
"Jadi, bagaimana Mel? Kamu sudah menonton rekaman cctv itu?" Tanya Anderson. Menatap ke arah Melia yang sibuk memilihkan jenis lakban ke hadapan Anderson.
"Emm, ya sudah."
"Kalau begitu kamu juga sudah melihat tubuh telanjangku?"
Melia menahan napas. Mau tidak mau otaknya kembali traveling. Memikirkannya saja mampu membuat Melia malu, apa lagi saat ditanya langsung.
"Sudah saya bilang kalau saya tidak membutuhkan itu. Saya hanya ingin tahu ke mana bapak malam itu."
Anderson tersenyum di dalam hati. Jelas dia sudah tahu kalau Melia sedang berbohong. Membuat dia melenguh karena kenapa semua wanita sama saja? Terlalu munafik dan malu untuk mengakui bahwa dia juga menikmati tubuh lelaki.
"Kamu menikmatinya, Mel?"
"Pak! Bisa kah anda tidak membahas itu?"
"Ups." Anderson mengangkat kedua tangannya. Seperti menyerah untuk menggoda Melia lagi.
Tapi, Melia malah melirik ke arah Anderson. Curi-curi pandang ke arah Anderson ketika otaknya dipaksa memikirkan sesuatu hal yang terjadi tentang tadi malam.
Ya, Melia akui Anderson sangat tampan. Sosok nyata yang berdiri di depannya ini jauh lebih tampan dibandingkan dari rekaman cctv. Apa lagi, saat Melia melihat dengan dekat dan tidak lebih dari sepuluh sentimeter.
Tubuh itu memang atletis. Melia juga pernah merasakannya beberapa kali, saat di Bali waktu itu dan ...
Tiba-tiba Melia menahan napas. Ia menatap lagi Anderson dari atas sampai bawah. Melia akui Anderson baik kepadanya, mungkin jika Anderson tidak menakutkan dan suka melecehkannya, Melia pasti sudah ...
Astaga!
Buru-buru Melia mencari lakban kembali. Menggeleng-gelengkan kepala berulang kali ketika otaknya kembali traveling.
Sial! Aku kelepasan lagi.
"Mana lakban yang anda cari, Pak? Warna putih, merah atau hitam?"
Anderson terkekeh. "Menurutmu kamu suka yang mana?"
"Kenapa saya?"
"Itu untuk membekap mulutmu jika nanti di atas ranjang kamu terus mengomel padaku."
Melia kembali menahan napas. Pertahanannya hampir runtuh jika Anderson terus seperti ini.
"Lalu anda butuh apa lagi?"
"Tali."
Ya ampun, dia mencari barang aneh-aneh lagi.
Melia mencari ke sekeliling. Sebenarnya ada banyak contoh yang di bawah, tapi, Anderson malah menunjuk warna tali berwarna ungu yang ada di atas rak.
"Aku ingin itu. Sepertinya warnanya cocok dengan kulitmu."
Sungguh. Ucapan Anderson terpaksa membuat otak Melia kembali memikirkan hal yang tidak-tidak. Tapi, tidak ingin berlama-lama lagi, Melia segera berjinjit untuk mengambil itu.
"Butuh bantuan?"
__ADS_1
Tangan Melia tidak sampai. Tapi Melia terus memaksa untuk terus mengambil itu. Ia terus berjinjit berulang kali hingga membuat dia oleng sampai hampir terjatuh.
Tapi untung saja, Anderson dengan cepat menangkapnya. Dengan sangat sigap Anderson meraih tangannya dan dengan cepat menarik tubuhnya hingga setengah memeluknya.
Melia terjatuh di dada Anderson. Membuat Melia terpaksa mau tidak mau mencium aroma tubuh Anderson.
Hanya beberapa detik, tapi mampu membuat Melia menahan napas. Tangan Anderson yang merengkuh pinggang dan bahunya mampu membuat jantung Melia mulai berdegup tidak karuan.
"Sudah aku bilang kalau butuh bantuan katakan saja."
"M-maaf." Melia segera menarik diri dari tubuh Anderson.
Anderson benar-benar mengutuk kecerobohan Melia. Lalu, tanpa mendengarkan Melia lagi, Anderson yang malah mengambil tali itu. Mengukurnya dan memotongnya sendiri.
"Mulai besok, jangan kerja di sini. Penuh dengan besi dan alat berat. Aku khawatir kamu akan terjatuh lagi dan terluka."
Anderson masih mengomel seperti seorang Ayah yang memarahi anaknya. Kerutan yang ada di dahinya jelas-jelas mengatakan bahwa Anderson memang sangat khawatir dengan Melia dan semua kecerobohannya.
