
Di sudut lain, tampak Rosa sedang memperhatikan laki-laki asing yang saat ini tertidur pulas di atas ranjang. Pelan-pelan Rosa membersihkan noda darah yang mengering itu. Mengelapnya dengan air hangat dan menatapnya lekat.
Sepertinya, Rosa pernah bertemu dengannya di suatu tempat, tapi di mana ...?
Belum selesai Rosa berpikir, tiba-tiba laki-laki itu bergerak. Membuat Rosa tercekat dan menantinya.
Reyan mendesis lirih, pening di kepalanya masih terasa sangat sakit. Pelan-pelan ia membuka mata, mengerjap-erjap dan membuatnya menatap ke arah Rosa.
"Kamu sudah bangun?"
Reyan terperangah. Ketika ia membuka mata yang pertama kali adalah Rosa yang juga memandangnya dengan tatapan bingung.
"Ini di mana?" Buru-buru Reyan bangkit. Menatap ke sekeliling ruangan dan menatap lagi ke arah Rosa.
"Istirahat lah, kepalamu pasti sakit." Rosa menunjuk pada garis luka yang ada di kening Reyan.
"..."
Sekali lagi Reyan mengitari pandangan ke sekitar. Membuat Rosa mengerti kalau laki-laki ini pasti masih kebingungan.
"Kamu berada di rumah Tanteku. Kalimantan Utara."
Ucapannya berhasil membuat Reyan terhenyak. Sudah dua orang yang mengatakan kalau dia berada di tempat asing yang bahkan Reyan sendiri belum pernah mengunjunginya sebelum ini.
"Kenapa aku bisa di sini?" Reyan meremas kepalanya lagi. Rasanya sangat sakit hingga Rosa harus membantunya lagi.
"Istirahat lah, wajahmu pucat."
"Maaf, tapi ... aku harus segera pergi dari sini. Aku harus menemukan seseorang."
"Eh?"
Reyan tiba-tiba ingat tentang apa yang terjadi malam itu. Saat di mana ia diseret paksa dan di aniaya oleh orang suruhan Anderson. Saat ini Reyan pun masih tidak percaya ketika samar-samar ia mengingat bahwa dia dibawa naik pesawat hingga melalui perjalanan panjang, lalu berakhir di tempat ini.
Astaga. Anderson benar-benar berniat membuangnya. Membuat Reyan semakin yakin kalau laki-laki itu memang bajingan.
Melia berada dalam bahaya. Mungkin hanya itu yang Reyan pikirkan saat ini.
__ADS_1
Reyan berusaha berdiri, tapi Rosa membantunya lagi. Reyan tampak terhuyung tapi Rosa dengan cepat menangkapnya.
"Aku tidak tahu kenapa kamu berniat pergi, tapi seharusnya kamu memikirkan dirimu sendiri. Kamu tampak lelah, kamu harus istirahat. Kamu tampak lemah, dan kamu juga harus makan."
Mendengar Rosa mengatakan tentang hal berbau makanan, tiba-tiba Reyan mulai merasakan kelaparan. Lambungnya baru terasa dan tiba-tiba terasa sangat perih saking laparnya. Reyan lupa, sudah sejak kapan ia tidak memasukkan makanan ke dalam perutnya.
"Makan lah, aku sudah menyiapkannya untukmu."
***
Tiga puluh menit berlalu, dan nampan yang ada di atas meja sudah kosong. Ternyata betul apa yang diucapkan oleh perempuan ini, bahwa yang Reyan butuhkan pertama kali adalah tenaganya. Reyan harus sedikit banyak beristirahat.
"Terima kasih,"
Rosa mengangguk. "Ya, tak apa."
Reyan sudah agak bisa tenang sekarang. Saat ini, otaknya sudah sedikit bisa diajak berpikir. Pikirannya mulai jernih dan ini semua berkat ...
"Siapa namamu?"
Dan ucapannya membuat Rosa terhenyak.
"Namaku Reyan."
Mereka mengangguk bersamaan. Saling berjabat tangan dan tersenyum kikuk.
"Untuk semuanya aku berterima kasih. Dan makanan itu ..."
Rosa mengangguk lagi. "Iya, tak apa. Lagi pula kamu terlihat sangat lemah, aku harus menolongmu."
Reyan menahan napas. Ia berusaha bangkit lagi.
"Aku harus pergi karena aku harus menolong ..." Reyan menghentikan kalimatnya. Ia takut, jika dia mengatakan banyak hal, itu akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
"Aku harus pergi."
"Apa kamu tahu tempat ini? Aku saja kadang masih bingung dengan tempat ini karena aku juga baru saja tiba."
__ADS_1
Reyan menggeleng. Tapi, baru saja ia akan melangkah pergi ia baru ingat kalau tidak ada barang pun yang ia bawa. Reyan tidak mempunyai uang sedikit pun hingga ia tidak tahu harus berbuat apa.
Astaga. Laki-laki itu memang bajingan. Dompet dan ponselnya tidak ia temukan di dalam saku celananya.
Rosa pun tahu apa yang sedang laki-laki itu pikirkan.
"Aku punya uang sedikit kalau bisa kamu gunakan untuk mencari seseorang yang tadi kamu maksudkan."
Reyan menahan napas. Ia tahu kalau Anderson memang orang sebajingan itu.
"Maaf,"
Rosa mengangkat bahu. "Tidak apa."
Rosa kemudian bangkit dan mengambil beberapa lembar uang yang ada di dompetnya. Memberikan juga kartu debet kepada Reyan.
"Sepertinya kamu jauh lebih membutuhkan."
Reyan terhenyak. Kenapa perempuan ini bisa sebaik ini dengan orang asing?
"Kamu terlihat sangat putus asa. Wajahmu, mengingatkan pada diriku sendiri." Tiba-tiba Rosa sedih, ia mengelus perutnya kemudian menghela napas.
Dan saat menyerahkan uang itu, Rosa kembali menatap wajah Reyan. Kali ini sangat dekat dan membuatnya teringat akan sesuatu.
"Sepertinya ... aku pernah melihatmu di suatu tempat dan ..."
Mata Reyan melebar.
Dan Rosa mencoba mengingat lagi. Saat itu, kalau tidak salah, Rosa pernah bertemu dengan orang yang sangat mirip dengan laki-laki di hadapannya kala berjalan dengan Melia di kantor.
"Oh, aku mungkin salah ingat. Temanku Melia orang yang sangat jauh dari tempat ini."
"Melia?!" Dan mata Reyan melebar dengan seketika. "Kamu tahu Melia?"
Lalu mereka terhenyak kaget secara bersamaan.
***
__ADS_1
10:42