
Melia masih membungkam mulutnya sendiri ketika ia bersembunyi di balik kolong meja. Suara langkahan kaki Bram membuat jantung Melia berdegup dengan sangat keras karena takut ia tertangkap.
Bram ...! Ternyata sebajingan itu!
"Nona Melia ...!"
Dan lagi-lagi suara itu kian mendekat, Melia memejamkan mata rapat-rapat karena mulai merasa takut saat pintu itu dibuka secara perlahan.
"Ya Tuhan ... tolong aku," desisnya lirih.
Bram melongok mencari keberadaan Melia. Mengibaskan pandangan ke seluruh ruang yang remang-remang dan belum menyadari bahwa Melia sedang bersembunyi di kolong meja.
Situasinya terasa sangat mencekam. Jantung Melia bahkan hampir copot dibuatnya. Ketika Bram masuk ke dalam ruangan, Melia semakin meringsut mundur dan hanya bisa berdoa kalau Bram tidak bisa menemukannya.
Detikan jam terasa sangat berat. Bram masih berada di kamar ini dan tidak merasa terganggu dengan semua foto yang terpasang di dinding ruang. Membuat Melia berpikir, kalau sebenarnya ... Bram juga ikut andil dalam masalah ini.
"LUSI!!! RANO!!!"
Tidak mendapatkan tanda-tanda keberadaan Melia, Bram segera keluar dari ruangan. Mencari keberadaan Lusi dan Rano kalau mereka tahu di mana keberadaan Melia saat ini.
"Ya Tuan." Mereka hampir bersamaan datang ke arah Bram di ujung tangga.
"Apa kalian melihat Nona Melia? Apa kalian melihatnya keluar dari ruangan ini?"
Kedua pembantu itu saling pandang lalu dengan cepat menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Sial!"
Bram mengumpat. Dengan sigap ia langsung meraih ponselnya untuk mencari bantuan pada yang lain. Menyuruh semua anak buahnya untuk datang ke tempat ini.
Detik itu juga terdengar ponsel yang berdering dari saku jas milik Bram. Nama Anderson muncul dari atas layar.
"BAGAIMANA BISA KAMU TIDAK BECUS MENJAGANYA?!!!"
Dan begitu lah amarah Anderson meluap dengan sangat keras.
Sementara itu di balik ruang, Melia mendengar semua itu. Gawat. Ini benar-benar gawat. Melia harus bisa segera keluar dari tempat ini sebelum Bram bisa menemukannya.
Melia melirik ke sela pintu yang terbuka, ketika semua orang saling sibuk dan situasi masih genting, Melia segera keluar dari ruangan itu, mencari celah jalan yang lain agar ia bisa keluar dari rumah ini.
Lalu ... bagaimana ia bisa turun dari atas sini?
Melia benar-benar kebingungan. Ia menggigiti ujung bawah bibirnya sendiri. Lalu, tanpa ia sadari ia melihat tangga yang lain dari ujung lorong. Sebuah tangga panjang berputar hingga menuju arah kolam renang di bawah sana.
Mata Melia melebar. Ia tidak mungkin membuang kesempatan itu.
***
Lima menit yang lalu, saat Anderson belum menyadari itu semua. Ia baru saja direpotkan oleh semua kegiatan meeting hari ini sebelum kepergiannya ke Perancis, dan masuk ke dalam ruangannya sendiri di kantor.
Ia meminum segelas air, melonggarkan dasinya dan segera melepaskan jasnya yang sudah terasa sangat sesak.
__ADS_1
Cepat-cepat ia bersiap untuk pulang ke rumah. Bayangan Melia yang pasti sudah tiba di rumah membuat Anderson tidak sabar untuk menemuinya.
Dan seperti biasa, dia pasti akan segera menyalakan monitor sebelum pergi, hanya ingin melihat Melia sebentar saja untuk memastikan bahwa semua akan baik-baik saja.
Tapi saat itu juga matanya menyala lebar ketika ia tidak menemukan Melia berada di dalam kamar.
Bukan kah Bram seharusnya sudah membawanya ke rumah?
Dan yang membuat Anderson syok adalah, saat ia melihat sisi kamera yang lain, ketika dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Melia masuk ke dalam sebuah ruangan yang seharusnya tidak pernah ia masuki.
Melia tampak membungkam mulutnya, keluar dari kolong meja dan berlari keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa.
"SIAL!!! BAGAIMANA BISA KAMU MEMBUATNYA KABUR?!"
Anderson membanting ponselnya lalu bergegas keluar dari ruangan ini dan berlari dengan sangat cepat.
Melia tidak akan pernah bisa lepas darinya! Tekadnya dalam hati.
***
Melia terengah-engah, ia mendapat celah bahwa dari kolam renang ini, ada sebuah pagar yang harus ia panjat agar ia bisa keluar dari rumah ini.
Ini harus bertemu Rosa, ia juga harus bertemu denvan Reyan, karena ia, harus meminta penjelasan kepada semuanya.
Dan dirinya, harus segera keluar dari tempat ini! Tekadnya dalam hati.
__ADS_1