Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
SOSOK YANG DATANG LAGI


__ADS_3

Hingga pada akhirnya, mereka disibukkan dengan segala urusan pernikahan. Ya, satu hal lagi tindakan Anderson yang berhasil membuat Melia terpana. Bagaimana mungkin Anderson bisa melakukan segala hal hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam?


Sesuatu hal yang sangat gila. Tapi Anderson berhasil melakukannya. Ia mempersiapkan pernikahan ini secepat kilat, hanya dengan satu telefon, seluruh anak buahnya bergerak cepat.


Mulai dari memilih undangan, memilih gedung pernikahan, mengurusi berkas, hingga sampai pada akhirnya mereka di sini, memilih gaun pengantin berwarna putih keemasan lalu Melia memutarkan tubuhnya memamerkan ini semua kepada Anderson.


"Cantik ..."


Melia terkekeh lagi. Tidak ada hal yang paling membahagiakan selain ini, bukan ...?


"Kenapa kamu tidak mencoba jasnya?"


Pelukan itu rasanya menghangatkan, lagi-lagi Anderson memeluk Melia seperti enggan meninggalkan Melia.


"Hey, kamu juga harus mencobanya? Aku ingin lihat."


"Tidak usah dicoba, aku selalu tampan dengan semua pakaian."


"Huh, terlalu percaya diri."


Anderson tertawa lagi. Saat ia melepas pelukan itu, wajah Melia kembali terpampang jelas. Perasaannya begitu hangat, apa lagi ketika Melia menyunggingkan senyuman seperti itu, adalah hal-hal yang selalu ia nanti-nantikan sejak lama.


"Beri aku ciuman."


Tapi Melia menggeleng. "Nanti setelah kita sah saja."


"Hey! Kenapa sekarang kamu jadi sok jual mahal?"


Tapi Melia malah mengangkat alisnya, terkekeh geli melihat ekspresi Anderson yang berubah marah. Tapi, bukan Melia namanya kalau tidak berhasil merubah ekspresi Anderson.


Satu kecupan di kening Anderson dan senyuman itu nyatanya kembali tersungging. Mereka berpelukan lagi menanti hari bahagia yang akan datang besok pagi.


"Baik lah, aku akan mencobanya."


Melia mengangguk senang, ia pun menanti Anderson sambil duduk di sofa sana, membaca-baca majalah yang ada di atas meja lalu tanpa sadar ada sebuah pesan masuk.


Kamu bahagia ...? Ha ha ha. Kamu bahkan melupakan orang tuamu dan melupakan orang yang sudah menggantikannya di penjara. Ingat, karma akan berjalan secara semestinya.


Deg.


Sesuatu hal yang membuat mata Melia melebar dengan sempurna.


***


Di dalam ruang ganti, Anderson tampak menarik napas berat. Tapi, bukan berarti dia tidak bahagia. Demi apa pun yang ada di dunia ini, menikahi Melia adalah sesuatu hal yang benar-benar ia impikan sejak lama.


Melia adalah satu-satunya cinta selama hidupnya. Satu-satunya hal yang berhasil membuatnya bahagia. Namun ... ada satu fakta lain yang entah membuat semua ini tampak kosong.


Bram yang seharusnya hadir dan mempersiapkan segala sesuatunya. Namun, karena satu kesalahan yang ia perbuat, ia mungkin tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di sini.


Seandainya Bram ada di sini, Bram pasti akan sangat sempurna mempersiapkan pernikahannya dengan Melia. Mungkin beberapa pegawai lainnya kurang berpengalaman, sehingga ada satu dua cela hingga membuat Anderson menarik napas panjang.


Anderson mengangkat alisnya, mencoba untuk tetap tenang kemudian keluar dari ruangan.

__ADS_1


"Melia,"


"Eh?" Melia bahkan kaget ketika melihat Anderson sudah keluar lengkap menggunakan jasnya.


"Kenapa tiba-tiba wajahmu pucat ...?"


Buru-buru Melia menggeleng. Tapi kemudian, Melia bangkit untuk menarik tangan Anderson pada sebuah kaca besar di depannya saat ini. Mulai meperhatikan diri mereka ketika sama-sama mengenakan baju pengantin.


"Aku mencintaimu, Mel."


"Aku juga ..."


Hanya tinggal masalah waktu dan mereka akan tetap bersama bukan ...?


"Kita ambil yang ini ...?"


"Tentu, aku suka gaunnya."


Anderson kemudian memberikan kode kepada pelayan untuk mengambil gaun pengantin ini. Sesaat kemudian, mereka telah selesai mengganti pakaian mereka dan keluar dengan perasaan bahagia.


