Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
AKHIR ANTARA BRAM DAN ROSA


__ADS_3

Tangan Rosa masih bergetar hebat kala memperhatikan Bram yang ada di depannya. Duduk di pinggir meja dan terus memperhatikan Rosa yang bahkan sampai sekarang tanpa suara.


"Kamu sudah tenang ...?"


Tidak ada jawaban, dan masih tetap sama. Bram ingin berdiri dan selangkah demi dekat dengan Rosa, tapi lagi-lagi Rosa berusaha ingin lari.


"Tenang lah, aku tidak akan memperkos*mu lagi."


Rosa ingin menampar keras pipi itu. Air matanya mengalir lagi. Bagaimana bisa ia mengatakan hal seperti itu tanpa beban sedikit pun? Laki-laki bajing*an, tetap lah menjadi bajing*an sampai kapan pun.


"Jangan mendekat atau aku akan benar-benar akan teriak."


Bram mengangkat kedua tangannya sendiri tanda menyerah.


"Aku tahu kamu masih trauma ..."


"Untuk apa kamu datang ke sini?! Aku mohon kamu segera pergi." Genggaman Rosa pada tongkat golf itu semakin erat. Sebagai jaga-jaga kalau Bram akan bertindak nekat lagi.


"Percaya padaku, aku tidak akan melecehkanmu lagi."


Air mata itu nyatanya masih terus mengalir.


"Aku hanya ingin bicara padamu, aku ingin menjelaskan tentang semuanya."


Rosa menggeleng-geleng keras.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan."


Bram kemudian menatap dua garis merah itu di genggamannya.


"Tapi aku harus tetap bertanggung jawab."


"Kamu tahu? Aku tidak membutuhkan tanggung jawabmu."


Bram menahan napas.


"Aku tidak membutuhkan pendapatmu. Yang pasti, aku akan tetap bertanggung jawab."


Dahi Rosa berkerut. Tangan itu semakin bergetar.


"Kamu?! Sebenarnya apa yang kamu inginkan!!!"

__ADS_1


"Aku menginginkanmu."


"..."


"Bahkan sejak pertama kali aku melihatmu sedang memandang laki-laki lain ..."


"Kamu gila."


"Ya, aku sedang tergila-gila denganmu."


Napas Rosa kembali berat. Air mata itu mengalir kembali. Rasa takut kembali menyeruak. Laki-laki ini sudah berjanji untuk tidak melakukannya tapi kenapa Rosa selalu berpikir bahwa semua itu tidak ada jaminan?!


"Aku mohon kamu pergi dari sini karena aku tidak ingin bertemu denganmu lagi."


Bram berdiri dan Rosa langsung berlari ke arah belakang dan waspada.


"Jangan mendekat!!! Kamu tahu kalau aku bisa melaporkanmu ke polisi!!!"


"Tapi kamu memilih untuk tidak melakukannya kan?"


"..."


Rosa seperti mati kutu. Apa yang diucapkan Bram adalah benar, Rosa tidak pernah berani melakukannya karena ketakutan. Ya, Rosa memang terlalu pengecut. Rosa tahu siapa Bram ini, laki-laki mengerikan sama dengan Anderson, laki-laki yang dapat melakukan semua hal hanya dengan menjentikkan jari.


"Kamu laki-laki paling jahat yang pernah aku temui!!!"


Langkah Bram semakin mendekat.


"Sudah kubilang aku datang untuk menebus kesalahanku. Aku datang untuk bertanggung jawab."


"Apa?! Semudah itu?! Asal kamu tahu, aku tidak akan pernah mau menikah dengan laki-laki sepertimu! Aku tidak mau bayiku mempunyai ayah bajing*n sepertimu!!!"


Bram menggeleng.


"Kamu harus mendengarkan aku dulu ..."


Rosa tetap menggeleng.


"Kenapa baru sekarang?! Kenapa baru saat ini kamu datang? Kenapa kamu selama beberapa Minggu belakangan ini?! Ke mana kamu saat malam di mana kamu memperkos*ku?! Apa kamu lupa kalau aku ditinggalkan bagaikan sampah?!"


"Aku mohon jangan bicara seperti itu ... kamu tahu ada hal yang harus aku selesaikan ..."

__ADS_1


"Anderson ...?"


Bram mengangkat kepalanya ketika Rosa mengatakan hal itu.


"Kamu tahu rupanya ..."


Rosa tertawa sinis.


"Itu lah satu-satunya alasan kenapa aku menolakmu."


Bram mengernyit tidak mengerti.


"Kamu bekerja padanya seperti anjing yang selalu patuh pada Tuannya. Selalu memprioritaskannya dan rela meninggalkan aku yang katamu kamu cintai?"


Rosa tertawa lagi seakan mengejek semua perkataan Bram.


"Dengar, Bram. Aku tidak akan pernah sudi menerimamu."


"Kamu harus paham bahwa aku berhutang budi padanya."


"Bagaimana aku bisa bersamamu jika kamu selalu memprioritaskan orang lain? Yang bahkan dengan teganya meninggalkanku hanya karena satu telefon masuk darinya?! Bagaimana aku bisa hidup bersamamu jika aku pernah ditinggalkan bagaikan sampah seperti itu?! Dan bagaimana kamu mampu menjadi suami dan Ayah yang baik kalau kamu selalu memprioritaskan orang lain dibandingkan keluargamu sendiri?!"


Dan ucapan itu seperti tamparan bagi Bram. Tangannya mengepal kuat karena semua perkataan Rosa adalah benar, bahwa Bram memang laki-laki rendahan seperti itu.


"Ros ...?"


"Pergi!!!"


"Aku datang untuk menebus kesalahanku!!!"


"Aku tidak pernah sudi untuk menikah denganmu!!!"


"Maafkan aku ..."


Bram berjalan ke arah Rosa dengan cepat, tapi Rosa langsung menampar keras-keras pipi itu.


"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menerimamu!!!


***


Buat yang ngikutin virgin not for sale pasti kaget ada adegan Anderson di sana.. wkwk.. iya ... Anderson emang temenan sama Evan kok... hehehe.. jadi ya nanti disini juga ada Evan, dan di cerita virgin not for sale pasti aku selipin Melia dan Anderson di sana.. kan mereka temenan...

__ADS_1


12:56


__ADS_2