
Tapi ternyata, Anderson muda telah salah ...
"Maaf, Tuan. Perempuan yang bernama Melia itu tidak mau menerima semua bantuan dari tuan. Bahkan, dia melempar seluruh uang yang anda kirimkan."
"Apa?!" Di dalam sebuah ruang mata Anderson melotot tajam. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh salah satu sekretaris keluarganya.
Anderson melemparkan semua buku di dalam ruangannya. Dahinya mengernyit, ia tidak percaya ada satu makhluk hidup di dunia ini yang tidak menyukai uang.
Hari berlalu dengan sangat cepat, setiap hari Evan terus mengirimi gadis itu uang dan kemewahan tapi lagi-lagi ia mendapatkan laporan bahwa gadis itu kembali menolak. Membuat Evan penasaran dengan sosok orang yang bernama Melia itu dan nekat mendatanginya sendiri.
Awalnya hanya rasa penasaran ... tapi lama kelamaan dia mulai merasa iba. Hal yang pertama kali Anderson lakukan adalah, hanya mengamati sosoknya dari kejauhan, yang terus menangis ... kemudian melamun di teras rumah.
Anderson melihat sendiri dari dalam mobil ketika pengawalnya lagi-lagi mengiriminya uang tapi berulang kali gadis itu mengamuk dan menyebar kembali uang itu.
Anderson terperangah kaget ketika dengan mata kepalanya sendiri ia melihat bahwa, memang ada orang yang menganggap bahwa uang bukan lah segalanya.
Rasa bersalah mulai menyeruak tajam ...
Anderson pikir, dengan mengirimkan sejumlah uang padanya akan membereskan semua masalahnya, tapi ternyata tidak ...
Uang yang ia punya tidak akan pernah mampu menyelesaikan masalah, dan uang yang ia punya tidak akan pernah mungkin membuat kedua orang tuanya kembali hidup.
Tangan Anderson tiba-tiba bergetar, kala melihat gadis itu yang terus mengamuk dan mengusir orangnya yang bermaksud memberikan uang, hatinya kembali berdesir.
"Dia tidak mau menerima uang ini, Tuan. Nona itu terus menangis."
Anderson menahan napas. Ia kemudian menyuruh sekretaris keluarganya itu untuk pergi dari sini.
***
Waktu terus bergulir ...
Hati Anderson muda semakin tidak tenang. Bayangan kecelakaan itu dan bayangan betapa depresinya gadis itu kembali terus menggerayangi mimpinya.
Anderson tidak pernah seperti ini sebelumnya. Setiap kali ia membuat kesalahan, orang tuanya selalu mengajarkan dirinya untuk membereskannya dengan uang.
Tapi sekarang ...?
Bagaimana ia bisa membereskan masalahnya, tapi perempuan itu menolak?
Anderson mengerjap-erjap. Ia nekat keluar tengah malam dan melajukan mobilnya lagi untuk menemui gadis itu. Rasa khawatir menyeruak tajam. Entah kenapa, ia ingin menemui gadis itu untuk melihat keadaannya.
Sampai di depan rumah gadis itu, Anderson malah menemukan gadis itu berjalan keluar dari dalam rumah. Langkahnya begitu pelan ketika menembus gelapnya jalanan.
Anderson ingin pergi, tapi ketika ia akan melangkah, kenapa perasaan khawatir ini semakin tajam?
Dasar bodoh. Apa dia tidak tahu ini jam berapa?! Bagaimana jika ada orang jahat dan memperkosanya?!
Sesaat setelah itu, Anderson malah diam-diam mengikutinya dari belakang. Melihatnya gadis itu yang masih menangis dan kini terus berjalan hingga sampai pada ...
__ADS_1
Pemakaman ...
Anderson menahan napas. Di tengah malam seperti ini, gadis itu sepertinya tidak pernah mempunyai rasa takut sedikit pun. Ia masih terus berjalan hingga sampai pada akhirnya dia kembali menangis dan ambruk bersimpuh di pusara makam orang tuanya.
Dan lagi-lagi, Anderson kembali tersentuh. Anderson yang biasanya kejam dan arogan tiba-tiba bisa menitikkan air mata. Dan detik itu juga, perasaan bersalah menyeruak tajam. Tangisan itu nyatanya menyentuh hati Anderson yang paling dalam hingga membuatnya ikut menangis sesenggukan.
Melihat Melia yang terus menerus seperti itu, Anderson mulai merasa menyesal telah menabrak kedua orang tuanya sampai meninggal.
Nyatanya ... uang memang tidak pernah bisa menyelesaikan semua masalah. Dan hari ini, Anderson baru menyadari itu.
***
"Bagaimana Tuan? Nona itu tidak pernah mau menerima uang. Bahkan setiap hari saya sudah datang kesana."
Di pagi hari, tepat tujuh hari semenjak kejadian itu, lagi-lagi Anderson mendapat laporan dari sekretaris keluarganya.
"Kalau begitu, jangan datang lagi. Tapi ..." Anderson menghela napas. "Ganti dengan cara lain, kamu bisa membantunya diam-diam. Mudahkan segala urusannya, berikan dia beasiswa diam-diam. Lunasi lah semua hutangnya jika dia punya, lalu permudah dia jika dia nanti mencari pekerjaan. Oh ya, suap semua perusahaan yang nanti akan ia datangi dan berikan dia gaji yang lebih tinggi."
"Baik, Tuan."
Lalu waktu mulai bekerja dengan semestinya.
Hari terus berganti dengan sangat cepat, tapi kali ini, hari-hari Anderson sangat berbeda.
