
Dan pada akhirnya, Reyan membawa Melia sampai ke tempat ini. Di sebuah kedai kopi tempat Melia bertemu pertama dengan Reyan setelah sekian lama.
"Aku ingin capuccino dan cake strawberry. Ayo turun."
"Rey, lain kali jangan kencang-kencang.
"He he he. Maafkan aku." Reyan terkekeh sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Melia. Tapi kemudian, Reyan dengan cepat menarik tangan Melia untuk masuk ke dalam. Tapi sebelum itu, ia melirik ke arah belakang, menatap pada ujung jalan dan ternyata, tidak ada tanda-tanda keberadaan Anderson.
Reyan menyeringai lagi. Mobil mahal itu ternyata, kalah dengan motor yang ia gunakan.
***
Suasana kafe ini begitu ramai. Membuat Reyan terpaksa harus rela duduk di luar ruangan dengan tenda yang disediakan.
Tapi tidak mengapa, suasana bukan kah malah semakin romantis karena dengan mereka duduk di sini, mereka bisa melihat hiruk pikuknya jalan raya kota Jakarta dan mengenang tentang masa lalu.
"Aku seperti kembali ke masa SMA, aku sering mengajakmu jalan-jalan di malam hari kan?"
Melia hanya menanggapinya dengan mengernyitkan dahi. Entah lah, semakin ia coba, Melia semakin tidak bisa ...
Masa lalu mereka memang indah untuk dikenang. Tapi, Melia hanya merasa kosong saat Reyan kembali mengungkit tentang masa-masa itu.
"Mel? Makan lah. Kenapa hanya melamun saja?"
"Oh, iya. Maaf."
"Kamu ingin ke pantai Mel? Apa kamu tidak ingin minum air kelapa saat kita libur semester kuliah?"
"Eh?"
Dan lagi-lagi Reyan seperti ini. Membuat Melia semakin bingung harus menanggapi apa.
"Mel?" Tiba-tiba Reyan menyentuh pipi Melia, tapi entah kenapa, Melia menghindar dengan perlakuan Reyan.
"Emm, Rey. Jangan seperti ini."
"Kenapa? Apa aku salah menyentuh pacarku sendiri?"
Dan ucapan Reyan semakin membuat Melia terhenyak kaget. Melia mengerutkan dahi ketika Reyan mengatakan itu kepada dirinya.
Ya Tuhan, sepertinya Reyan sudah salah mengartikan.
"P-pacar?"
__ADS_1
Reyan mengangguk cepat. "Dari dulu, memang kita tidak pernah ada kata putus kan?"
Melia menelan salivanya pasrah. Jujur, ia mulai tidak nyaman dengan situasi ini. Melia menyesal, seharusnya saat di kafe kemarin, Melia harus memperjelas semuanya.
"Rey, sebenarnya aku ..."
Tapi sebelum Melia mengatakan tentang sesuatu, tiba-tiba dari ujung sana terdengar deru mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Sebuah decitan panjang terdengar memekakkan telinga ketika mobil itu berhenti tepat di depan kafe.
Rosa yang ada di dalam mobil kaget bukan kepalang.
"Pak?"
Anderson tidak memperdulikan Rosa sama sekali. Buru-buru ia keluar dari mobil itu dan menggebraknya keras-keras.
Melia terkesiap. Ia juga kaget akan suara gebrakan pintu itu, dan begitu Melia menoleh, ia mendapati Anderson sudah berdiri di sana. Dengan muka yang merah padam menahan amarah yang meluap.
Melia langsung berdiri melihat Anderson yang sekarang ada di seberangnya. Sedangkan Reyan, langsung melemparkan tatapan tajam ke arah Anderson.
"Pak Anderson?"
Mereka bertiga membeku secara hampir bersamaan.
Lalu ada Rosa yang sepertinya masih tidak tahu menahu dengan situasi yang sedang ia hadapi. Masih dengan pura-pura pincang, ia pergi ke arah Anderson. Merangkul tangan Anderson secara tiba-tiba hingga membuat Reyan, Melia dan juga Anderson sendiri kaget dengan yang dilakukan Rosa.