"Lihat lah!" Anderson menunjuk ke segala arah. "Semua alat di sini berbahaya. Ada obeng, besi, semen, gunting, palu, gergaji. Apa kamu tidak takut terluka?"
Melia menggigit bawah bibirnya sendiri. Amarah Anderson yang cerewet ketika mengkhawatirkan dirinya tiba-tiba saja membuat Melia teringat pada kedua orang tuanya.
"Maaf." Dan tiba-tiba saja Melia meminta maaf.
"Aku tidak sengaja. Lagi pula, aku butuh pekerjaan."
"Kamu bisa kerja di kantorku lagi."
Tapi Melia menggeleng.
Melia mengernyit. Bukan Anderson namanya kalau tidak bisa menyuarakan seluruh isi kepalanya. Membuat Melia hanya bisa mengangkat bahunya dan melihat ke sekeliling ruang. Tanda bahwa Melia memang takut dengan sikap bosnya yang seperti itu.
***
Melia membungkus semua pesanan Anderson, sepertinya Anderson masih jengkel dengan sikap Melia yang masih kekeh untuk bekerja di sini.
"Apa tidak bisa kamu pikir ulang?"
Melia menggeleng lagi.
"Kamu tahu kan kalau aku cinta padamu."
Melia mengernyit lagi.
"Menikah lah denganku, Mel. Untuk itu kamu tidak perlu bekerja keras."
Melia tetap menggeleng.
"Apa kamu yakin masih tidak ada tempat untukku?"
"..."
"Apa karena laki-laki itu? Laki-laki yang kemarin datang berboncengan denganmu?"
"Tidak ada hubungannya dengan Reyan."
__ADS_1
"Kalau begitu kenapa kamu terus menolakku?"
"..."
Melia menahan napas. Tanpa sadar ia kembali menggigit ujung bawah bibirnya sendiri.
"Baik lah kalau begitu. Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu dengan cara yang baik. Aku akan mendapatkanmu dengan cara yang kasar."
"Maksud bapak?"
Sepertinya Anderson sudah mulai lelah dengan argumen ini. Dia tidak menjawab apa pun kata-kata yang dikeluarkan oleh Melia lalu melengang pergi keluar dari toko ini.
***
"Bagaimana Tuan?"
"Usir Melia dari rumah itu, Bram. Persulit dia untuk tinggal di mana pun sampai dia mau tinggal di tempatku."
"Baik, Tuan."
Lalu, mobil itu melengang pergi. Menjauh dari toko tempat Melia bekerja.
Sepertinya Anderson tidak sadar, bahwa Melia mengamati mobil Anderson dari jendela kaca tempatnya berdiri.
Bukan hanya mengamati mobilnya saja yang pergi menjauh, tapi ... Melia juga meremas dadanya yang entah kenapa terasa sangat ngilu.
Ya Tuhan, perasaan macam apa ini?
***
Malam telah larut tapi Melia baru pulang bekerja hari ini. Bosnya meminta Melia untuk lembur dan sebagai pekerja baru, Melia tidak berani untuk menolak.
Untung saja, antara toko dan rumahnya tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk ia berjalan kaki. Dan ini lah salah satu alasan Melia menerima pekerjaan ini meski pun pekerjaannya sedikit berat.
Melia melangkah demi langkah. Ternyata berjalan di hari yang sudah malam ini terasa ngeri. Biasanya ketika dulu ia bekerja di tempat Anderson, ada bus yang langsung berhenti di pertigaan rumahnya. Tapi sekarang, jalan yang Melia lewati memutar dan tidak jarang melewati gang-gang sempit untuk pulang.
Melia melenguh panjang. Ia kemudian berjalan lagi selangkah demi selangkah. Bulu kuduk Melia tiba-tiba berdiri saat melewati gang yang sepi.
Melia menoleh ke segala arah, tapi tiba-tiba ia menangkap sekelebat bayangan yang muncul dari arah belakang.
Siapa itu tadi?
Jantung Melia berdegup dengan sangat kencang. Buru-buru Melia melangkah dengan cepat tapi anehnya bayangan itu kembali mengikutinya.
Melia semakin takut. Kini ia berlari, tapi semakin ia mempercepat langkahnya bayangan itu semakin cepat ingin menyusulnya.
"Astaga, siapa dia?"
Sungguh. Melia benar-benar ketakutan, tapi sayang, langkah Melia tidak cukup cepat hingga berhasil diikuti oleh bayangan itu.
"Siapa kamu?!"
Hmft!
Terlambat. Dengan tangan telanjang, sosok bayangan berjaket hitam itu membekap mulut Melia hingga Melia gelagapan.
__ADS_1