Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
APA YANG SEDANG IA RENCANAKAN?!


__ADS_3

Pada akhirnya Melia sudah sampai di tempat ini, di depan sebuah gudang yang menjulang tinggi ke atas bersama dengan berkas pengunduran diri.


"Kamu yakin akan datang hari ini juga?"


Melia mengernyit sekaligus mengangguk.


"Mau bagaimana lagi? Aku harus segera keluar dari perusahaan ini."


"Aku akan menunggu di sini, kalau ada apa-apa, cepat telefon aku." Reyan mengucapkan kata itu dan menunjuk pada sebuah tempat duduk yang ada di lobi.


"Kamu bisa pergi, Rey."


Tentu saja Reyan menggeleng. Tadi, Melia sudah sedikit banyak menceritakan tentang bosnya kali ini. Membuat Reyan khawatir akan keselamatan Melia.


"Tidak apa, Rey." Sesaat setelah itu, Melia melambaikan tangan, lalu melengang pergi untuk segera naik menuju lift.


***


Jantung Melia berdegup dengan sangat kencang saat ia sudah berdiri tepat di depan pintu ruangan Anderson.


Bagaimana tidak? Satu-satunya orang yang ia curigai bersama dengan Reyan adalah orang ini. Orang yang bernama Anderson, yang mampu melakukan segalanya.


Untuk itu, Melia sudah memutuskan untuk segera keluar dari perusahaan ini. Di dalam pikirannya, ia sudah menyiapkan banyak kata-kata untuk menjawab semua pertanyaan bosnya dan alasan yang harus ia ucapkan. Melia juga mempersiapkan serangan balik jika Anderson mulai mengancamnya.


Melia menarik napas panjang. Siap tidak siap, ia harus berani untuk menghadapi bosnya itu.


Melia mengetuk pintu itu. Tapi sampai ketukan ketiga, tidak ada jawaban. Biasanya Anderson akan bersemangat jika Melia datang kepadanya, tapi di dalam ruang, Anderson hanya diam saja.


Melia mulai merasa cemas, ia melirik ke arah Bram yang seperti biasa berdiri di dekat pintu.


"Bram, apa Pak Anderson tidak ada di dalam ruangan?"

__ADS_1


"Beliau ada di dalam."


Mendengar itu, Melia mengernyit. Karena ini, tidak biasanya.


Lagi-lagi Melia mengetuk pintu itu. Masih tidak ada jawaban, membuat Melia dengan sedikit lancang langsung membuka knop pintu itu untuk masuk ke dalam ruangan Anderson.


"Permi..."


Belum selesai Melia mengucapkan kata itu, Melia sedikit kaget ketika melihat sosok Anderson di sana. Berdiri membelakanginya sambil melihat ke arah jendela.


"Pak Anderson?"


Sosok Anderson yang tidak biasa itu malah semakin membuat jantung Melia berdegup. Keringat dingin mulai keluar hingga telapak tangan Melia basah karenanya.


"Pak Anderson?"


Baru panggilan kedua, Anderson mau menoleh, tatapan tajam itu langsung menghujam Melia hingga Melia menarik napas panjang. Anderson tampak mengernyit saat melihat sebuah berkas yang dibawa Melia di dalam dekapannya.


"Dari mana Bapak tahu ...?"


Satu hal lagi. Yang membuat Melia semakin curiga.


"Setelah hal kurang ajar yang aku lakukan padamu, aku sudah cukup pintar untuk menebak apa isi surat itu." Anderson langsung melangkah mendekat ke arah Melia. Membuat Melia menarik napas panjang dengan jantung yang bergemuruh.


Tapi secepat kilat Anderson langsung duduk, mempersilahkan Melia juga ikut duduk berhadapan dengan Anderson.


Melia semakin kebingungan dengan semua basa basi yang dilakukan oleh Anderson. Biasanya bosnya itu akan melakukan segala macam cara, mulai merayunya dan meledak-ledak. Berbeda sekali dengan Anderson yang hari ini tampak sangat santai dan tampak biasa saja.


Tangan Melia mengepal erat. Seluruh ingatan kilas balik perlakuan Anderson berputar-putar di dalam kepalanya. Tindakan kurang ajar Anderson yang terus melecehkannya, apa lagi sebuah kecurigaan terbesar Melia kepada Anderson mengenai apa yang sudah terjadi di dalam hidupnya, membuat Melia marah sekaligus benci terhadap perlakuan Anderson.


"Ya, Pak. Sepertinya bapak sudah tahu apa yang akan saya lakukan. Dan hari ini, hari terakhir saya bekerja."

__ADS_1


"Apa sudah kamu pikirkan? Apa kamu sudah berpikir tentang bagaimana caranya kamu mengganti rugi?"


Mata Melia membelalak sempurna. "Kalau bapak menuntut ganti rugi, saya juga akan melaporkan bapak ke polisi atas semua perlakuan bapak."


Ha ha ha. Tiba-tiba tawa Anderson meledak. "Jadi kamu mengancamku balik, Melia?" Anderson bangga ketika melihat Melia ternyata sosok gadis yang sangat pintar.


"Ya, saya mengancam anda."


Anderson melenguh panjang.


"Ya, kalau memang begitu. Mau bagaimana lagi?"


"Eh?"


Sungguh. Melia benar-benar kaget. Biasanya Anderson tidak seperti ini. Anderson akan meledak-ledak dan bahkan akan mengeluarkan seluruh serangan balik hingga membuat dirinya tidak berkutik. Tapi sekarang ...? Kenapa Anderson berubah menjadi sangat halus? Sebenarnya, apa yang sedang direncanakan oleh Anderson?!


"Maksud bapak?"


"Kalau kamu ingin keluar, aku bisa apa?"


Perlu berulang kali Melia meyakinkan diri akan ucapan Anderson. Sungguh. Apakah dia benar-benar Anderson?!


"Ya, kalau begitu saya permisi dulu ..."


Baru Melia berdiri, tiba-tiba semilir udara tidak sengaja masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka. Menerpa seluruh tubuh Anderson hingga bau ini semerbak dan terhirup ke dalam hidung Melia.


Bau sampo ini?


Baru saja Melia berbalik. Tapi secepat kilat Melia langsung menoleh.


Tanyakan Melia! Tanyakan! Kamu harus tanyakan apakah dia pelakunya atau bukan?!

__ADS_1


__ADS_2