Dan yang paling kaget adalah Melia. Saat melihat Anderson dirangkul mesra seperti itu oleh Rosa, sahabatnya sendiri.
Dan tiba-tiba, ada rasa ngilu yang tidak tertahankan.
Rosa dengan Anderson.
Sejak kapan mereka ...?
Entah kenapa rasanya sungguh sesak. Ketika menyadari bahwa Anderson seperti itu dengan perempuan lain ada rasa tidak rela bergejolak di dalam hatinya.
Biasanya, Anderson akan menempel terus padanya. Dan ketika melihat Anderson sepertinya sudah move on, kenapa rasanya sangat ...
Melia menahan napas seper sekian detik. Tangannya tiba-tiba mengepal dengan sangat erat.
Ada pepatah mengatakan ...
Kamu harus kehilangan sesuatu, sebelum kamu sadar betapa pentingnya itu untukmu.
"Melia?" Dan Reyan adalah orang yang pertama kali menyadarkan Melia. Ia menyentuh bahu Melia ketika Melia terbengong melihat Anderson digandeng oleh perempuan lain.
__ADS_1
Hati Anderson semakin panas dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Reyan. Bisa-bisanya ia kembali menyentuh wanitanya seperti itu di depan mata kepalanya sendiri.
"Pak Anderson?" Tapi Melia malah mendesiskan nama itu.
Rosa yang masih tidak mengerti dengan semua situasinya semakin mempererat rangkulannya. Ia menarik tangan Anderson untuk masuk ke dalam kedai.
"Ayo pak, aku ingin makan cake."
Sungguh. Rosa masih tidak sadar bahwa sedari tadi ada Melia berada di sini. Dan ketika Anderson terus menatap tajam ke arah lain, Rosa mengikutinya.
Rosa membungkam mulutnya sendiri ketika pada akhirnya ia baru sadar. Saat Rosa melihat Melia berada di tempat ini. Sama-sama berdiri kaku dan saling menatap ke arah Anderson.
"Me-Melia?" Rosa tergagap. Buru-buru ia melepas tangannya dari Anderson.
Melia menahan napas. Ekspresinya sangat sulit untuk disembunyikan. Ada air mata yang tanpa sengaja menetes di sana. Ada penyesalan, karena seharusnya perempuan yang berdiri di sana bersama dengan Anderson adalah dirinya.
Dan Anderson semakin membeku dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Melia. Sebuah ekspresi yang baru pertama kali Anderson lihat setelah sekian lama.
Bertahun-tahun Anderson menguntit Melia sampai sekarang. Dan Anderson baru pertama kali melihat ekspresi Melia seperti ini.
Sebenarnya, Anderson akan langsung datang ke arah Melia. Tidak perduli ia akan membuat keributan di kafe ini dan langsung menarik Melia paksa untuk ikut dengannya. Silahkan saja kalau Reyan akan mempertahankan Melia, tapi dia pasti akan merebut Melia meski pun dia harus membunuh Reyan saat ini juga.
Tapi tiba-tiba, ekspresi Melia merubah semuanya. Merubah semua yang sedang direncanakan oleh Anderson.
Bertahun-tahun Anderson menguntit Melia, bohong rasanya jika Anderson tidak tahu ekspresi macam apa yang sedang ditunjukkan oleh Melia.
Dan hari ini, Anderson akan membuktikan tentang satu hal. Ia harus membuktikannya hari ini juga.
Dan tiba-tiba, Anderson malah menarik tangan Rosa. Membuat Melia semakin kaget dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Anderson.
Tiba-tiba, hatinya terasa semakin sakit dan tersayat perih. Melihat Anderson menarik tangan perempuan lain tiba-tiba mampu membuat matanya berkaca-kaca.
Seharusnya, bukan kah aku yang ada di sana?
Tanpa sadar, Melia terus menatap ke arah mereka berdua. Saling tersenyum dan memesan makanan di kedai ini.
Astaga, apa aku sudah gila?
Perasaan macam apa ini?
"Emm, aku harus pulang Rey."
"Tapi Mel."
__ADS_1
Sedangkan Anderson di sana, sedang tersenyum penuh kemenangan.