
Hari ini, Melia meneliti satu persatu isi ponsel mau pun laptop yang Anderson bawa. Ternyata benar, bahwa seluruh galeri yang ada di dalam sini adalah foto-fotonya.
Di sebuah gazebo pinggir pantai, di bawah pohon kelapa, dan Anderson mempersilahkan Melia tahu seberapa gilanya dia.
Sementara itu, Melia hanya bisa melongo melihat ini semua. Bahkan Melia tidak pernah tahu kapan foto ini diambil dan disetiap langkah yang ia ambil, Anderson benar-benar berada di sisinya sudah sejak lama.
"Bonjour Monsieur," - ( Selamat pagi, Tuan.)
Anderson mendongak ketika tiba-tiba kepala pelayan datang ke arahnya.
"Tout est prêt. Ce soir l'hélicoptère viendra te chercher." - (Semua barang sudah siap. Nanti malam, helikopter akan datang menjemput anda.)
"Je vous remercie," - (Terima kasih.)
Sementara di sini, hanya Melia saja yang tertegun karena tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Lalu, pelayan itu pergi. Membuat Melia mendongak dan langsung bertanya kepada Anderson.
"Sebenarnya kalian sedang membicarakan apa?"
Anderson menaikkan bahu. "Bukan apa-apa, hanya saja dia mengatakan kalau kamu sangat cantik dan seksi."
"Gombal." Melia melengos.
Anderson terkekeh.
"Dia tidak mungkin bicara hal seperti itu." Melia semakin mengerutkan kening. "Lagi pula, kalian terus membicarakan hal yang tidak aku pahami."
"Kamu tidak dituntut untuk paham pembicaraannya tadi, sayang. Tapi, aku lah satu-satunya hal yang harus kamu pahami."
Melia menarik napas kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Siapa suruh menculikku sampai ke Perancis?"
"Siapa bilang ini di Perancis?"
Mata Melia membuat sempurna.
"Apa?"
"Tapi, orang itu ... dan bahasa kalian ..."
"Dia memang ahli bahasa Perancis tapi kita tidak benar-benar berada di Perancis.
Melia semakin mengerutkan kening tidak mengerti.
"Sebenarnya pulau ini milik sahabatku, Evan. Dia tergila-gila dengan suasana Eropa dan kamu bisa paham bagaimana bangunan ini dibentuk, bukan?"
"Jadi aku tidak berada di ..."
Anderson mengangguk. "Waktu itu, aku sangat furstrasi. Aku harus benar-benar membawamu ke tempat yang tidak mungkin ditemukan oleh orang lain, lalu aku ingat kalau ada tempat yang sangat sempurna untuk itu ..."
"Lalu ... kepala pelayan itu?"
"Dia memang ahli dalam bahasa Perancis, dan aku memanfaarkannya untuk membuatnya seolah-olah kamu memang benar-benar berada di sana. Agar ..."
"Agar aku tidak berani untuk kabur sendirian dari pulau ini?" Dan Melia pada akhirnya mengatakan itu.
"Akhirnya kamu paham."
"Kamu gila ..."
"Jangan marah," Anderson menggenggam erat tangan Melia. "Pahami lah saja kalau sampai seperti itu aku tergila-gila denganmu dan sampai seperti itu aku tidak ingin kehilanganmu."
Melia ikut meremas tangan Anderson. Entah lah, tiba-tiba saja ia mulai mengerti seluruh isi kepala Anderson.
"Ya, aku paham."
__ADS_1
Dan ketika mendengar ucapan itu terlontar, Anderson tersenyum dengan sangat lebar. Rasanya sangat menenangkan jika pada akhirnya pasangan kita mampu memahaminya.
"Terima kasih,"
Lalu tiba-tiba, dering ponselnya berbunyi. Nama Evan muncul hingga membuat mata Anderson melebar.
"Panjang umur sekali dia,"
"Kenapa?"
"Evan."
Lalu Anderson mengangkatnya. Nada suara panik muncul dari sana dan ikut membuat Anderson mengerutkan kening.
"Anderson, tolong aku. Aku benar-benar minta tolong. Pinjam kan aku seluruh pengawal yang ada padamu untuk mencari keberadaan isteriku."
"Apa?!"
"Istriku diculik dan aku butuh seluruh pengawal yang kau punya."
"Ambil saja, ambil sebanyak yang kamu butuhkan."
"Terima kasih, An. Kau memang sahabatku." Lalu, telefon itu ditutup hingga membuat Anderson dan Melia saling tatap.
"Ada apa? Kenapa? Kenapa kalian panik."
