
Anderson tidak pernah membayangkan bahwa sampai pada akhirnya ia bisa berada di titik ini. Di mana Melia mau memaafkan, menerima dan membalas cinta yang bahkan sudah bertahun-tahun ia rasakan.
Genggaman tangan ini tidak terlepas. Saat-saat mereka berdiri di pinggir pantai, sambil menikmati langit yang sebentar lagi senja.
"Aku cinta kamu,"
Anderson semakin mempererat pelukannya dari belakang. Tersenyum dan semakin memperdalam eratannya dan menciumi tengkuk Melia bagian belakang.
"Sudah berapa kali kamu katakan itu?"
Anderson terkekeh sambil bermain-main dengan ombak kecil yang kadang menghampiri mereka.
"Aku tidak pernah bosan untuk mengatakannya."
Senyum mereka kembali merekah. Lepas tanpa beban. Lagi-lagi Anderson memeluk Melia dari belakang lagi. Semakin erat dan mungkin tidak akan pernah bisa terlepas.
Sesekali Anderson menyium tangan Melia pada cincin yang masih tersemat di sana.
"Aku sudah menyuruh orang untuk menyiapkan pesta pernikahan kita?"
"Secepat ini?"
Anderson mengangguk.
Melia menghela napas. Jika Melia protes pun, Melia pasti akan kalah. Melia sudah tahu betul bagaimana karakter Anderson.
Dan pelukan itu semakin erat.
"Kamu tahu kalau aku sangat tergila-gila denganmu?"
"Dan aku pun juga sudah gila menghadapi kelakuanmu."
Anderson terkekeh. Tertawa kecil ketika mengingat perlakuannya lagi.
"Maafkan aku,"
"Maksudku, kenapa harus secepat ini."
"Karena aku takut kamu berubah pikiran."
Melia menggeleng. "Kamu tahu itu tidak akan pernah terjadi. Aku berubah pikiran pun, kamu pasti akan datang lagi dan menyanderaku lagi."
Dan kali ini Anderson benar-benar tertawa.
"Kamu sudah tahu rupanya. Kamu sudah tahu betul bagaimana karakterku."
Melia melenguh. "Ya, dan menakutkan."
Anderson kemudian melepas pelukan itu dan berjalan ke arah Melia, hingga kini posisi mereka berhadapan. Sekali lagi, Anderson mengelus lembut pipi itu, meneliti setiap inci wajah orang yang sangat ia cintai.
"Percaya lah padaku,"
Melia membalas tatapan itu.
"Menikah lah denganku, Melia."
"Sudah kujawab tadi pagi."
"Sewot sekali ...!" Nada suara Anderson kembali berubah naik.
Melia mendecih.
"Hey! Kenapa pasang wajah seperti itu?! Kamu benar-benar tidak bisa di ajak romantis."
Melia menaikkan salah satu alisnya.
"Kenapa menyalahkanku? Bukan kah kamu yang pertama kali bilang kalau kamu yang tidak bisa romantis? Bahkan aku ingat pertama kali saat kamu melamarku dengan menghadapkan aku dua pilihan." Melia langsung merinding ketika mengingat tentang kejadian waktu itu.
Anderson terkekeh saat mengingat kejadian itu. "Ya, ya. Aku yang salah. Tapi aku sudah berusaha, tidak ada salahnya kan? Aku juga ingin menjadi laki-laki seperti di drama-drama Korea yang selalu kamu tonton setiap hari."
"Eh?" Mata Melia melebar. "D-dari mana kamu?!"
Astaga. Melia hampir lupa kalau Anderson selama ini membuntutinya bahkan ada begitu banyak kamera cctv yang ada di dalam kamarnya dulu.
"Kamu tahu semuanya?!"
"Jelas aku tahu. Bahkan aku tahu kalau setiap ada drama baru, kamu selalu dengan mudahnya jatuh cinta. Jung Hae in? Lee Min ho? Hyun Bin? Kim Soo Hyun, Song Jong Ki?"
"Stop, stop, stop!!! Ini memalukan!!!"
Lebih tepatnya menggelikan!
Melia meremas tangannya sendiri.
"Jadi, sampai sedetail itu kamu membuntutiku?!" Melia mulai mengamuk.
__ADS_1
"Jika aku punya kuasa untuk mendatangi artis-artis itu satu persatu, aku pasti sudah mencekik leher mereka dan memberi mereka pelajaran karena membuat wanitaku sampai tergila-gila dengan mereka."
"Astaga. Kamu benar-benar ...!!! Kamu belum menjawab pertanyaanku!!! Sampai sedetail itu kamu membuntutiku?!!!"
Anderson mengangguk.
"Aku memasang seluruh alat penyadap di seluruh barangmu, dan juga kamera di seluruh hidupmu. Dan bahkan ..." tiba-tiba Anderson menatap Melia dari atas sampai bawah sambil menyipitkan mata.
Ini gila!!!
"Dasar mesum."
Anderson mengangkat bahunya seperti tidak merasa bersalah.
"Kamu tahu kalau aku harus memastikan kamu baik-baik saja dan dalam pantauanku. Aku tidak bermaksud pada hal-hal lain."
Melia menata lagi emosinya.
"Jangan bahas itu lagi itu memalukan."
Anderson terkekeh lagi.
"Kamu sudah tahu kenapa aku sampai melakukan hal seperti itu? Aku hanya jatuh cinta padamu, Mel."
Melia meremas kepalanya frustrasi.
