Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
HAL EROTIS


__ADS_3

Sebenarnya Melia agak takut saat Melia kembali ke dalam rumahnya. Tepat di malam hari dan tidak ada orang yang menemaninya. Reyan sudah pulang, dan tentu saja dia harus mengurus usaha kafenya yang baru berjalan beberapa minggu.


Melia menoleh ke kanan dan ke kiri, tadi siang Reyan sudah membantu Melia untuk menambah kancing tambahan di seluruh pintu dan jendela. Ia juga mengecek seluruh isi rumah dan sekitaran rumah ini. Untuk itu, Melia bisa jauh lebih tenang.


"Kamu tidak apa-apa, Mel?" Suara panggilan telefon menyapa Melia.


"Aku tidak apa-apa, Rey."


"Kamu hanya berpura-pura tidak apa-apa kan?"


Melia agak sedikit tertawa. "Aku sudah jauh lebih tenang saat kamu menambah kancing tambahan. Aku yakin aku tidak apa-apa."


Reyan melenguh. "Aku sudah mengatur panggilan cepat di ponselmu. Aku janji aku langsung datang ke sana dengan cepat."


Melia mengangguk. "Ya, Rey."


Begitu sambungan terputus, situasi kembali mencekam seperti biasanya. Bohong rasanya kalau Melia tidak takut. Benar apa yang dikatakan oleh Reyan kalau sebenarnya dia hanya pura-pura tidak apa-apa. Lagi pula manusia mana yang tenang jika hidupnya diikuti oleh penguntit? Hanya saja ... Melia tidak ingin menjadi beban bagi Reyan.


Melia berlari lagi ke segala arah, mengecek satu persatu lagi keadaan rumah dan meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja.


Dalam situasi yang tidak tenang seperti ini, suara ponselnya berbunyi. Sebuah pesan video dari Anderson langsung memecah keheningan dan Melia langsung mengeceknya.


Sebuah notifikasi rekaman cctv yang dijanjikan oleh Anderson datang, hingga membuat Melia cepat-cepat mengeceknya.

__ADS_1


Melia langsung membuka laptopnya, naik ke atas tempat tidur dan mulai menontonnya. Dan benar saja, Anderson memang tidak berbohong. Anderson bahkan mengirimi Melia seluruh rekaman cctv di seluruh penjuru rumahnya.


Melia mendengus kecewa. Hingga pada akhirnya ia menitik beratkan waktu antara jam dua pagi di mana ia mencurigai bahwa ada orang lain yang menerobos rumahnya.


Tapi, Anderson memang tertidur di sana, dengan wajah lelapnya ia berbaring di tempat tidur. Selimut yang ia kenakan sedikit terbuka hingga sampai pada paha, sedikit membuat Melia menahan napas karena tidak sengaja melihat hal yang semestinya.


Sial! Dia benar-benar telanjang!


Melia menggigit ujung bawah bibirnya sendiri, niatnya ingin segera menutup laptop itu, tapi karena rasa penasaran, Melia malah mengamati Anderson yang sedang terlelap di sana.


Anderson terbaring seperti bayi, wajahnya yang selalu Melia kenal dengan garang kini polos seperti tidak mempunyai dosa sama sekali. Melia baru sadar bahwa laki-laki ini ternyata begitu tampan, jambang halusnya ketara di antara rahang yang dibentuk secara sempurna.


Tiba-tiba saja Melia menahan napas. Dan antara pukul setengah tiga pagi, Anderson bangkit. Sepertinya Anderson terjaga hingga langsung berdiri seperti itu.


Melia bahkan tidak sadar dengan apa yang dia lakukan. Ia seperti terhipnotis dengan tubuh Anderson yang atletis dan dadanya yang membentuk bidang. Warna kulitnya yang semu kecokelatan entah kenapa membuat Melia menelan salivanya.


Anderson dari atas hingga bawah, memang sangat memesona. Bahkan Melia diam membeku, hanya dengan melihatnya saja seluruh tubuh Melia panas dingin. Jantungnya bergemuruh hebat karena nyatanya, Melia tidak mampu menampik ciptaan Tuhan yang memang begitu sempurna.


"Tampan sekali ..." Jelas-jelas Melia tidak sadar saat mengucapkan kalimat itu. Tubuh bidangnya langsung menghipnotis Melia, membayangkan kalau Melia bisa ada di sana dan bisa menyentuh dadanya.


"SHIT!!!" Tiba-tiba, Melia tersadar begitu saja.


APA YANG BARU SAJA AKU LAKUKAN?!

__ADS_1


Cepat-cepat Melia menutup laptopnya. Ia langsung membungkam mulutnya sendiri kemudian langsung pergi ke arah kamar mandi dan mencuci muka.


"Aku gila! Aku gila! Aku sudah gila!"


Melia menggeleng-geleng keras. Ini pertama kalinya ia melihat hal seperti ini dan malah membayangkan hal erotis hingga membuatnya benar-benar gila.


"Astaga! Apa aku sudah gila?!"


Melia! Sadar lah!


Terlambat. Jantung Melia sudah berpacu dengan sangat hebat.


***


Di balik kegelapan malam, ada seseorang yang tersenyum melihat tingkah Melia yang tampak menggemaskan.


Anderson masih telanjang tanpa menggunakan sehelai benang dan melihat rekaman cctv di mana Melia yang panas dingin melihat rekaman yang baru saja ia kirimkan.


"Akhirnya kamu terpesona padaku, Melia." Anderson tertawa lagi. "Aku tidak pernah tahu kalau kamu juga bisa nakal seperti ini."


Lewat sebuah kamera pengawas yang luput dari pencarian Reyan tadi pagi. Untung saja, Reyan tidak tahu bahwa ada satu kamera lagi terpasang di dekat figura.


Dan Anderson mensyukuri itu, sehingga ia bisa tahu bahwa wanitanya memang ternyata senakal ini.

__ADS_1


__ADS_2