
"Mel, are you oke?" Saat Melia kembali ke kafetaria, Rosa tampak mengernyitkan dahi, Rosa lihat, wajah Melia menjadi berubah sangat pucat seperti terjadi sesuatu.
"Ah, tidak apa-apa, Ros," ucap Melia kemudian ia duduk di samping Rosa.
"Emm, Rosa ... sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan tentang kemarin."
"Oh, itu. Emm, tidak apa-apa Mel. Seharusnya aku yang minta maaf. Aku tidak tahu kalau kamu dan Pak Anderson ada hubungan."
"Ups." Rosa langsung membungkam mulutnya sendiri. "Apa kalian backstreet? Maaf, apa tadi suaraku sangat keras." Rosa celingukan ke kanan dan ke kiri karena takut jika ada orang yang mendengarnya.
"Emm, itu. Semuanya memang serba tiba-tiba."
Rosa menganguk.
"Maafkan aku."
"Hei? Kenapa kamu minta maaf Melia? Aku malah bersyukur kamu mempunyai pasangan sekarang kan."
"Aku tahu kamu menyukai Pak Anderson. Dan saat ini, gara-gara aku kembali, kamu tidak jadi menggantikanku menjadi sekretaris. Aku ... merasa bersalah padamu."
Rosa malah terkekeh dibuatnya. "Kamu tahu? Tugasku sebagai sekretaris kacau kemarin. Aku tidak sepertimu, Mel. Aku sangat kacau. Untuk itu aku malah bersyukur kamu kembali bekerja di sini."
"Sekali lagi, aku minta maaf."
"Tidak ada yang harus minta maaf di sini. Perasaan seseorang tidak mungkin dipaksakan. Ya, walau pun kemarin aku sudah berusaha, nyatanya Pak Anderson menolakku dan secara terang-terangan dia mengatakan bahwa dia jatuh cinta padamu."
Melia menahan napas.
"Aku tidak apa-apa, santai saja. Aku hanya patah hati selama beberapa waktu dan sudah sembuh kok."
Sungguh. Melia merasa terharu dengan semua ucapan itu.
Tapi tiba-tiba dari ujung sana, Melia tidak sengaja melihat segerombolan perempuan menatap ke arah dirinya dan juga Rosa. Melia tidak tahu sejak kapan mereka menatapnya tajam seperti itu.
Rosa mengikuti arah pandang Melia. "Kenapa Mel?"
"Ah, tidak. Tidak apa-apa."
Tapi tiba-tiba, segerombolan perempuan itu bangkit dari tempat duduknya. Membawa nampan makanan itu dan melewati Melia.
"Dasar penggoda."
"Eh?" Mata Melia dan Rosa terbelalak hebat.
"Hei, Rosa. Kenapa kamu masih berteman dengannya? Dia jelas-jelas mempermalukanmu. Aku tahu trik kotornya. Keluar dari perusahaan ini untuk memikat Tuan Anderson. Perempuan sepertimu pasti suka main tarik ulur."
"Apa yang kalian katakan?"
"Hei Rosa. Kenapa kamu masih membelanya? Disaat kamu diangkat jadi sekretaris, dia tiba-tiba datang ke sini lagi dengan tidak tahu malunya. Dia merebutnya lagi darimu. Ciih, dia ternyata setega ini."
Melia tercekat. Sedangkan Rosa tiba-tiba langsung berdiri untuk membela Melia, tapi Melia langsung menarik tangan Rosa sambil menggelengkan kepala.
"Sudah lah, Rosa. Mereka jangan diladeni."
"Tapi Mel, mereka ...?"
***
"Bagaimana Tuan? Sepertinya nona Melia diganggu oleh para perempuan yang terobsesi dengan anda."
Anderson melenguh sambil menatap ke arah cctv.
"Pecat mereka, Bram."
__ADS_1
"Baik, Tuan."
***
Melia sendirian di sini, mengusap mukanya pada wastafel sambil termenung memikirkan semua kata-kata yang sedari tadi menganggunya.
"Ternyata efeknya separah ini."
Melia menarik napas panjang, mengeluarkannya secara cepat sambil terus menenangkan hatinya.
Senja sudah datang dan ia masih berada di sini. Berada di dalam toilet dan berharap semua orang pulang duluan sebelum akhirnya Melia mengikutinya.
Bukan apa-apa, hanya saja Melia malah merasa takut bertemu dengan banyak orang.
Melia membasuh mukanya lagi, mengusap-usap mukanya dan tiba-tiba, ketika ia mengangkat wajahnya, Melia benar-benar kaget saat melihat ada sosok yang berada di depannya.
