
Dan mereka ...
Hanya bisa diam membisu di keheningan yang menyiksa. Melia kembali ke dalam kamar, sedangkan Anderson hanya bisa kembali menatap ke hamparan laut lepas.
Makanan itu pun kembali dingin ... masing-masing dari mereka pun tidak menyentuh makanan mereka masing-masing.
Sang pelayan hanya bisa melenguh lagi. Membawa piring-piring itu ke dapur sampai senja terlewat, lalu malam kembali datang, dan mereka kembali melewatkan makan malam.
Anderson tidak tahu sampai kapan ini berakhir, satu-satunya hal yang membuatnya khawatir adalah perempuan di balik pintu itu. Kepalanya mungkin sekeras batu, hingga dini hari menjelang pun ... Melia tetap bergeming pada pendiriannya.
"Kamu akan terus seperti ini ...?"
Melia tetap diam. Ia hanya menoleh pada jendela yang terbuka tanpa mau menatap ke arah Anderson.
"Sampai kamu mau melepaskan aku."
Anderson menarik napas panjang.
"Aku mohon ... makan lah sedikit saja." Mungkin Anderson lupa, bahwa dirinya juga belum makan sedikit pun.
"Kapan kamu mau membawaku keluar dari sini?"
Tidak ada jawaban ... hanya terdengar lenguhan panjang.
Melia menarik napas panjang. Ia juga sadar kalau sampai akhir pun tidak akan pernah ada yang mau mengalah di antara mereka.
Melia kemudian beranjak dari kursi, berjalan pergi dari Anderson.
"Keluar lah, aku hanya ingin istirahat."
Begitu Anderson menatap ke arah wajah Melia, Anderson langsung mengerutkan kening, wajahnya tampak pucat pasi, bibirnya bergetar seperti ...
Baru Anderson menyadarinya, Anderson menangkap Melia hingga terhuyung jatuh ke pelukannya.
"Melia ... Melia ...! Melia!!!"
Dan lagi-lagi, Melia jatuh ke dalam kegelapan.
***
Panas yang ada di tubuh Melia masih terasa hingga Anderson benar-benar khawatir. Anderson tetap berada di sini, menggenggam tangan itu sampai Melia benar-benar bangun.
Anderson tidak berniat untuk meninggalkan Melia sedikit pun, tanpa mau berpaling dari sisinya bahkan sampai hari ini.
Hingga sampai pada akhirnya Melia mengerjap-erjap, Melia tampak mendesis lirih saat mulai merasakan kepeningan yang luar biasa.
"Kamu sudah bangun ...?"
Dan Melia begitu kaget saat melihat jarum infus yang menempel di tangannya.
"Apa ini ...?"
Anderson tiba-tiba membawa nampan berisi makanan dan di hadapkan pada Melia.
"Makan lah, atau aku akan memaksamu lagi."
"..."
"Apa kamu mau menyakiti dirimu sendiri?"
Tapi Melia tetap menggeleng. Anderson bahkan tidak tahu kalau Melia bisa sekeras batu seperti sekarang ini.
"Mel ..."
"Aku ingin pulang."
"Sudah kukatakan aku tidak bisa melakukannya."
"Aku mohon ..."
Anderson menghela napas panjang.
"Mengenai perkataanmu, aku sudah memikirkannya ... dan aku sudah memutuskan untuk tetap mempertahankanmu. Jangan harap untuk bisa lepas dariku, Melia ... karena aku tidak akan pernah melakukannya."
"Kamu jahat sekali ..."
Anderson menggeleng.
"Aku tidak pernah tahu apa itu obsesi yang kamu maksudkan sampai berkali-kali. Aku hanya tahu kalau aku sekarat saat tidak bersamamu, jantungku berdebar dengan sangat kuat ketika berada di sampingmu. Rasa ingin memilikimu, rasa ingin terus berada di sampingmu, benar-benar menyiksaku sampai terasa ingin mati."
"..."
__ADS_1
"Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya cinta atau obsesi. Karena aku belum pernah tahu rasanya karena kamu wanita pertama yang membuatku sampai seperti ini. Yang bahkan selalu ku khawatirkan, kupikirkan di setiap detik hidupku."