Entah kenapa bayang-bayang wajah perempuan itu terus mengusik hidupnya. Rasa bersalah ini nyatanya telah membuat hidupnya terusik dengan sendirinya. Anderson sama sekali tidak selera makan, seluruh kegiatannya masih terus saja terbayang dengan gadis itu yang bersimpuh menangis di depan makam orang tuanya, bahkan, Anderson tidak bisa tidur nyenyak setiap malam. Anderson terus bermimpi buruk, dan mimpi itu sama. Saat ia menyetir kendaraan dengan ugal-ugalan dan menabrak sebuah mobil yang menewaskan kedua orang tuanya.
Hari terus berganti ...
Ia nekat kembali datang ke rumah perempuan itu lagi. Mengamatinya diam-diam dan mulai menjadi stalker abadi bagi dirinya.
Anderson merasa sakit ketika Melia terluka, merasa patah ketika melihat gadis itu menangis lagi di makam orang tuanya.
Anderson tidak tahu jenis perasaan itu hingga sampai berbulan-bulan lamanya. Ia hanya tahu, bahwa mungkin ini disebabkan karena rasa bersalahnya.
Waktu bekerja dengan sangat baik. Waktu sedikit banyak membuat hidup Melia kembali ceria lagi dan nyatanya, itu mampu membuat Anderson tenang.
Tapi, Anderson terus meminta kepada sekretaris keluarganya untuk terus menerus memudahkan segala urusan gadis itu agar rasa bersalah ini bisa segera menghilang.
Tapi ternyata ia salah. Anderson benar-benar salah. Setelah Anderson memastikan bahwa kehidupannya mulai membaik dan tertata dengan rapi, Anderson malah semakin ingin melihat wajah gadis itu lagi dan lagi.
Ketika selama ini Anderson melihat gadis itu menangis hingga membuatnya khawatir dan terus datang dari kejauhan, tapi kenapa ...? Saat Anderson melihat gadis itu tersenyum untuk yang pertama kali hanya karena melihat kelopak bunga yang mekar, membuatnya hatinya semakin dicengkeram dan teriris-iris?!
Mungkin perasaan bersalahnya agak sedikit berkurang ketika melihatnya tersenyum, tapi kenapa efeknya malah membuat Anderson semakin parah?! Ia bahkan telah kehilangan akal sehatnya ketika ingin terus menerus melihatnya tersenyum.
Anderson tidak sadar bahwa ia sudah sangat lama menjadi stalker bagi gadis itu, rasanya seperti candu, melihat keseharian gadis itu entah kenapa membuat Anderson semakin tergila-gila ingin terus menerus melihatnya setiap hari.
Anderson merasa marah jika gadis ini disakiti, merasa sedih jika gadis ini menangis, dan merasa bahagia ketika melihat gadis itu tertawa.
Anderson yang awalnya berpikir bahwa mungkin perasaannya akan hilang setelah ia berhasil membantu kehidupannya menjadi lebih baik, nyatanya ... Anderson tidak bisa menyembunyikan fakta kalau tanpa Anderson sadari, bukan hanya itu yang Anderson inginkan.
__ADS_1
Anderson mulai menginginkan dia. Dan mulai saat itu ia bertekad untuk memilikinya suatu hari nanti.
"Hei, siapa di sana?"
Melia mengernyit ketika tidak sengaja melihat Anderson bersembunyi di balik mobil saat Melia berada di depan kampusnya.
Dan untuk yang pertama kali, setelah dua tahun pertama Anderson menjadi penguntit dalam hidupnya, Melia datang melangkah ke arah dirinya.
"Kamu ...? Maaf, tapi sedari tadi kamu mengikutiku?"
Anderson muda gelagapan.
"Ah, t-tidak." Sungguh. Anderson masih syok ketika Melia tiba-tiba sudah berdiri di depannya kali ini.
Dia?! Apa dia mengenaliku?! Apa dia tahu kalau aku yang menyebabkan kecelakaan orang tuanya?!
"Ah, maaf. Aku tidak sopan. Hanya saja aku melihatmu sedari tadi melihatiku."
Anderson menggeleng. Sementara Melia menggaruk-garuk kepalanya, tapi kemudian terkekeh. "Emm, apa atau memang hanya aku yang terlalu percaya diri ..."
Tangan Anderson gemetar. Ia mulai salah tingkah, buru-buru ia ingin berbalik tapi tiba-tiba ia terjatuh.
"Kamu tidak apa-apa?"
Anderson bangkit.
"Hei, tanganmu berdarah?"
Buru-buru Melia mengambil hansaplas dari saku celananya. "Ini buatmu."
Anderson meraih hansaplas itu, sedikit tersenyum ketika Melia ternyata memang tidak mengenalinya.
"Hei, namamu siapa? Aku Melia ... apa kamu salah satu mahasiswa di sini juga? Tapi ... kenapa mahasiswa menggunakan kemeja?"
"Aku ...?"
"Maaf ya, aku tidak sopan."
"Namaku An ..."
"Sayang ..."
Tiba-tiba sosok laki-laki yang hadir di belakangnya membuat perasaan Anderson buyar seketika.
"Reyan?"
"Katamu kamu belum makan, ayo ..."
Dan saat tangan Melia digandeng oleh laki-laki itu, hati Anderson langsung panas seketika. Rasanya terbakar dan berapi-api. Rasa-rasanya Anderson ingin membunuh laki-laki itu yang sudah bertindak kurang ajar dengan menggandeng tangan Melia.
__ADS_1
Detik itu juga ... Anderson sadar bahwa dia telah jatuh cinta pada dirinya. Menyukai setiap detail sekecil apa pun mengenai Melia. Dan bertekad untuk memilikinya suatu hari nanti.
***