Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
CINTA DAN OBSESI


__ADS_3

Melia meringkuk di sisi Anderson dan tertidur, wajahnya yang tenang dan nyaman membuat Anderson tidak bisa melepaskan semua keindahan nyata itu di depannya.


Sekali lagi, Anderson menyisir rambut lurus itu, sedikit membuat Melia gelisah dan Anderson kembali menenangkannya.


Melia ...


Dengan sejuta pesona yang ada di dalam dirinya. Seperti sebuah magnet yang tidak akan pernah bisa membuat Anderson melepaskannya.


Sedari tadi Anderson berada di sini. Terjaga di dalam tidurnya dan terus mengamati Melia. Anderson selalu suka melihat wajah Melia yang tampak nyaman, selalu suka aroma tubuhnya dan selalu menyukai setiap detail yang ada di tubuhnya.


Anderson hanya ingin semua ini bertahan dengan sangat lama. Sampai di titik akhir napasnya, Anderson selalu menginginkan Melia di sisa hidupnya.


Tapi ...


Hanya ada satu hal yang membuat pikiran Anderson terganggu. Bagaimana jadinya kalau dia benar-benar kehilangan Melia ketika Melia mengetahui kalau dia adalah seseorang yang menabrak kedua orang tuanya sampai meninggal?


Anderson menarik napas panjang.


Tidak. Ini tidak akan pernah terjadi jika dirinya tidak memberi tahukannya kan? Anderson sudah berjanji bahwa dia akan merahasiakan ini selama sisa hidupnya. Anderson tidak ingin Melia membenci masa mudanya yang pengecut dan melarikan diri.


Merasakan wajahnya yang tersentuh, tiba-tiba Melia terbangun dari tidurnya. Mengerjap-erjap dan menatap ke arah Anderson yang menatapnya dalam-dalam.


"Kamu ... belum tidur?"


Tapi Anderson menggeleng.


"Aku masih belum puas melihat wajah cantikmu."


"Gombal."


Anderson terkekeh.


"Tidur lah, besok kita harus mempersiapkan pernikahan kita."


"Kamu juga harus tidur kan?"


"Aku tidak bisa."


"Kenapa?"


"Bagian bawahku tegang karena terus menerus melihatmu."


PLAK!

__ADS_1


Melia menampar keras pipi Anderson.


"Apa itu yang terus kamu pikirkan? Pantas kamu memberiku dua opsi seperti itu."


"Ya, keduanya memang sinonim dengan sebutan making love."


Melia berdecih.


"Aku mencintaimu."


"Aku tahu."


"Jangan pernah tinggalkan aku."


"Apa menurutmu aku akan meninggalkanmu?"


Anderson menggeleng.


"Jika nantinya kamu akan meninggalkanku, pasti itu akan percuma saja."


"Maksudmu?"


"Aku akan menculikmu, mengurungmu, tidak akan membuatmu lari dariku meski pun kamu benci padaku. Bahkan, aku juga bisa membawamu ke luar negeri di mana tidak ada satu orang pun yang kamu kenal agar kamu terus menerus bergantung padaku."


Melia tiba-tiba bangkit.


"Karena aku cinta padamu."


"Aku hanya takut."


"Takut karena apa?"


"Itu bukan cinta. Tapi obsesi."


Tapi Anderson mengernyit.


"Bukan kah keduanya sama? Bukan kah cinta dan obsesi sama-sama pada hal ingin memiliki?"


"Aku tidak tahu."


Dan kemudian mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


Di sudut yang gelap, mereka tidak tahu bahwa ada orang yang sedari tadi mengamati Melia dari kejauhan. Reyan tampak frustrasi dan menyipitkan mata ketika melihat mobil Anderson terparkir di depan rumah Melia.

__ADS_1


Ia benar-benar benci melihat mereka berdua. Pikiran-pikiran buruk mulai berkecamuk. Dari luar, Reyan melihat lampu ruang tidur Melia yang redup. Dan sepertinya Reyan mengetahui kalau di dalam sana Anderson menginap di dalam rumah ini.


Tangan Reyan mengepal kuat. Entah kenapa ada sesuatu hal mengenai Anderson yang benar-benar janggal. Seperti ada sesuatu hal aneh mengenai kehidupannya.


Dan entah kenapa, Reyan sudah benar-benar yakin kalau semua penguntit itu adalah dirinya. Karena kalau bukan dia, siapa lagi? Hanya dia satu-satunya orang yang mampu berbuat seperti itu di luar logika.


Hingga tiba-tiba, terdengar sebuah suara dari tempat lain. Membuat Reyan segera menoleh dan melihat sumber suara itu. Suara kemresek dan Reyan langsung bangkit dari motornya.


Sial!


Reyan melihat ada orang lain yang ada di tempat ini. Membuat Reyan sadar kalau ternyata, bukan hanya dirinya yang diam-diam berada di sudut sini dan mengamati Melia.


Reyan mulai berlari ketika seseorang itu tengah berlari. Seseorang yang mengenakan hoodie berwarna hitam itu terus melesat cepat karena ia juga sadar bahwa sekarang ia dikejar oleh seseorang.


Reyan terus mempercepat larinya, dan ketika mereka hampir sampai di persimpangan, Reyan berhasil menarik kepalanya dan membuatnya jatuh terjungkal ke belakang.


"Siapa kamu?!"


Tapi laki-laki itu tertawa. Menimbulkan kengerian di tengah keheningan malam.


"Kamu juga mengamati kekasihmu yang sekarang tidur dengan laki-laki lain kan?"


Entah kenapa kata-kata itu membuat emosi Reyan tersulut, ia meraih kerah orang itu dan berusaha ingin menghajar wajahnya.


Tapi, begitu Reyan melihat wajah laki-laki itu, Reyan tersentak kaget.


Ya, ia tahu siapa laki-laki ini. Reyan tahu, siapa laki-laki yang berada di depannya kali ini. Dan laki-laki ini adalah orang yang telah membunuh kedua orang tua Melia.


Reyan benar-benar yakin, karena waktu itu dia juga menemani Melia saat laki-laki ini di sidang di pengadilan.


"Kamu?! Kenapa sudah bebas?!"


Ha ha ha. Laki-laki itu tertawa lagi. "Kamu punya uang, eh?"


"Berani-beraninya kamu?!"


Reyan memukul wajah lelaki itu hingga ia kembali jatuh tersungkur.


"Ah, sayang sekali ..." sepertinya laki-laki itu tidak merasakan sakit. "Kalau kamu punya uang, aku akan memberi tahumu siapa yang membuat hidupmu kacau balau, dan siapa orang yang sudah memisahkanmu dengan kekasihmu itu."


"Maksudmu?"


Ha ha ha. Tapi dia hanya tertawa dengan terbahak-bahak lagi.

__ADS_1


"Oh, ya. Kamu juga mencari orang yang selama ini menguntit kekasihmu kan?"


Mata Reyan terbelalak ketika ia mengatakan akan hal itu.


__ADS_2