"Awalnya aku bahkan juga berpikir rasa ini akan menghilang dengan sendirinya, tapi ternyata rasa ini semakin hari semakin datang dan menyiksaku hingga aku tidak bisa bernapas lagi."
Melia kembali meremas tangannya.
"Aku jatuh cinta padamu, Mel ... dan aku yakin itu tidak akan berubah sampai akhir. Lalu, sekarang tiba-tiba kamu memintaku untuk melepaskanmu ...?"
Anderson dengan cepat menggeleng.
"Tidak akan pernah aku lakukan."
"Aku sudah katakan aku tidak mau lagi bersamamu ..."
Anderson kemudian menatap pada cincin yang masih terpasang di jemari Melia.
"Tapi kamu masih mempunyai hati untukku, kamu masih memakai cincin itu ..."
Melia terhenyak kaget, menatap cincin yang memang masih ia pakai sampai sekarang.
"Paling tidak cincin itu membuktikan kalau kamu masih mencintaiku."
"Omong kosong."
"Dulu, kamu melepasnya saat kamu marah akibat daftar hitam sialan itu. Tapi di saat situasi sekarang kamu malah masih memakainya. Aku yakin kalau kamu masih mempercayai bahwa hubungan kita masih ada harapan."
Melia menggeleng keras.
"Sekuat apa pun kamu menolaknya, kamu juga akan dikembalikan fakta bahwa kamu masih cinta padaku."
Air mata itu kembali menetes.
"Aku ingin pulang ..."
"Bisa kah kamu memberiku kesempatan lagi?"
"Tidak setelah aku tahu fakta bahwa kamu yang menyebabkan orang tuaku meninggal."
"Kamu selalu tahu bahwa aku tersiksa selama bertahun-tahun karena itu."
Anderson kembali mendekat dan meraih wajah itu.
"Kamu tahu, hal ini lah yang paling aku takutkan sehingga aku menyembunyikan fakta ini sampai sekian lama. Aku memang bajingan waktu itu, tapi tidak ada kah kesempatan untukku lagi?"
Apa itu artinya Melia mengkhianati orang tuanya sendiri?
"Lepaskan aku,"
Melia melepaskan tangan itu. Membuat Anderson kembali menahan napas.
"Makan lah, atau aku akan menyuruh perawat untuk memasukkan selang ke tenggorokanmu agar kamu bisa makan."
"Kenapa kamu selalu seperti ini?!"
"Karena aku sudah putus asa untuk membuatmu makan."
Dan Anderson memang tidak pernah berubah. Anderson tetap menjadi pemaksa seperti itu.
"Kamu pikir aku akan menyerah?"
"Apa ini adalah bentuk protesmu agar aku mengeluarkanmu dari sini?! Aku sudah katakan kalau itu tidak akan pernah terjadi."
Melia menggeleng.
"Kuhitung satu sampai tiga dan aku akan melakukan hal nekat itu."
"Anderson!!!"
"Satu ..."
Melia mengepal tangan kuat.
"Dua!"
"Bajingan!"
"MICHELLE!!!"
Dan satu orang asing lagi datang membawakan satu box berwarna putih seperti sebuah ...
"Astaga!"
__ADS_1
Melia mulai ketakutan. Ia menggeleng hebat.
"Aku akan makan ..."
"Bagus ..."
***
Tangan Melia masih gemetar saat orang yang bernama Michelle itu sudah pergi. Lagi-lagi Melia menatap pintu yang baru saja dilewati Michelle dengan air mata yang kembali mengalir.
"Makan lah, katamu kamu mau makan."
"Aku ingin bertanya padamu sekali lagi."
"..."
"Saat kecelakaan itu, ketika kamu menabrak mobil kami ... kenapa kamu tidak langsung menolong dan malah pergi?"
Bibir Anderson bergetar.
"Karena aku pikir, uang akan menyelesaikan semuanya."
Melia kembali tercekat.
"Waktu itu, usiaku masih muda. Aku tidak tahu kenapa aku bisa sebajingan itu. Alih-alih menolong kalian, tapi aku malah pergi. Dan itu lah hal yang paling membuatku menyesal."