Mereka masuk ke dalam mobil. Aneh rasanya ketika Anderson memegang kemudi. Biasanya Bram yang ada di depan sana. Tetapi sekarang, Anderson yang melakukannya sendiri.


"Ternyata pegal juga menyetir seperti ini seharian suntuk."


Ada rasa getir di sana, Melia pun menyadari akan hal itu.


"Kamu rindu padanya?"


Ada helaan napas yang cukup berat.


"Kamu menyesal?"


"Kamu tahu aku tidak bisa menolak seluruh permintaanmu, kan?"


Tanpa sadar Melia meremas tangannya. "Maaf, aku mengerti perasaanmu. Bram sudah seperti keluarga bagimu, tapi Rosa ..."


"Caranya saja yang salah ..."


"Tapi dia tetap pemerkosa."


"Ya, aku tahu. Tapi ..." tiba-tiba Anderson menghentikan ucapannya. Membuat Melia melirik ke arah samping tempat Anderson duduk menyetir.


"Tapi apa?"


"Sama seperti aku yang tergila-gila denganmu, dia mungkin kehilangan akal untuk mengejar perempuannya."


Melia tertawa sinis. "Aku mohon, jangan membenarkan sesuatu yang salah. Dia tetap laki-laki bajingan yang mampu melakukan hal paling keji."


"Jangan terlalu mendikte, kamu tidak tahu apa yang terjadi di masa lalunya sehingga ..." Anderson tercekat, ia hampir keceplosan mengenai kisah yang ada di masa lalu tentang Bram.


"Masa lalu?"


Buru-buru Anderson menarik napas. "Suatu saat aku akan memberi tahumu, tapi tidak sekarang."

__ADS_1


Melia melenguh kecewa, sesaat kemudian mereka kemudian terdiam begitu lama. Hanyut dalam pemikiran mereka masing-masing hingga Melia mengambil lagi ponsel yang ada di dalam tas kecilnya.


"Tadi, ada orang aneh yang mengirimiku pesan, dan kemungkinan besar, itu adalah orang yang sama dengan orang yang menggantikanmu di penjara."


Mendengar kata-kata itu, tiba-tiba Anderson mengerem mobilnya secara mendadak, membuat Melia terhenyak hingga hampir jatuh terlonjak ke arah depan.


"An, hati-hati!"


"Apa?!"


Anderson langsung merebut ponsel yang Melia pegang.


"Seharusnya, dia tidak tahu nomormu, ini nomor ponselmu yang baru."


"Aku juga merasa aneh."


Cepat-cepat Anderson membukanya dan benar saja.


"Kamu juga ingat tentang kotakan paket mengerikan yang dikirimkan ke kantormu?"


"..."


"Aku pikir, orangnya juga sama."


Anderson juga syok dengan apa yang dikatakan oleh Melia. Ya, sudah sejak lama dia mengincarnya, setelah malam mengerikan itu, setelah Reyan membebaskannya, dia seperti malah mempunyai pengalaman lebih untuk melarikan diri.


"Aku takut, bagaimana kalau dia benar-benar kembali?"


Anderson menggeleng. "Tenang saja, aku janji itu tidak akan pernah terjadi. Kamu tahu siapa aku kan? Aku bahkan dapat mencarimu sampai ke mana pun kamu pergi, mustahil kalau aku tidak bisa menemukannya."


Melia mengangguk. Ia berharap juga akan janji-janji itu. Anderson memegang bahu Melia untuk menenangkan, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.


"Jangan pikirkan masalah-masalah kecil seperti ini, kita akan tetap menikah besok."


Melia mengangguk menurut.


***


10 hari ya... maaf ya... lama y .. plis jangan dibuli


bab selanjutnya -> PERNIKAHAN


Jadi, Bram akan tetap dibikin cerita nggak ...?


jawabannya iya... ada banyak kisah masa lalu tentang Bram, aku udah buat drafnya tinggal tunggu terbit aja... mungkin agak sedikit gelap dan kelam, mungkin obsesinya akan jauh lebih mengerikan di banding Anderson ... tapi semoga kalian suka.


tapi nanti ...


setelah Anderson tamat dan 3 ceritaku di w a t t p a d tamat ya, nggak ada koin kok, kalian bisa baca gratis di sana...


jadi ... kisah Bram diterbitkan dimana?


w a t t p a d. aku sudah memutuskan bakal di up disana..

__ADS_1


Nama akun w a t t p a d aku denands


ikutin juga Ig aku di devinandasari atau tulisan_nanda (cuman ganti nama akun doang yang kemarin) biar bisa tahu aku nulis dimana2 aja... thank u


__ADS_2