Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
TAMPARAN


__ADS_3

Matahari tidak sengaja menelisip melalui celah jendela hingga Melia mengerjap-erjapkan matanya berulang kali. Sinarnya yang terlalu terang membuat matanya silau hingga ia terusik dalam tidurnya.


Melia mendesis kesakitan. Pening di kepalanya masih terasa saat ia membuka matanya kali ini. Entah sejak kapan ia tertidur sampai ia lupa diri hingga ia bisa tidur begitu lelap dalam kondisi telanjang seperti ini.


Tunggu.


Apa yang baru saja aku katakan tadi?!


Telanjang?!


Mata Melia langsung membulat sempurna. Ia syok. Kesadarannya langsung pulih saat itu juga saat ia menyadari bahwa dirinya sedang telanjang bulat.


Astaga. Apa yang terjadi?


Melia menatap ke bawah selimutnya lagi, dan lagi-lagi, ia menemukan fakta bahwa dia tidak menggunakan satu helai benang pun yang menutup tubuhnya.


Dan yang membuat Melia syok sampai kedua kalinya adalah, saat tiba-tiba ia merasakan satu buah tangan yang langsung merengkuhnya dari belakang. Dan begitu Melia menoleh ke arah belakang, jantung Melia seperti ingin melompat keluar saat itu juga.


"Pak Anderson?!"


Mata Melia kembali membelalak sempurna. Ia benar-benar kaget saat melihat bosnya berada di sini. Apa lagi, satu kamar, satu ranjang dan tertidur bersama seperti ini.


Anderson masih terlelap dalam tidurnya. Ia hanya terusik saat Melia langsung bangkit dan mundur ke arah belakang.


Buru-buru Melia meraih selimut untuk menutupi tubuhnya lagi, dan betapa terkejutnya Melia ketika selimut itu tertarik dari tubuh Anderson, Melia juga melihat bahwa Anderson juga tidak menggunakan satu helai benang pun.


Melia membungkam mulutnya sendiri. Sungguh. Ia benar-benar syok. Ia kembali mengingat kejadian tadi malam tapi ia tidak menemukan ingatan apa pun. Hanya sebuah ingatan samar-samar dan kepingan puzzle yang sangat sulit untuk disatukan.

__ADS_1


Tangan Melia mulai bergetar hebat. Saat Melia masih frustrasi dengan keadaan ini, tanpa sadar Anderson membuka mata, matanya mengerjap-erjap dan mendapati bahwa Melia sudah bangun terlebih dahulu.


"Hai, sayang ...?" Adalah kata-kata yang pertama kali diucapkan oleh Anderson. Ia ikut duduk di samping Melia dan malah tersenyum ke hadapannya.


"A-apa yang terjadi? Kenapa saya bisa seperti ini? Dan kenapa ... saya ... bisa tidak menggunakan pakaian?" Kata-kata Melia berantakan. Ia sudah tidak mampu menata kata-katanya lagi.


"Terima kasih, Melia. Tadi malam kamu hebat sekali."


Dan ucapannya berhasil membuat mulut Melia menganga saat ini juga.


"T-tadi malam?" Melia menggeleng-geleng keras. "Tunggu, bisa kah anda mengatakan secara jelas apa yang sebenarnya sudah terjadi?"


Tapi Anderson malah mengerutkan kening. Ia malah bangkit dari ranjang hingga Melia harus buru-buru untuk menunduk. Melia merasa malu melihat Anderson yang tanpa busana seperti itu.


"Katakan apa yang terjadi?!" Melia memekik keras. Ia sudah hampir gila. Ia sudah mulai frustrasi dibuatnya.


"Jadi, kamu tidak mengingatnya?"


"Semalam kamu benar-benar mabuk. Maaf, aku kira minuman yang kita minum kemarin bukan sebuah minuman yang memabukkan. Tapi ternyata aku salah. Minuman itu ternyata membuat kita mabuk."


"A-apa?"


"Kita sama-sama mabuk tadi malam. Kamu tahu kalau aku juga meminum minuman itu, kan?"


Melia meremas keras ujung selimut yang ia pegang saat ini. Tangannya bergetar hebat sekaligus tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Anderson.


"Lalu tiba-tiba, kamu datang ke arahku. Kamu mulai meracau dan mulai merayuku," ucap Anderson lalu kembali berjalan ke arah Melia lagi.

__ADS_1


"Tidak mungkin!"


"Ya, Melia. Itu yang kamu lakukan kepadaku."


Melia ingin mundur ke arah belakang, tapi ia tidak bisa. Punggungnya sudah menyentuh dinding dan ia tidak bisa ke mana-mana lagi.


"Aku juga hanya ingat samar-samar, Melia. Ingatan-ingatan itu seperti sebuah potongan yang sangat sulit untuk disatukan. Jadi, aku juga tidak mengingat sepenuhnya."


"..."


"Tapi yang terakhir aku ingat ... mungkin ... aku sudah menidurimu."


Plak!


Dan mendengar itu semua, Melia langsung menampar keras pipi Anderson.


***


**Hai, Alaleana di sini. Terima kasih sudah mau membaca karyaku sampai membuat aku terharu, bahwasanya baru setengah bulan aku mengeluarkan karya baru di noveltoon, aku bisa mendapatkan dukungan yang seperti ini. Dan ini, novel pertamaku di akun ini. Huwaaaa :')


Sungguh. Kalian luar biasa.


Sebenarnya, aku sudah lama berkecimpung di dunia tulis menulis sejak lama. Aku alumnus watpad by the way. Mungkin di antara kalian pernah baca novelku di sana, atau baca di play store, atau di aplikasi sebelah, atau mungkin beli bukuku yang ada di gramedia.


Aku cuma mau ngucapin, hai ... Selamat berjumpa kembali dengan aku.


Tapi jujur, aku menggunakan nama akun berbeda kali ini. Aku ingin dikenal di noveltoon dengan nama Alaleana. Bukan karena apa-apa sih, tapi apa lah arti sebuah nama, yang penting kalian bisa menikmati apa yang kalian tulis.

__ADS_1


Dan semoga kalian suka ya...


Oh ya, jangan lupa follow authornya juga ya .. makasih :D**


__ADS_2