melia berusaha untuk lepas darinya, tapi begitu melihat mata Anderson yang kemudian terpejam dan terdengar dengkuran lirih yang teratur, membuat Melia membatalkan apa yang ingin ia lakukan.
Anderson tertidur ...
***
Pagi hampir menjelang, dan mereka tetap berpelukan. Entah bagaimana mulanya ketika Melia membuka mata, yang ia lihat pertama kali adalah Anderson, yang masih terlelap, tidur dalam pelukan dan masih terdengar dengkuran lirih yang entah kenapa terasa sangat menenangkan.
__ADS_1
Kilas balik masa lalu mulai berjalan beriringan di kepalanya. Saat-saat di mana kehidupannya memang terasa sangat mudah dan berjalan tanpa masalah.
Dulu, Melia pikir dia mempunyai banyak keberuntungan. Namun ternyata ia salah, Anderson lah orang yang selama ini mempermudah segala urusannya, campur tangan dalam segala hal dalam kehidupannya. Berjalan beriringan ... tanpa pernah Melia tahu.
Tanpa sadar, Melia mulai meraih wajah itu, mengusap setiap inci bagian dari wajah itu dan kembali mengamatinya lekat-lekat.
Selama bertahun-tahun, laki-laki ini ternyata sangat menderita. Wajah sembab itu semakin membuat Melia ingin menyentuhnya lagi.
Tapi sedetik kemudian, Melia menarik tangan itu ...
Pikirannya terpecah ...
Apakah yang ia lakukan adalah termasuk mengkhianati orang tuanya sendiri ...? Membuat Melia memejamkan mata dan hatinya kembali sakit ketika mulai memikirkan betapa kurang ajarnya dia.
Melia hanya tidak tahu harus berbuat apa ...
Sedikit membuat Melia kembali dihadapkan fakta oleh kenyataan yang menyakitkan.
"Kenapa kamu bangun tapi tidak membangunkan aku?"
Melia kaget saat ia mendongak ia sudah melihat Anderson membuka mata dan menatapnya nyalang.
Buru-buru Melia bangkit, tapi Anderson tiba-tiba menarik tangannya hingga Melia jatuh ke dalam dekapannya.
"Lepaskan aku,"
Anderson menggeleng dan kembali memeluknya erat-erat.
Dalam dekapannya Melia dapat merasakan jantung Anderson berdegup dengan sangat kencang. Dekapannya terlalu erat hingga Melia benar-benar merasakannya.
"Lepaskan aku, ini benar-benar sesak."
Anderson menggeleng. "Sebentar lagi saja ..."
Melia menarik napas.
Kenyataannya ... Anderson membohongi Melia, Anderson memeluknya dengan begitu lama.
"Aku cinta padamu entah sudah ke berapa kali aku katakan itu."
Melia menelan salivanya. Ia ingin mengatakannya juga, tapi semua itu tertahan. Perang batin ini selalu menyakitkan.
"Bisa kah sekarang kamu mengantarku pulang?"
Mendengar hal itu, tiba-tiba membuat mata Anderson melebar lagi. Anderson melepas pelukannya dan menatap Melia dalam-dalam. Air mata yang tiba-tiba mengalir di sudut mata Melia membuat Anderson langsung menghempaskan Melia ke atas ranjang, menindih Melia hingga Melia berada di bawahnya.
Anderson pikir ... Melia sudah memaafkannya.
"Melia ... katakan padaku, kenapa kamu terus mengatakan itu?"
Melia tidak mau menjawab. Ia mengalihkan pandangan menjauh dari Anderson.
"Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?"
Melia meremas tangannya sendiri.
__ADS_1
"Katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar kamu benar-benar yakin padaku. Aku akan melakukan semuanya agar kamu mau memaafkan aku."
"Aku sudah katakan aku memaafkanmu."
"Lalu ...?"
Air mata itu menetes lagi.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya menganggu pikiranmu."
"Aku hanya takut, jika aku bersamamu, itu akan membuatku menjadi pengkhianat."
Dan Anderson paham akan apa yang Melia ucapkan.
"Aku mohon jangan berkata seperti itu." Anderson lagi-lagi mengunci kedua tangan Melia berada di atasnya.
"Izinkan aku membuktikan pada orang tuamu bahwa aku bisa menjagamu. Aku tidak bisa membuktikannya padamu sekarang, tapi aku bisa membuktikannya nanti bahwa aku tidak akan pernah menyakitimu sampai akhir
Aku akan benar-benar membuktikannya sehingga orang tuamu di atas sana juga bisa memaafkanku."
"..."
"Menikah lah denganku, Melia."
Mata Melia melebar saat mendengar Anderson mengatakan hal itu.
"Aku mohon jangan ucapkan hal-hal itu lagi karena kamu tahu aku tidak bisa hidup tanpamu."
Air mata itu mengalir lagi.
"Aku cinta padamu, Mel. Aku berani bersumpah bahwa aku akan membuatmu orang yang paling berbahagia di muka bumi ini sehingga orang tuamu tahu, bahwa aku akan menjadi orang yang paling bertanggung jawab dan merelakanmu untukku."
Anderson mengusap air mata itu.
"Kamu tahu kalau aku tidak sanggup berpisah denganmu. Bahkan, ketika saat tidak bersamamu saat kamu kabur, rasanya benar-benar seperti ingin mati."
"..."
"Melia?"
Melia menarik napas panjang menahan nyeri yang menyakitkan. Ucapan Anderson yang sungguh-sungguh itu benar-benar membuat Melia tercekik. Saat tidak bersama Anderson, Melia pun juga merasakan hal yang sama.
"Menikah lah denganku."
Dan pada akhirnya pertahanan Melia runtuh juga. Melia kemudian mengangguk, menerima lamaran itu dan menyetujui permintaan Anderson untuk menikah dengannya.
Melihat hal itu, perasaan Anderson membuncah. Tidak ada hal yang paling membahagiakan selain ini, penerimaan Melia adalah segala-galanya bagi Anderson.
Anderson menangis terharu, pun dengan Melia. Mereka pun berpelukan, menangis, dan melepaskan seluruh perasaannya.
"Aku mencintaimu, sangat ..."
"Aku juga mencintaimu."
Dan pelukan itu kembali erat, sampai-sampai mereka enggan untuk melepaskannya.
__ADS_1