
Melia tampak sangat berantakan hari ini. Rambut yang dikucir kuda itu sudah berlari ke mana-mana, wajahnya begitu pucat, bekas air mata itu masih terlihat menggenang hingga matanya juga terlihat sangat bengkak.
Melia masih mematung dan terus melamun sepanjang hari. Hari ini, ia menghabiskan harinya berada di kedai kopi yang ada di pinggiran kota dan hanya menghabiskan waktu dengan terus melamun. Kadang-kadang, ia hanya menatap ke arah jendela yang ada di sampingnya. Mengamati tetesan air hujan yang terus mengalir tanpa melakukan apa-apa.
Capuccino panas yang ia pesan pun, juga sudah mendingin. Melia bahkan lupa, kalau sedari tadi ia juga memesan cake selai strawberry dan juga belum menyentuhnya sama sekali. Ingatan tentang kejadian beberapa waktu yang lalu, benar-benar membuat hatinya sangat sakit.
Dan lagi-lagi ... Melia menangis saat memikirkan itu.
Beberapa kali dering ponselnya berbunyi. Nama Anderson muncul di atas layar tapi Melia segera mematikannya.
Laki-laki itu, adalah laki-laki bajingan yang pernah ia temui selama sisa hidupnya.
Waktu berlalu dengan begitu cepat, hingga sampai pada suatu ketika, terdengar bunyi lonceng dari arah pintu kedai ini. Pertanda bahwa ada pengunjung lain yang datang dan masuk ke dalam kedai ini.
Melia sama sekali tidak menggubrisnya. Ia hanya fokus mengamati hujan yang ada di luar ruangan.
Sementara itu, pengunjung itu tengah berjalan. Pertama yang ia lakukan hanya mengibaskan pandangan ke sekitar dan terlihat mengibas-ibaskan rambutnya yang basah. Hujan rupanya membuat pakaian yang ia kenakan terlihat kuyup dan ia langsung melepaskan jaket yang ia kenakan. Untung kaos bagian dalamnya masih kering karena terbantu dengan jaket tadi.
__ADS_1
"Mas, pesan capuccino panas satu ya." Begitu ucapnya sambil menunjukkan jari telunjuknya. "Oh, iya. Pesan satu cake selai strawberry juga ya, Mas."
Pelayan itu mengangguk dan segera menyiapkan pesanannya.
"Baik, Mas. Saya siapkan dulu dan anda bisa duduk di meja ..."
Pelayan itu terkejut saat menyadari tidak ada satu kursi kosong pun yang ada di hadapannya. Semuanya terisi oleh pelanggan, dan satu-satunya kursi kosong adalah, kursi yang ada di ujung sana tapi di depannya masih ada seorang wanita muda.
"Emm," sepertinya pengunjung itu mengamati arah pandang pelayan itu. Seorang perempuan muda yang hanya tampak dari arah belakang.
"Tidak apa-apa, Mas. Biar saya minta izin kepada pelanggan itu apakah saya boleh duduk di depannya."
Pelanggan itu tersenyum sekaligus mengangguk. Kemudian ia berjalan ke arah kursi yang diisi oleh seorang perempuan muda itu yang hanya tampak dari punggungnya saja.
Perempuan itu, kenapa ia merasa tidak asing?
Tapi, sebelum ia melangkahkan kakinya ke arah kursi kosong itu. Ia merasa ada seseorang yang mengamatinya. Ah tidak, dia tidak mengamati dirinya, tapi ia mengamati sosok perempuan yang ada di kursi sana.
__ADS_1
Sosoknya bertubuh gempal. Menggunakan jas berwarna hitam dan terus menatap ke arah kursi di mana gadis itu berada. Dan satu hal lagi, saat dia menatap ke arah dirinya, sepertinya laki-laki bertubuh gempal itu terlihat gelisah karena dirinya akan bertemu dengan gadis itu.
Seperti De Javu ...
Astaga ...! Kenapa ia baru sadar sekarang?! Sosok laki-laki bertubuh gempal itu adalah sosok yang sama saat dulu dia mengusik kehidupannya. Menghancurkan keluarganya, sehingga ia dan keluarganya terpaksa pindah ke luar negeri.
Sedangkan sosok gadis yang ada di sudut sana, memang sangat tidak asing bagi dirinya.
Mungkin kah ...?!
Cepat-cepat pelanggan yang tadi memesan capuccino dan cake selai strawberry itu berjalan ke arah gadis itu.
"Mohon maaf, apakah saya bisa duduk di kursi ini?"
Begitu Melia menoleh, mereka kaget secara bersamaan.
"Rey?!"
__ADS_1
"Melia?!"
Sepasang mantan kekasih itu akhirnya dipertemukan di suatu tempat yang tidak mereka duga sama sekali.