Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
MALAM SEBELUM PERNIKAHAN


__ADS_3

Di sebuah sudut yang gelap, ada seseorang yang berdiri di sebuah cermin. Lampu temaram membuat sosok yang tinggi menjulang itu tampak terlihat mengerikan hanya dengan berdiri saja.


Bram, sekali lagi mematung. Memperhatikan setiap detail tubuhnya dengan mata yang tajam. Ia membuka satu persatu kancing kemejanya, melepaskan, kemudian membuang kemeja hitam itu ke segala arah hingga teronggok jatuh di atas lantai.


Luka-luka itu, semua sayatan yang ada di seluruh dada dan punggungnya kembali membuat tangannya mengepal. Giginya gemeletuk, karena sekuat tenaga ia mencoba untuk bertahan, nyatanya ia hancur juga.


Bram melihat semua bekas luka yang ada. Bahkan Bram masih merasakan semua rasa sakit itu. Goresan pisau, paku, bahkan palu pernah ia rasakan sewaktu ia masih kecil dulu.


Bram mengerjap. Ia melihat sosok wanita kecil menggunakan kebaya berwarna merah sedang tersenyum di sebuah foto. Dia tersenyum lebar, kurang lebih berumur enam tahun dan sedang bersama sosok anak kecil lainnya yang tidak lain adalah dirinya.


Di sebuah pasar malam. Di sebuah fotobox sederhana dan anak kecil berkebaya merah itu tidak sadar bahwa hampir separuh wajah Bram kecil penuh bersimbah darah.


"Aku akan mendapatkanmu kembali, Ros ..." serunya.


Bram melihat lagi dirinya di depan cermin. Menatap lagi foto kecil itu kemudian menyiumnya sekali lagi. Guratan urat syarafnya kembali menegang. Semakin memperlihatkan betapa mengerikannya luka yang pernah ia dapatkan sewaktu kecil dulu.


Ia kemudian berjalan ke arah sofa usang. Mengambil sebuah kaos berwarna hitam legam dan mengganti seluruh pakaian formalnya dengan jins compang camping yang membentuk tubuh Bram semakin mengerikan.


Dia sudah bukan sekretaris lagi.


Untuk apa dia menggunakan semua pakaian itu?!


Bram telah kembali menjadi sosoknya setelah sekian lama. Membuatnya menyeringai sambil kembali melihat satu-satunya foto yang masih tersisa.


Bram kemudian mengerjapkan matanya lagi. Mulai kemarin, Anderson sudah menyatakan perang kepadanya. Dan Bram, hanya tinggal membuat perhitungan kepada dirinya.


Bram kemudian melongok pada jendela kamar yang sedikit terbuka. Dia membuka gorden dan melihat suasana jalanan yang lengang tapi penuh dengan penjagaan.


"Aku datang, Ros."


Bahkan, tidak ada yang tahu bahwa Bram sudah sedekat ini dengan Rosa. Rumah kosong yang terletak di samping rumah Rosa adalah tempat tinggalnya sekarang ini. Samar-samar, ia melihat mobil datang dan berhenti di depan pintu.


"Kamu jaga diri baik-baik ya ..."


"Terima kasih, Mel. Kamu menepati janjimu."


"Tenang lah. Anderson sudah menepati janjinya untuk menjagamu. Lihatlah seluruh penjagaan ini. Aku yakin Bram tidak akan ke sini lagi."


Mereka terlihat berpelukan lama sebelum akhirnya Melia melambaikan tangan ke arah Rosa.


Sementara itu, Bram tertawa terbahak-bahak. Menutup mulutnya seperti orang psik*pat dan memukul-mukul dinding. Mencemooh setiap tindakan Anderson dan pengawal lainnya yang begitu bodoh jika tidak ada dirinya.


Anderson tidak pernah mengira bahwa dirinya sudah ada di sini sebelum kepulangan Rosa dari rumah sakit. Yang akan selalu datang kepadanya dan menguntit dirinya seperti orang gila.


***


Malam harinya, Melia memejamkan mata sebentar ketika ia berdiri di sebuah balkon hotel tempat dirinya menginap. Bahkan, Melia juga tidak tahu kenapa dia berada di sini. Semua orang tahu, jika Anderson sudah memberi titah, tidak ada yang berani menentang perintahnya bahkan Melia sekali pun.


Melia masih tidak percaya karena besok adalah hari pernikahannya dengan Anderson. Sosok yang mungkin baru kemarin ia benci dengan segenap jiwanya tapi sekarang, ia mampu mencintainya bahkan hampir mati jika tidak bersamanya.


Melia menarik napas lagi. Meski pun ia sudah mendapatkan kebahagiaan yang telah ia dapatkan, namun kenapa ia masih merasa tidak tenang.

__ADS_1


Perlahan-lahan terdengar langkahan kaki. Knop pintu berhasil dibuka dan tatapan mata tajam langsung menatap ke arah Melia yang berdiri membelakanginya.


Sosok itu perlahan-lahan mendekat. Berjalan pelan kemudian ia berdiri tepat di belakang Melia.


Melia tersentak.