"Hei, sayang."
Melia hampir terjatuh dibuatnya. Anderson sudah berada di belakangnya sambil menyium bahu Melia.
"Pak Anderson? Kenapa anda tiba-tiba ada di sini?"
"Tentu saja merindukanmu. Sudah seharian ini aku rapat dan tidak bertemu denganmu, tentu saja aku kangen pada kekasihku kan?"
Tangan Anderson mulai bergerilya lagi. Menyentuh setiap inci tubuh Melia dan Melia malah ketakutan.
"Pak, ini di kamar mandi. Bagaimana kalau ada orang yang masuk?"
"Ini kantorku. Kenapa aku harus takut?"
Anderson semakin melangkah mendekat ke arah Melia.
"Bagaimana hari pertamamu bekerja setelah sekian lama Melia?"
"Pak ... saya ..."
Tiba-tiba terdengar sayup-sayup sebuah suara. Sepertinya ada segerombolan perempuan yang akan datang ke sini.
"Astaga, ayo cepat Bapak keluar. Bisa-bisa mereka tahu kalau Bapak?"
"Biarkan saja mereka memergoki kita. Lagi pula apa masalahnya?"
"Astaga ini di toilet wanita. Apa anda tidak takut di cap mesum?"
"Beri aku satu ciuman agar aku bisa keluar."
"Pak!"
"Satu ciuman saja atau aku akan tetap di sini."
"Pak?!"
Dan suara-suara itu semakin terdengar jelas. Mereka melangkahkan kaki akan datang ke toilet ini.
"Bagaimana Melia?"
Terpaksa Melia mencium pipi Anderson dan Anderson terkekeh dibuatnya.
"Astaga. Kenapa kamu menggodaku Melia?"
"Apa?!"
"Kamu tiba-tiba menciumku."
__ADS_1
"Pak. Ini tidak lucu. Dan bisa kah sekarang anda pergi?"
Anderson tertawa terbahak-bahak, tapi secepat kilat Anderson langsung bergegas keluar dari dalam toilet. Dan beberapa detik kemudian, dari arah lain, segerombolan perempuan masuk ke dalam toilet ini.
Ya ampun. Hampir saja.
Jantung Melia masih berdetak dengan sangat keras. Melia terpana dan membeku di tempatnya ketika gerombolan itu menatap sinis ke arah Melia.
Buru-buru Melia segera keluar dari tempat ini, membawa tasnya dan melengang pergi.
"Melia?!"
Rosa melambai-lambaikan tangan.
"Oh, Ros?"
Mereka bertemu di lobi depan. Dahi Rosa tampak mengernyit ketika menunggu Melia sekian lama.
"Kenapa lama sekali?"
"Oh, maaf. Aku tadi ... emm sakit perut."
"Oh, ayo sekarang kita pergi. Kita sudah membawa banyak buah untuk Boby."
Melia mengangguk-angguk. "Emm, ya."
***
Dan di sini lah mereka berada. Di sebuah taman rumah sakit dan Boby berada di kursi roda.
"Hey, Bob. Bagaimana keadaanmu?"
"Sebenarnya, aku tidak kecelakaan. Aku ditabrak oleh seseorang."
"Apa?"
Empat orang yang mendengar pengakuan Boby kaget bukan kepalang. Termasuk Melia di belakangnya.
"Astaga, apa kamu yakin?"
Boby mengangguk.
"Kalau begitu kamu bisa lapor polisi."
"Di sini lah anehnya, Ros. Setelah keluargaku melapor pada polisi, para polisi malah menyuruh kami untuk menyabut saja laporannya. Entah kenapa para polisi merasa yakin aku mabuk, padahal aku tidak mabuk sama sekali."
"Apa?"
Boby menghela napas. "Entah, sepertinya ada orang yang merekayasa semua ini."
Melia dan teman-teman lainnya juga ikut kaget dengan pengakuan Boby.
"Bob, apa kamu tidak ingat wajah orang itu? Wajah orang yang mencelakaimu?"
"Aku sempat melihatnya, tapi aku sendiri tidak yakin. Entah kenapa wajahnya mirip seperti orang suruhan Tuan Anderson."
Mereka saling pandang satu sama lain.
"Siapa?"
"Kalan tahu siapa sosok Bram kan?"
Dan mereka berempat membeku hampir bersamaan.
__ADS_1
"Hei, kamu bercanda?"
"Tapi sayangnya, aku tidak bercanda."