
Di dalam rumah sakit ...
Jarum infus masih menempel di tangan kiri Rosa saat ini. Rosa masih terpejam ... biusnya masih ada di dalam dirinya sehingga membuatnya enggan untuk membuka mata.
Sementara di sampingnya ada Bram, menggenggam tangan Rosa karena ia luar biasa khawatirnya.
Bram meneteskan air mata, pun dengan Rosa yang baru bisa tenang ketika dokter menyuntikkan obat penenang ke arahnya.
Situasinya benar-benar sangat cepat. Ketika Bram membawanya ke sini, semuanya sudah terlambat. Darah terus mengalir dari bawah milik Rosa hingga semua suasana sangat kacau.
Lalu pada akhirnya ... Rosa keguguran ...
Sebuah hal yang membuat semua orang syok terutama Rosa sendiri. Karena nyatanya, sebagai Ibu, Rosa merasa tidak bisa menjaga kandungannya sendiri hingga membuat Rosa meracau sampai mengamuk hingga dokter terpaksa memberinya obat penenang lagi.
Lalu di sini lah ada Bram yang menunggu Rosa dengan sangat setia. Air mata itu masih mengalir karena Bram mulai menyalahkan dirinya sendiri.
Lalu mata Rosa mulai mengerjap-erjap. Reaksi obat bius kini sedikit demi sedikit menghilang hingga pada akhirnya Rosa bisa membuka mata.
"Rosa ...?"
Dan yang ia lihat pertama kali adalah Bram. Sudah berulang kali ia melihat wajah itu hingga Rosa benar-benar merasa muak. Rasa traumatik saat malam pemerkosaan itu selalu datang hingga Rosa selalu membencinya setiap waktu.
"Pergi!"
"Aku mohon jangan seperti ini."
"Aku mohon pergi lah." Rosa kembali menangis, ia kembali terisak-isak.
"Kita harus bicara."
Tapi lagi-lagi Rosa menggeleng. Dan setelah ia kehilangan bayinya, ia benar-benar tidak sudi untuk melihatnya lagi.
Tapi Bram tidak gentar, ia masih terus berusaha.
"Rosa aku tahu kamu benci padaku."
Rosa menghempaskan tangan itu. Ia kemudian duduk, mencoba berdiri untuk pergi meninggalkan Bram tapi Bram menahannya.
"Jika kamu berpikir aku akan melepaskanmu tidak akan pernah aku lakukan."
"Dan sampai kapan pun aku akan tetap kabur dari hidupmu."
__ADS_1
"Ros, aku mohon."
"Apa kamu tidak mengerti juga?! Aku sama sekali tidak pernah mencintaimu. Bahkan aku selalu jijik saat melihat wajahmu, bayangan ketika kamu memperksoaku pada saat itu benar-benar membuatku sangat membencimu."
"Aku hanya ingin mendapatkanmu."
"Tapi caramu salah. Kamu tidak pernah tahu rasa traumatik itu membuatku benar-benar tersiksa setiap waktu. Dan satu hal lagi, aku sama sekali tidak membutuhkan pertanggung jawabanmu."
"..."
"Bahkan saat bayiku kini sudah tidak ada, bukan kah lebih baik kamu pergi?! Tidak ada alasan lagi kamu untuk datang ke sini dan mengejarku lagi."
"Aku menginginkanmu Ros. Karena sampai kapan pun aku akan tetap mengejarmu."
Rosa menggeleng, tertawa dengan sikap Bram yang sangat menjengkelkan.
"Kalau begitu aku juga akan terus kabur dengan usahaku yang sangat keras juga. Dengar ...! Dengan atau tidak ada bayi di antara kita, aku tetap tidak akan pernah menerimamu. Aku tidak akan pernah mengizinkan anakku untuk mendapatkan ayah sepertimu."
"Rosa ..."
Bram menatap Rosa tidak percaya akan semua kata-kata itu. Ia menggeleng, ia tidak ingin Rosa sampai melakukan hal itu.
Tapi rupanya, Rosa sungguh-sungguh akan ucapannya. Matanya tajam menatap ke arah Bram dengan segitu bencinya.
Bram membeku, tangan Bram bergetar saat melihat sorot mata itu. Rosa tampak sungguh-sungguh. Matanya kembali berkaca-kaca.
"Dengar, Bram. Aku akan membuktikan semua perkataanku. Aku sudah sangat membencimu setengah mati. Dan jika kamu berharap akan memilikiku dengan memaksaku tetap bersamamu, aku juga akan berusaha sekuat tenaga untuk lepas darimu. Aku akan menunjukkan padamu seberapa kuat aku berusaha."
"..."
"Aku sudah cukup sedih kehilangan bayiku. Dan bisa kah kau pergi saja? Karena sudah tidak ada lagi hal yang menjadi alasan kamu berada di sini."
Tangan Bram bergetar hebat ...
Lalu tiba-tiba terdengar pintu yang terbuka. Sosok Melia datang, dan ia langsung terkejut saat melihat Rosa yang nyatanya memang ada di sana.
"Ya Tuhan, Rosa ...?"
"Melia?"
Melia pada akhirnya berlari ke arah Rosa. Memeluk erat sahabatnya itu hingga tidak bisa ia lepas lagi.
__ADS_1
Rosa menangis sesenggukan, ia tidak bisa menahan lagi rasa harunya ketika pada akhirnya ia bisa bertemu dengan Melia.
***
Hai hai,
sebentar lagi HTA emang mau tamat gais...
why ...? karena aku takut, jika aku memanjangkan cerita ini akan semakin jauh dari konteks dan jatuhnya gag sesuai judul.
maaf jika kalian berharap agar hta diperpanjang, tapi aku tidak bisa melakukannya.
HTA akan menyusul virgin not for sale yang sudah lebih dulu tamat mulai hari ini. Akhirnya aku menepati janjiku pada kalian kan... aku mengakhirkan dua cerita itu di sini.
Hari ini, VNFS tamat lalu mungkin beberapa hari kemudian HTA juga akan tamat.
lalu setelah ini?
maaf kalau harus bilang aku akan vakum dari noveltoon untuk waktu yang ... mungkin ... agak lama ...
why?
aku ada projek lain di tempat lain... tapi tenang saja, gag ada koin. w a t t p a d pun juga tidak berkoin2 .. he he he..
jadi kalau kalian ingin menemukanku di mana aku menulis lagi, kalian bisa ikuti Instagram aku di hi_alaleana
karena aku akan update di mana mana saja aku menulis. Tentu saja tidak berbayar, karena aku tidak akan memberatkan kalian.
see u gaiss..
jaga kesehatan ... covid merebak lagi ...
terima kasih telah membersamai cerita Anderson Melia Evan dan Amanda di dua ceritaku ini...
aku pamit dan mungkin ( akan kembali setelah waktu yang lama )...
well, terima kasih noveltoon karena telah mempertemukanku dengan kalian ...
love u gais...
bener2 jaga kesehatan ya ...
__ADS_1
Devi Nanda