
Dan hari, ternyata berjalan dengan begitu cepat. Tanpa terasa, sudah hampir tiga hari Melia dirawat di rumah sakit dan Anderson lah yang selalu ada untuknya di saat-saat paling sulit dihidupnya.
Anderson masih menggenggam erat tangannya. Menatapnya dengan penuh cinta tanpa membiarkan Melia sedetik pun tidak bersamanya.
Melia menahan napas. Senyuman Anderson nyatanya memang menenangkan. Perlahan mengubur semua pertanyaan yang selalu berada di otaknya dan menjadi lebih egois dan munafik bagi Melia.
Bahkan, semua perkataan Reyan yang menceritakan betapa jahatnya sosok Anderson, Melia lebih memilih menutup mata. Menutup semua telinganya karena mungkin saja Melia takut ...
Melia tanpa sadar mulai ketakutan karena jika apa yang dikatakan Reyan adalah benar. Melia pasti akan lebih memilih untuk meninggalkan Anderson.
Dan Melia ... benar-benar tidak sanggup jika harus memilih opsi untuk pergi meninggalkan Anderson.
Cinta ... apa memang sebegitu gilanya perasaan itu? Yang Melia tahu, Melia sudah terlalu jauh menggantungkan hidupnya untuk Anderson.
"Kenapa kamu melamun, sayang ...?"
Melia tersentak saat tiba-tiba Anderson menyisir anak-anak rambut Melia ketika Melia mulai melamun dan memandang ke arah jendela. Melihat gerimis yang mulai turun dan membasahi dunia.
"Aku ...? Ah, tidak."
"Katakan, apa yang sebenarnya sedang kamu pikirkan?"
Lagi-lagi Melia menggeleng lagi. Meremas tangannya tapi Anderson malah menarik salah satu tangannya.
Anderson mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Mengambil sebuah cincin dan menyematkan kembali cincin itu ke jari manisnya.
"Jangan pernah lagi melepaskan cincin ini."
Dan lagi-lagi, pertahanan Melia runtuh. Setitik air mata jatuh dan Anderson langsung menyekanya.
"Kamu tahu, sama seperti halnya hari ini. Aku tidak akan pernah melepasmu. Dan berkali-kali pun kamu ingin pergi nantinya, aku tidak akan membiarkanmu pergi."
Melia menahan napas. Anderson memang selalu seperti ini.
Anderson merengkuh wajah itu. Tatapan mata Melia yang tampak kacau mampu menjelaskan semuanya.
"Kenapa, Melia? Apa yang sebenarnya kamu pikirkan?"
"Apa ... aku bisa mempercayai bapak ...?" Tiba-tiba kalimat itu meluncur deras dari mulut Melia saat ini. Seberapa keras ia berusaha untuk menutup mata, kenapa ia masih saja dibuat penasaran dengan semuanya?
"Apa kamu masih kepikiran dengan apa yang Reyan katakan kepadamu?"
Melia mendongak saat Anderson mengatakan hal itu. Kenapa Anderson tahu apa yang saat ini berada dalam pikirannya?
"Kamu tahu aku, Mel. Aku bahkan tahu setiap detail tentang hidupmu."
"J-jadi ..."
"Bisa kah sekali ini saja kamu mempercayaiku? Dan aku berjanji ... semua akan baik-baik saja ..."
__ADS_1
"Bapak belum menjawab pertanyaan saya."
Tapi Anderson menggeleng.
"Percaya padaku kalau semuanya akan baik-baik saja."
"Tapi anda mengerikan ..."
"Tapi paling tidak, aku tidak pernah menyakitimu."
Melia bahkan tidak mendapatkan jawaban apa pun dari Anderson. Hanya sebuah kalimat ambigu yang membuat Melia benar-benar kebingungan.
"Aku mohon, Melia. Percaya lah padaku dan semua akan baik-baik saja."
Melia meremas tangannya sendiri.
"Katakan, apa yang kamu mau? Apa yang kamu inginkan agar aku tidak tampak mengerikan bagimu?"
"..."
"Bahkan daftar hitam yang anda kirimkan, masih tampak begitu mengerikan."
Anderson menghela napas sejenak. "Aku akan menghapus semua daftar hitam yang kemarin aku buat. Untuk Jinny dan semua karyawan yang pernah masuk ke dalam daftar itu, aku janji akan menariknya sesegera mungkin. Karena bagiku, sepertinya itu sudah impas, karena kamu telah kembali padaku."
Melia merasa lega. Paling tidak, salah satu beban yang ikut ia pikirkan, menguap begitu saja.
"Tapi ... anda belum menjawab pertanyaan saya."