Melia meremas sendok yang ia pegang berusaha mengendalikan rasa sakit ini.
"Sepanjang perjalanan aku kepikiran. Pikiranku terpecah, aku selalu diajarkan bahwa uang akan menyelesaikan segalanya, tapi di sisi lain, perasaan bersalah menyeruak tajam hingga pada akhirnya aku kembali ..."
Mendengar hal itu Melia mendongak.
"Kamu kembali?" Tanya Melia tidak percaya.
"Saat aku kembali, kalian sudah di bawa ke rumah sakit. Dan ketika aku berada di rumah sakit ..."
"..."
"Orang tuamu ternyata sudah tidak ada."
Melia menyeka air matanya ketika mengenang semua kenangan pahit itu.
"Aku merasa menyesal. Perasan bersalah itu benar-benar mencekikku. Tapi untuk menutupi rasa bersalah itu, aku semakin yakin bahwa uang akan menyelesaikan semuanya. Aku terlalu percaya diri bahwa uang akan membuatmu memaafkanku."
"..."
"Tapi ternyata aku salah. Padamu, uang sudah tidak ada harganya lagi. Membuatku semakin tersiksa setiap detik hidupku karena rasa bersalah ini nyatanya mulai membuatku tidak bisa bernapas."
"Bahkan setelah orang-orangku mendapatkan sosok yang bisa disalahkan dan menggantikanku di penjara aku tetap hidup tidak tenang."
"Aku tersiksa sampai berhari-hari, Minggu bahkan bulan sampai pada akhirnya aku mulai menemukanmu."
"Kamu mulai menjadi tujuanku, dan mungkin itu lah awalnya. Saat aku selalu memastikan bahwa hidupmu baik-baik saja, aku mulai bisa bernapas meski rasanya masih terasa sesak."
"Rasa sesak yang bertahun-tahun aku rasakan mulai berkurang saat aku melihat kamu mulai tersenyum. Lalu ... tanpa sadar aku sudah menjadi penguntit hidupmu dan selalu ingin memastikan bahwa kamu hidup baik-baik saja."
"Aku pikir, semua rasa bersalah itu akan menghilang saat hidupmu sudah tertata dengan baik, tapi ternyata ... aku salah besar. Aku sudah terjerumus padamu semakin dalam hingga aku menyadari bahwa aku mulai menyukaimu, mulai mencintaimu dan mulai menginginkanmu."
Melia kembali menatap Anderson di sana, napasnya tampak tersengal. Melia ingin melihat kebohongan, tapi nyatanya Melia melihat kejujuran di matanya.
Tanpa sadar Anderson sudah menangis terisak-isak. Tersengal-sengal bahkan harus mengesampingkan tubuhnya agar tidak terlihat oleh Melia.
Dan Melia ikut merasakan pedih. Nyatanya ... Anderson memang sudah tersiksa selama ini. Selama bertahun-tahun ia bahkan menanggung semuanya sendiri. Mungkin itu lah karma yang ia dapatkan akibat perbuatannya sendiri.
"Makan lah, Melia. Aku harus memberimu waktu. Jika aku datang ke sini lagi dan makanan di piringmu masih tidak berkurang, aku akan membawa Michelle ke sini."
Tapi tiba-tiba ...
Baru saja Anderson berdiri untuk melangkah pergi dari sini, Melia menarik tangan itu, menggenggamnya seperti seolah-olah tidak menginginkan Anderson pergi.
"Kamu juga harus makan. Aku juga tahu kalau kamu memang belum makan sejak datang ke tempat ini."
"Melia ...?"
"Wajahmu kacau, bawah matamu hitam seperti panda."
Tiba-tiba Melia menyerahkan sendok kepada Anderson. Membuat Anderson kembali menangis meledak di hadapan Melia.
Lalu mereka pada akhirnya menyendokkan makanan di satu piring yang sama. Makan bersama, dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing dan kembali menangis di tengah malam tanpa bisa lagi berkata apa-apa lagi.
***
__ADS_1
09:59
maaf ya lama ...