Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
REYAN DAN MELIA


__ADS_3

"Melia, kamu tidak apa-apa?"


Reyan mengguncang-guncangkan tubuh Melia saat Melia masih syok duduk di tepi tempat tidur. Berulang kali Reyan mengusap wajahnya dan Melia hanya bisa menangis ketakutan.


"Rey, benar apa katamu. Ada orang yang mengintaiku entah sejak kapan."


"Katakan, apa yang membuatmu tiba-tiba merasa yakin?"


"Tadi malam aku sengaja menaruh seluruh peralatan mandiku pada tempatnya. Dan tiba-tiba pagi ini, semua sudah tidak pada tempatnya seperti sehabis digunakan." Melia menjelaskan itu semua masih dengan tangan yang bergetar. Wajahnya memucat dan memutih saking pasinya.


"Kamu ... benar-benar yakin?"


Melia mengangguk sambil menyeka air matanya.


Dan nyatanya, kecurigaan Reyan memang benar adanya. Tapi kemudian, buru-buru Reyan mengitari ke segala ruang, menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sesuatu.


"Rey, apa yang kamu lakukan?"


"Aku ingin mencari sesuatu di rumahmu, Mel. Aku yakin ada sesuatu yang sudah ia tinggalkan di rumah ini."


Melia ikut bangkit ketika melihat Reyan berlarian ke sana dan ke mari. Mengitari seluruh ruang demi ruang tanpa tahu apa yang sebenarnya ia cari.


"Rey?"


Sementara itu, Reyan terus mencari ruangan Melia dengan jeli. Dan begitu ia mengamati sesuatu yang aneh di sudut dinding, perlahan-lahan ia mendekatinya.


"Ada apa Rey?"


Reyan buru-buru mengambilnya. Dia tampak syok berat, tiba-tiba ia meremas benda berwarna kehitaman itu dan kembali berlarian ke sana dan ke mari untuk mencari benda lain yang mirip dengan apa yang sedang ia genggam.


"Rey?"


Dan benar saja, masih ada benda yang sama persis saat Reyan mengambilnya di kolong meja.


"Lihat ini Mel."


"Apa itu Rey?"


"Kamera pengawas."


Dan mendengar itu, lagi-lagi Melia langsung membungkam mulutnya sendiri.


***


Tangan Melia masih gemetar hebat. Di depannya ada secangkir capuccino panas tapi sama sekali tidak diminum oleh Melia. Sementara itu, Reyan berada tepat di depannya, berulang kali mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja tapi tetap saja ini semua masih terasa mengerikan bagi dirinya.


Reyan sudah membawa Melia sejauh mungkin dari rumah itu. Membawanya ke dalam kedai, tempat mereka kemarin bertemu. Hanya saja, suasana jauh lebih sepi dari pada kemarin sehingga membuat mereka bisa leluasa untuk saling mengucap kata.


"Mel, semua akan baik-baik saja," untuk yang kesekian kalinya Reyan mengucapkan kata itu.


"Tapi, aku takut Rey. Bagaimana mungkin ada orang yang selalu datang ke rumahku setiap malam."


Reyan menarik napas panjang. Pada akhirnya Melia sadar, bahwa di dalam hidupnya, memang terasa janggal sedari dulu.

__ADS_1


"Sebenarnya aku sudah merasakannya sejak dulu. Bahkan sejak kita bertemu dan berkenalan."


"Apa maksudmu, Rey."


"Apa kamu tidak berpikir kalau orang yang merusak hubungan kita adalah orang yang sama."


"Kamu membuatku takut. Kalau begitu, dia sudah mengikutiku sejak lama."


"Maafkan aku tapi aku harus mengatakan ini, tapi menurutku iya. Dia sudah mengikutimu sejak lama."


"Rey! Jangan bicara sembarangan. Aku benar-benar takut."


"Apa kamu tidak sadar juga, Mel. Sejak aku berkenalan denganmu, selalu ada saja orang yang mengerjaiku. Selalu ada orang yang berusaha untuk memisahkan antara aku dan kamu. Kamu sudah tahu kan alasannya kemarin ...?"


"..."


"Dan apa kamu tidak berpikir di mana tiba-tiba kamu bisa mendapatkan beasiswa? Selalu mudah jika bekerja part time, dan setiap kali kamu mendapatkan masalah, selalu ada orang yang menyelesaikannya? Entah lah, menurutku itu tidak bisa disebut secara kebetulan."