"Tentang dugaan bahwa aku yang menguntitmu selama ini? Tentang aku yang hampir membunuh Boby salah satu rekan kerjamu? Tentang aku yang menghancurkan hidup Reyan dan membuang seluruh keluarganya?"
Melia menahan napas.
"Bahkan jika benar kalau aku lah yang memang melakukannya. Aku tidak akan pernah membuatmu lepas dariku, Melia."
"..."
"Kita harus ke Perancis sekarang juga."
Dan mata Melia melebar begitu saja.
"A-apa?!"
"Dan kita akan melangsungkan pernikahan setelah kita tiba di Paris besok pagi."
"Tunggu. Apa yang baru saja kamu katakan...?!"
Anderson menggeleng. "Maaf, tapi aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi."
"Bahkan kamu belum menjawab semua pertanyaanku." Air mata itu nyatanya semakin menetes deras.
__ADS_1
Dan tiba-tiba Anderson berdiri. Menelingkup wajah Melia lagi dan menatap dalam-dalam mata itu.
"Aku mohon, untuk kali ini saja. Turuti permintaanku. Bisa kah kali ini saja kamu menutup mata?! Menutup telinga dan tidak memikirkan hal-hal lain lagi?! Kamu sudah tahu kalau aku mencintaimu."
"Tapi ..."
"Katakan kalau kamu juga mencintaiku."
"Anda belum menjawab pertanyaanku."
"Katakan Melia."
Melia semakin menangis. Lagi-lagi pertahanan Melia runtuh ketika Anderson mengatakan bahwa dia mencintainya.
"Katakan ..."
"Aku mencintaimu."
"Bagus." Anderson menyeka air mata itu lagi dan lagi. "Dan mulai sekarang, jangan tanyakan apa pun lagi kepadaku. Karena kamu harus tahu, apa pun yang aku lakukan, itu semata-mata karena aku mencintaimu."
Dan saat ini, Melia sudah sama gilanya seperti Anderson. Dan mungkin, cinta memang segila ini ... bahkan Melia telah memutuskan untuk menutup mata dan telinganya dan hanya mempercayai orang yang saat ini berada di hadapannya.
"Aku mencintaimu, Mel. Sangat."
Dan tanpa sadar, Melia telah berubah menjadi orang yang egois, orang yang munafik dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Bahwa Melia, mungkin memang benar-benar ketakutan jika ia harus meninggalkan sosok Anderson jika dia tahu fakta mengerikan apa saja yang ada di dalam dirinya.
Ya, Melia telah egois. Bahwa tanpa sadar, ia sudah menjadi orang yang jahat untuk tidak memikirkan orang-orang yang ada di sekitarnya hanya demi bersama dengan laki-laki yang dicintainya.
Karena Melia ... telah memilih untuk menutup mata seperti apa yang diperintahkan oleh Anderson.
***
Dan di tempat lain, ada sosok lain yang terus menangis sedari tadi. Di dalam kamar dengan lampu remang-remang, Rosa tidak bisa menyembunyikan rasa traumatiknya ketika mengingat kejadian yang sudah ia alami sebelumnya.
Dua hari lalu, Rosa tertatih-tatih pulang sendirian. Laki-laki itu telah meninggalkannya bagaikan sampah.
Setelah itu, Rosa mengurung diri di dalam kamarnya. Bahkan juga sudah tidak keluar dari dalam kamar ini sejak kejadian waktu itu bahkan hanya untuk sekedar makan.
Lalu, tangisan itu perlahan menghilang. Rosa pingsan, dan ia terlelap karena tidak kuat merasakan sakit yang ada di sekujur tubuhnya.
***
GAISSSSS....!!!!!!
HUWAAAAAAAAAAAAA
AKHIRNYA AKU KEMBALI...!!!!!!!
HUWAAAAAA!!!! RASANYA KEK MAU NANGIS....!!!!!!!!!!!!!
__ADS_1
DAN MAKASIH ATAS SUPPORT NYA SELAMA INI.. TERIMA KASIH ATAS PERHATIANNYA!! TERIMA KASIH ATAS PENGERTIANNYA JUGA KARENA MENGIZINKAN AKU UNTUK BELAJAR DAN VAKUM UNTUK BEBERAPA SAAT.!!
DAN ALHAMDULILLAH ... AKU MAU NGUMUMIN KALAU KEMARIN AKU LOLOS.. SKD PERINGKAT PERTAMA DAN SKB JUGA PERINGKAT PERTAMA!!!!! MAKASIH ATAS DOANYA GAIS... KALIAN LUAR BIASA.. AKU MASIH TERHARU INI...