"Jangan lakukan itu lagi. Aku mohon. Aku sudah ada di sini bersamamu. Maksudku, dengan terus melihat orang setiap detik dan setiap waktu, itu sangat ..." Melia meremas tangannya saat ia terhenti untuk melanjutkan kata-katanya, mengerutkan kening dan menatap ke arah Anderson.
"Ya aku paham. Dan aku dengan tulus meminta maaf. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
Melia menghembuskan napasnya penuh kelegaan.
"Kamu janji?"
Anderson mengangguk.
"Tapi sebagai gantinya, setelah nanti kamu menjadi istriku, kamu akan dalam pengawasan yang ketat oleh anak buahku."
"Hey!!! Apa bedanya?"
Anderson tertawa.
"Paling tidak, aku tidak akan menaruh kamera dua puluh empat jam."
Anderson mengerutkan kening. Matahari sudah semakin condong ke arah barat dan tiba-tiba Anderson memeluk Melia lagi.
"Aku hanya memintamu percaya padaku."
"..."
"Aku tahu ini kelewatan. Tapi itu caraku untuk menjagamu."
Melia protes pun, tidak akan merubah apa pun. Karakter Anderson tidak mudah untuk dipatahkan.
Anderson memeluk Melia semakin erat.
"Menikah lah denganku, Melia."
"Sudah aku jawab tadi pagi."
Anderson melenguh. "Tadi pagi kamu hanya mengangguk. Tidak menjawab apa pun. Kamu tahu, aku hanya perlu diyakinkan."
"Kenapa kamu selalu banyak maunya?"
Bibir Anderson terangkat lagi.
"Aku hanya perlu diyakinkan."
Dan Melia tidak punya pilihan lain lagi.
"Ya, Anderson. Aku mau menikah denganmu."
Dan ucapan itu nyatanya memang menenangkan. Saat mendengar jawaban Melia secara jelas, hati Anderson jauh lebih tenang.
"Aku jadi tidak sabar malam pertama kita!"
Plak!
Melia melepas pelukan itu sambil menjitak kepala Anderson.
"Apa itu yang selalu dipikirkan laki-laki?"
"Aku hanya tidak sabar bagaimana keperjakaanku kamu ambil begitu saja."
Astaga.
__ADS_1
"Kenapa pikiranmu kotor sekali?!"
"Aku laki-laki normal!!! Sejak bibirku kamu cium, kamu tidak tahu bagaimana rasanya menahannya sampai berminggu-minggu?"
"Aku mohon hentikan."
"Kamu tidak tahu kalau itu ciuman pertamaku, Melia?"
"Omong kosong!"
"Dan kamu tiba-tiba merampasnya begitu saja waktu itu?! Dasar perempuan agresif."
"Hey, aku tidak melakukannya!" Melia membela diri.
"Apa kamu pura-pura amnesia?! Kamu yang agresif dan menciumiku terlebih dahulu. Jangan-jangan saat malam pertama nanti, kamu yang jauh lebih agresif."
"Anderson!!! Kamu gila!!!"
Melia meremas kepalanya lagi. Ingatan saat dulu Melia mencium Anderson benar-benar mulai merusak otaknya.
Apa itu benar-benar ciuman pertama Anderson.
"Omong kosong."
"Aku tidak bohong. Kamu tahu hanya kamu satu-satunya wanita di hidupku dan ..."
"Stop, stop. Ini menggelikan. Kamu benar-benar membuatku merinding."
Anderson tertawa lagi.
"Jadi sepertinya kita harus mempersiapkan malam pertama kita mulai dari sekarang."
Mendengar Anderson yang terus mengoceh tidak jelas, Melia segera pergi dari sini. Meninggalkan Anderson di hari yang hampir gelap, karena senja yang sebentar lagi akan menghilang.
"Melia? Melia? Melia?"
Anderson tertawa. Dan mungkin, ini lah pertama kalinya Anderson bisa tertawa bebas, lepas, dan bahkan tanpa beban sedikit pun.
***
Lalu malam kembali datang. Mereka masih tetap berpegangan tangan, menikmati makan malam mereka sambil duduk di balkon kamar.
"Kalau kamu memegang tanganku terus menerus, aku tidak bisa menyendokkan makanan ini."
"Aku tidak mau melepasnya."
Melia melenguh. "Padahal kemarin kamu mati-matian menyuruhku makan."
Senyum Anderson mengembang lagi.
Tapi tiba-tiba, Melia menunduk saat teringat akan sesuatu, sedikit membuat Anderson mengerut ketika tidak sengaja melihat ekspresi itu.
"Kamu kenapa Melia ...?"
"..."
Diam tanpa kata.
"Hei, katakan padaku kenapa tiba-tiba kamu murung?"
Melia menatap wajah itu.
"Ada hal yang sepertinya harus kamu selesaikan agar aku benar-benar bisa tenang."
"Apa itu?"
"Reyan ..."
"Rosa ..."
Anderson tercekat.
"Aku benar-benar merindukan mereka. Dan kamu harus benar-benar menyelesaikan semuanya. Aku rindu dengan Rosa, bisa kah aku pulang dan memeluknya?"
"..."
"Ada rasa bersalah saat aku di sini tertawa bersamamu, bagaimana mungkin aku melupakan tangisannya ketika waktu itu dia menghubungiku dan ..."
Anderson mengangguk.
"Ya, besok kita akan pulang. Apa pun, asal kamu bahagia." Jawab Anderson.
***
16:14
__ADS_1