"Rey ..."


"Apa lagi saat kita berpacaran, orang itu menjadi benar-benar membenciku. Ayahku hampir dipecat dan dipindah tugaskan ke luar negeri sehingga aku ikut dengannya. Dan asal kamu tahu Mel, aku seperti diikuti setiap hari oleh seseorang. Bahkan ..."


Dahi Melia mengerut.


"Bahkan apa Rey?"


Reyan diam membisu. Sepertinya dia ragu untuk menjawabnya.


"Bahkan apa Rey?"


"Apa?!"


"Ya, aku ingat jelas siapa laki-laki itu. Laki-laki yang kemarin aku tidak sengaja melihatnya di kedai ini saat bersamamu."


Mata Melia terbebalak lebar.


"A-apa?!"


"Ya, Mel."


"Kenapa kemarin kamu tidak mengatakan padaku."


"Aku hanya takut kamu khawatir."


"Astaga, Rey." Seluruh bulu kuduk Melia meremang. Saat ini, Melia sudah benar-benar yakin kalau dihidupnya memang selalu diuntit oleh seseorang sudah sejak lama."


"Entah orang itu atau entah orang lain yang menyuruh orang itu untuk menguntitmu ..."


Melia menahan napas.


"Rey, kenapa ini semua sangat mengerikan." Tangan Melia kembali bergetar, wajahnya sudah pucat pasi.


Mereka kini diam membisu, mulai tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing dan hanya memandang satu sama lain. Melia sudah sangat frustrasi, ia tidak tahu bagaimana ia akan bertindak. Tapi, sedetik kemudian ia kembali menatap ke arah Reyan. Tiba-tiba Melia merasa takut, kalau akan terjadi apa-apa dengan Reyan sama seperti apa yang pernah dialaminya dulu.

__ADS_1


"Rey."


"Hm."


"Sepertinya, aku tidak ingin menanggung resiko. Aku ... aku takut jika ada sesuatu yang buruk menimpamu. Dan lebih baik sekarang kamu pergi, tenang saja ... aku pasti mampu melewati ini sendiri. Aku sudah berencana akan melapor pada polisi."


Tapi Reyan hanya tersenyum skeptis.


"Kenapa aku harus takut?"


"Aku takut membuatmu celaka. Aku tahu, dia bukan orang sembarangan."


Ha ha ha. Reyan malah tertawa. "Sekarang aku sudah tidak takut lagi, Mel. Aku sudah berjanji akan melindungimu apa pun yang terjadi."


"Tapi Rey ..."


"Dan mengenai hubungan kita ..."


Tiba-tiba Melia tercekat. Reyan kembali mengungkit hubungan di antara mereka.


"Lagi pula, dari dulu kita tidak pernah benar-benar mengakhirinya bukan?"


"Maksudmu ...?"


"Kita berpikir bahwa masing-masing dari kita terkhianati. Tapi ternyata itu semua ulah campur tangan orang lain."


Melia menelan salivanya mencoba mencerna kata-kata dari Reyan. Tapi sedetik kemudian Reyan meraih tangan Melia dan menggenggamnya erat.


"Aku masih mencintaimu, Mel. Perasaanku padamu masih sama seperti dulu."


Sungguh. Ungakapan rasa itu adalah sesuatu hal yang benar-benar mendadak bagi Melia.


"Kamu tetap mau meneruskan hubungan ini kan?"


"Tapi Rey ... kita sudah sangat lama berpisah dan aku takut kamu kecewa padaku. Banyak hal yang berubah dan aku ..."


"Apa cintaku masih belum cukup? Kenapa kamu ragu?"


"Hanya saja ..."


"Di dalam hatimu, masih kah ada tempat bagiku?"


"Sebenarnya, aku?"


Reyan menatap dalam-dalam wajah itu.


"Aku tidak tahu." Melia menggeleng-gelengkan kepala.


"Kita belum pernah benar-benar mengakhiri hubungan ini, dan aku masih menganggap bahwa aku dan kamu masih berstatus bersama."


"T-tunggu."


Tapi Reyan hanya tersenyum, menatap ke arah Melia.

__ADS_1


__ADS_2