
Suara kecelakaan itu masih terngiang-ngiang di telinga Anderson muda kala itu. Suara tiga tempat tidur yang didorong menuju ruang IGD terdengar begitu menyayat hati.
Seorang gadis muda menangis tersedu-sedu. Ia terus menerus memanggil Mama Papanya berulang kali. Air matanya menetes deras, ia terlihat begitu frustrasi ketika ia melihat salah seorang dokter memacu jantung Papanya berulang kali.
"Mama! Papa!"
Gadis itu nekat bangkit. Tidak ia perdulikan lagi seluruh tubuhnya yang terluka, darah yang terus menerus keluar itu, mungkin juga sudah tidak ia rasakan lagi.
"Papa!"
Seorang dokter berulang kali memompa jantung Papanya berulang kali, tapi sampai saat ini dengkingan nyaring itu terus berbunyi. Membuat gadis kecil itu semakin frustrasi. Ketika para suster menghampirinya untuk menyembuhkan luka itu, ia malah mendorong para suster itu dan nekat menyabut jarum infusnya.
Lalu, terlihat gelengan kepala dari dokter yang menandakan bahwa Papanya sudah tiada, gadis itu semakin menangis meraung-raung.
"Papa!!! Jangan Dok, tolong! Selamatkan Papa saya!!!"
Belum selesai rasa khawatir dan terkejutnya gadis itu, tiba-tiba dari arah lain, terdengar juga suara dengkingan nyaring. Sebuah tanda garis lurus dari arah layar benar-benar membuat gadis itu kembali syok.
Wajahnya pucat pasi, matanya melotot tajam dan ia dibuat membeku seketika.
"Mama ..."
Gadis itu berteriak histeris. Kedua tangannya bergetar hebat. Belum selesai rasa dukanya ketika ia baru saja kehilangan Papanya, tapi sekarang ...
Sungguh. Ia sudah hampir gila. Beberapa suster ingin membantunya, tapi gadis itu kembali mengamuk dan mendorong semua suster. Ia terjatuh, darah kembali mengucur deras dari kepala, tangan dan kakinya tapi ia tidak perduli.
Gadis itu terseok-seok. Tertatih dan langsung menghampiri Mamanya yang membeku di sana. Ia terus berusaha mengguncang-guncangkan tubuh Mamanya berulang kali tapi gadis itu tetap menemukan fakta bahwa Mamanya telah meninggal ...
Dunianya seperti hancur begitu saja. Kecelakaan itu telah berhasil merebut semua cahaya dalam hidupnya.
"Dokter!!! Dokter! Tolong Mama saya! Tolong Papa saya!"
__ADS_1
Tapi sepertinya, semua usaha gadis itu tidak membuahkan hasil. Ia tetap menemukan fakta bahwa kedua orang tuanya telah meninggal.
Ia menangis terisak-isak. Seluruh dunianya tiba-tiba saja langsung hancur berantakan. Ia tidak tahu lagi bagaimana ia bisa melanjutkan hidup tanpa kedua orang tuanya.
"Nona ... tenang lah." Begitu ucap salah seorang suster dan kembali menarik gadis itu untuk segera berbaring. Karena demi apa pun, jika luka gadis ini tidak segera diobati, itu juga akan berakibat fatal. Gadis ini mungkin akan mengalami hal yang lebih parah lagi.
Gadis itu meronta, tapi beberapa petugas medis tetap memaksanya meski pun dengan cara yang sedikit keras. Gadis itu hanya berulang kali berteriak memanggil Papa dan Mamanya.
"Papa!!! Mama!!!"
Di balik itu semua, ada seseorang laki-laki muda yang diam-diam mengamati gadis itu dari kejauhan.
Laki-laki muda itu mengernyit di balik kaca saat melihat dengan mata kepalanya sendiri semua kekacauan ini.
Matanya mengernyit, ia hanya menarik napas panjang dan malah mengacak-acak rambutnya. Ia tidak tahu kalau kesalahan kecil yang ia buat, mampu membuatnya menangis.
"Dasar cengeng," celetuknya.
"Pembunuh!!! Papa dan Mamaku dibunuh!!! Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh!"
Laki-laki muda itu terhenyak kaget. Kakinya dibuat kaku untuk melangkah.
"Pembunuh? Aku pembunuh? Apa dia gila? Aku hanya tidak sengaja."
Lalu terdengar langkahan kaki tergopoh-gopoh. Seorang laki-laki tua dengan rambut putih datang ke arah laki-laki muda itu.
"Jadi bagaimana? Apa kamu sudah membereskannya?"
Laki-laki tua itu mengangguk.
"Ya, Tuan."
__ADS_1
"Apa kamu sudah menyuruh orang untuk mencari penggantiku?"
"Ya, Tuan."
"Pastikan tidak ada kesalahan satu apa pun."
"Baik, Tuan muda."
"Kirimi dia uang. Semua makhluk hidup di dunia ini pasti akan sangat menyukai uang. Anggap saja itu bayaran karena orang tuanya yang meninggal. Gadis itu pasti akan lupa dengan tangisannya malam ini ketika melihat tumpukan uang yang aku kirim."
"Bereskan semuanya. Aku tidak ingin ada satu kesalahan apa pun." Ucapnya lagi dan kali ini, dia melengang pergi.
Tapi, sebelum ia melangkahkan kaki, lagi-lagi ia menatap ke arah gadis kecil itu yang masih bersimpuh dan menangis meraung-raung.
Ada sedikit rasa ngilu saat laki-laki muda itu masih melihat perempuan itu menangis. Karena walau bagaimana pun, dirinya sadar bahwa memang karena dirinya, orang tuanya meninggal.
Tapi tiba-tiba laki-laki muda itu menggeleng.
Tidak. Ini hanya tidak sengaja. Semua orang pasti pernah melakukan sedikit kesalahan. Ya, sedikit kesalahan. Lagi pula besok dia akan mengiriminya uang bahkan jumlahnya mungkin sampai berkali-kali lipat, dan sudah dapat dipastikan kalau dia pasti akan segera lupa akan tangisan yang ia tumpahkan hari ini.
"Oh, iya tuan ..."
"Apa lagi?"
"Ini data yang anda minta baru saja. Di dalam map cokelat itu ada nama, sekolah sekaligus alamat tempat tinggalnya. Dan namanya ..." laki-laki tua itu mencoba mengingat-ingat. "Melia, tuan Anderson ..."
Anderson menghela napas.
"Ya ya ya. Aku tidak butuh itu. Ambil saja." Dan untuk yang kesekian kalinya Anderson melirik ke arah jendela kaca.
"Well, Melia? Namanya bagus juga." Dan kali ini Anderson muda benar-benar melengang pergi.
__ADS_1