Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
CIUMAN


__ADS_3

Anderson mengerut. Dia berusaha untuk segera memutar otak. Tapi secepat kilat ia tersenyum ke arah Melia.


"Kamu sering tertidur di kantor dan kamu sering mengigau," ucapnya sambil melahap dimsum di atas meja ke arah mulutnya.


Mata Melia melebar saat mendengar akan hal itu. "Benar kah?"


Anderson tersenyum tapi kemudian mengernyit.


Melia kemudian melihat ke arah makanan yang terhidang di atas meja. Melia ingin menyentuhnya tapi ia sedikit ragu.


"Melia lihat lah kemari." Tiba-tiba Anderson mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk memotret Melia.


"Kenapa, Pak?"


"Ah, sial. Fotomu kabur."


"Eh?"


"Coba senyum sedikit lagi."


Melia malah salah tingkah. Ia sedikit kikuk saat Anderson mulai memotretnya untuk yang kedua kali.


"Ayo lah, senyum sedikit saja."


Mau tidak mau Melia tersenyum. Melia memamerkan giginya yang putih dan menatap ke arah kamera.


"Lihat lah. Kamu terlihat cantik jika seperti ini." Anderson sedikit tertawa dan tampak puas dengan hasil potretnya.

__ADS_1


Melia menaikkan sedikit alisnya. Jujur, ini pertama kalinya Anderson tampak normal di hadapannya. Biasanya Anderson selalu tampil mesum dan terus menggoda Melia. Tapi, hari ini ia berbeda .... Membuat Melia tanpa sadar menyunggingkan sebuah senyuman.


"Kenapa Mel?"


"Ah, tidak. Tidak apa-apa."


"Mau aku suapi?"


Melia mendongak. Tapi sebelum Melia menolak untuk yang kedua kalinya, Anderson berhasil menyuapkan makanan itu ke mulut Melia.


Ha ha ha. Anderson tertawa.


"Rasanya masih enak kan? Rugi rasanya kalau kamu tidak memakannya selama bertahun-tahun."


Ada sedikit rasa haru saat Melia mulai mengunyahnya. Dan Anderson menatap lekat-lekat saat Melia mulai merasakannya lagi, mencecapnya dan pada akhirnya menelannya.


Melia meremas tangannya.


"Untuk?"


"Membawa saya ke sini."


"Aku bahkan bisa mengajakmu setiap hari," ucap Anderson dan tanpa sadar membuat jantung Melia sedikit berdetak.


Melia terkekeh. Tapi, itu sudah cukup membuat Anderson syok sekaligus terpana ketika untuk pertama kalinya ia melihat Melia tertawa karena dirinya.


"Maaf, tapi ini pertama kalinya anda bersikap normal seperti kebanyakan orang."

__ADS_1


"Hey?! Jadi selama ini kamu menganggapku abnormal?"


Melia terkekeh lagi. Dan lagi-lagi, Anderson ikut bahagia melihat senyuman Melia.


"Jika sikapku yang seperti ini berhasil membuatmu tertawa dan membuatmu nyaman, aku janji setiap hari akan seperti ini, Melia."


"..."


"Kamu harus tahu, kalau tujuan hidupku hanya ingin memilikimu."


Dan kata-kata itu berhasil membuat pertahanan Melia runtuh. Wanita mana jika tidak berbunga-bunga jika mendengar kata-kata seperti itu?


"Aku jatuh cinta padamu, Mel. Sangat."


Melia membeku di sana. Ia menahan napas sepersekian detik ketika tubuh Anderson mulai berpindah dan duduk di sebelah Melia.


Mata mereka bertemu hingga situasi kembali canggung. Melia menggigit ujung bawah bibirnya saat merasa gugup. Dan jujur, tindakan Melia yang menggigit ujung bawah bibirnya itu membuat Anderson juga ingin melakukannya.


"Jangan. Jangan gigit bibirmu."


Melia mendongak. Ia baru sadar bahwa Anderson hanya berada sekitar lima belas senti meter dari hadapannya.


"Kenapa Pak?"


"Karena jika kamu melakukannya, aku juga ingin menggigit bibirmu."


Melia terpana. Jantung Melia terasa ingin copot saat mendengar Anderson mengatakannya. Tapi perlahan demi perlahan, Anderson mulai mendekatkan dan menyondongkan bibirnya ke arah bibir Melia.

__ADS_1


"Pak ... anda ...?"


Tapi, sepertinya Anderson tidak mau mendengar Melia. Ia kemudian meraih kepala Melia dan mulai mendekatkan bibirnya lagi.


__ADS_2