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya istrinya diculik dan dia sedang frustrasi mencarinya."
"Kasihan sekali ..."
Lalu, Anderson tampak sibuk menelefon seseorang lagi. Sepetinya, dia langsung memerintahkan mereka untuk bergerak membantu Evan.
"Tenang lah, aku yakin istrinya pasti akan cepat ditemukan."
Melia melenguh. "Ternyata kamu baik sekali,"
"Eh?"
"Lagi pula, ternyata tidak buruk juga mempunyai pulau. Aku sedang berpikir apakah aku harus membeli pulau juga di tempat lain."
"Untuk apa?"
"Untuk menghabiskan malam pertama kita nanti. Tempat ini sepi, tidak ada yang mengganggu kita kalau kita butuh berpuluh-puluh ronde."
Plak!
"Kenapa kamu suka sekali memukul kepalaku?"
"Singkirkan pikiran kotormu itu!"
Anderson tertawa lalu kemudian memeluk Melia untuk menenangkan.
"Aku tergila-gila denganmu, Melia."
"Bersikap lah normal."
"Justru karena aku laki-laki normal, otakku selalu kotor setiap bersamamu."
"Anderson!!!"
Melia melepas pelukan itu. Memukul kepalanya hingga Anderson memekik kesakitan lagi.
Tapi tiba-tiba, dering ponsel Anderson berbunyi. Nama Bram muncul di atas ponsel hingga membuat mata Anderson melebar.
Bukan kah sudah aku katakan kalau dia harus menyelesaikan urusannya dengan perempuannya dulu sebelum datang padaku lagi?
Anderson membatin.
__ADS_1
"Kenapa? Ada apa? Siapa lagi?"
"Mel, sebaiknya kamu ke dalam mungkin mereka sudah selesai menyelesaikan makanannya. Ada urusan pekerjaan ..." ucap Anderson karena tidak ingin Melia tahu kalau yang menghubunginya adalah Bram.
Anderson paham, bahwa sekarang Melia membenci Bram setengah mati setelah dia memperkosa sahabatnya.
"Emm, ya. Baik lah."
Melia kemudian berdiri, berjalan tanpa menaruh curiga sedikit pun kepada Anderson.
"Sarapan sudah siap, nona."
Dan kepala pelayan itu mempersiapkan Melia untuk masuk ke dalam rumah.
"Ya ampun kamu benar-benar paham bahasa Indonesia. Kenapa tidak dari dulu saja kamu bicara seperti itu saat denganku."
Pelayan itu terkekeh lalu tersenyum ke arah Melia.
"Maaf, tapi saya hanya menjalankan tugas."
"Anderson?"
Melia melenguh kemudian tersenyum.
Laki-laki itu ... ternyata memang sangat mencintainya. Lalu, untuk apa dia meragukannya lagi?
Hari Melia mulai menghangat ketika melihat wajahnya lagi di tepi pantai.
Lalu di sana, Melia tidak tahu bahwa wajah Anderson mengerut. Kabar dari Bram benar-benar membuatnya sulit untuk bernapas.
"Saya sudah mencari Reyan, tapi dia tidak ditemukan. Saya sudah kembali untuk mencari keberadaan Reyan tempat di mana saya membuangnya tapi sepertinya Reyan terlalu pintar untuk melarikan diri."
"Apa ...?"
"Dan sepertinya ..."
"Ada apa ...?"
"Dia juga turut serta membawa perempuanku. Dia membawa Rosa ikut dengannya dan sekarang saya belum bisa menemukan keberadaan mereka."
Anderson meremas tangannya sendiri.
Lalu telefon itu ditutup, Anderson menarik napas panjang.
Padahal Anderson sudah berjanji untuk membawa Melia bertemu dengan mereka berdua disaat mereka kembali nanti.
Di sana, terlihat Melia dengan senyum mengembang tengah melambaikan tangannya ke arah Anderson. Mengangkat nampan berisi makanan yang artinya menyuruh untuk ikut bersamanya.
Lalu Anderson mengangguk. Berjalan ke arah Melia dan menggandeng tangan perempuan itu sambil menyembunyikan masalah yang sedang terjadi.
"Kenapa ...? Apa ada masalah ...?"
Anderson menggeleng.
"No more secret ... ingat itu ...?"
Anderson mengangkat alisnya. "Tidak apa. Tidak ada masalah sedikit pun," ujarnya.
Melia mengernyit.
"Hanya saja ... nanti malam kita akan pulang. Dan setelah kita pulang nanti, kita akan menikah."
Lalu mata Melia melebar dengan sempurna.
***
09:40
__ADS_1