Dia tahu siapa sosok orang yang berada di belakangnya. Melia sudah hafal betul deru napasnya ketika kini mengenai tengkuknya bagian belakang, serta sentuhannya ketika ia mulai melingkarkan tangannya di pinggul Melia kemudian memeluknya erat.


"Anderson ..."


"Ya, katakan nama itu sekali lagi sayang."


Melia berbalik.


"Aku selalu menyukai ketika kau memanggil namaku seperti itu. Nanti, aku juga ingin mendengar kau mengerang menyebut namaku seperti itu saat kita sudah menikah dan berada di atas tempat tidur."


"Kenapa tidak mengetuk pintu?"


Anderson menyesap seluruh aroma Melia dengan sapuan di seluruh wajah Melia hingga jamblangnya membuat Melia sedikit geli.


"Anderson, stop."


"Aku ingin me*nidurimu sekarang juga tapi aku sadar bahwa itu tidak boleh. Aku tidak ingin menjadi laki-laki kurang ajar karena kita belum resmi menikah."


"Kamu tahu ...?"


Anderson menyipitkan mata. Ia tersenyum mengangkat setengah bibirnya kemudian menatap ke arah Melia. Jelas-jelas belum menikah saja Anderson sudah begitu berhasrat dengan perempuannya ini. Bagaimana kalau mereka sudah menikah nanti?


"Ada apa, sayang? Apa ada yang menganggu pikiranmu?"


Melia hanya menggeleng.


Jelas sebuah kebohongan.


"Katakan. Apa yang terjadi?"


"Banyak hal."


"Katakan lah. Besok hari pernikahan kita. Aku ingin kamu jujur padaku."


"Aku hanya merasa waktu berjalan dengan sangat cepat. Aku bahagia besok kita menikah. Tapi apa pantas kita berbahagia padahal ada banyak orang yang masih sangat menderita."


"Maksudmu?"


"Tentang Rosa, tentang Reyan, tentang semuanya ..."


Buru-buru Anderson menggeleng. Seperti meyakinkan bahwa semua akan berakhir baik-baik saja.


"Kamu tahu ...? Aku pasti sudah menjadi orang paling egois di dunia ini. Jika kita hidup di dunia drama, mungkin peran antagonis di dalam drama ini adalah kamu dan aku. Sedangkan orang baik seperti Reyan dan Rosa ..."


"Jangan bicara sembarangan lagi."

__ADS_1


"Mereka korban di sini."


"Aku tahu aku belum bisa menebus semua kesalahanku. Tapi aku janji, waktu akan menjawab semuanya. Aku janji akan memperbaiki semuanya."


"Terima kasih. Kamu sudah berjanji padaku waktu itu. Hanya saja ... kamu tahu kalau aku masih merasa bersalah pada mereka, apa lagi pada Reyan yang bahkan tidak tahu apa-apa."


"Iya, sayang. Aku paham."


Mereka kemudian terdiam begitu lama. Berdiri berdampingan sambil tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


"Besok kita akan tetap menikah, Mel. Dan tidak ada lagi yang bisa menghalanginya."


Melia sedikit tertawa.


"Lalu siapa yang berani menentangmu, An. Sekeras apa pun aku menolak, aku tahu kamu pasti akan tetap menyeretku ke depan penghulu besok pagi."


Tawa itu menular.


"Kamu memang sudah paham betul bagaimana sifatku."


"Aku juga tidak tahu kenapa bisa mencintai orang sekeras kamu."


Anderson menyeringai bangga.


"Istirahat lah, Mel. Karena setelah kita menikah besok, tidak akan aku biarkan kamu beristirahat barang sedetik pun."


Alis Melia terangkat, tapi entah kenapa Melia mempunyai keberanian untuk menantangnya.


"Jangan terlalu banyak bicara. Buktikan saja padaku seberapa kuatnya kamu. Dan aku akan sangat menanti bagaimana caramu untuk membuatku terjaga semalam suntuk."


Bibir Anderson terangkat. Wanitanya memang selalu berbeda dengan kebanyakan perempuan di luar sana.


Jakun Anderson mulai naik turun, ia mulai kepanasan melihat wajah Melia dengan mata menyipit seperti menggodanya. Tangannya tiba-tiba mengepal. Kalau dia punya kuasa, ia akan menyuruh penghulu datang ke sini dan meresmikan hubungan mereka. Namun, Anderson tidak bisa. Hanya butuh bersabar beberapa jam saja.


"Aku akan ke kamarku," sebelum Anderson tidak bisa menahan diri, Anderson lebih baik mengaku kalah lalu berjalan berbalik.


Namun tiba-tiba,


"An ..."


Anderson menoleh.


"Masih ada satu hal yang aku pikirkan. Sosok orang yang mengirimiku pesan, sosok orang yang yang mengirimi paketan berdarah mengerikan itu. Aku harap, kamu akan segera menemukannya. Aku hanya ketakutan setengah mati ketika ingat kalau dia pernah mencelakaiku sedemikian rupa."


Anderson mengangguk.


"Pasti."


***


Hai, lama tidak berjumpa :)

__ADS_1


Kalau kalian lupa sama jalan ceritanya. Pun dengan aku yang bahkan sudah terlampau jauh aku disibukkan dengan dunia nyata 🙃


__ADS_2