
Entah bagaimana caranya mereka sudah duduk berhadapan dan hanya saling menunduk kikuk oleh situasi yang sedang terjadi di depannya.
Reyan dan Melia.
Ada kisah di masa lalu mereka yang membuat mereka kini merasa jauh. Saat mereka sama-sama masih menggunakan seragam putih abu-abu dan menjadi sepasang kekasih di masanya.
Tapi, itu semua hanya masa lalu.
Saat Melia merasa dikhianati oleh Reyan, dan Reyan pun sama, ia juga merasa kecewa saat Melia memilih menyerah dalam hubungan mereka.
Mereka sesekali hanya memandang canggung tanpa tidak tahu harus berbicara apa. Sampai suatu ketika, pesanan dari pelayan datang dan sempat membuat Melia tersentak kaget.
"Capuccino panas satu dan cake selai strawberry ya mas." Begitu ucap pelayan itu hingga membuat mereka sama-sama menahan napas.
Melia memandang pesanan yang tadi ia pesan, dan semuanya sama persis dengan apa yang Reyan pesan.
Melia seperti dipaksa untuk mengingat kejadian masa lalu yang memang terasa manis sekaligus pahit jika disuruh untuk mengenang.
"Minuman dan cemilan kesuakaanmu, ternyata tidak berubah sedari dulu, Mel." Dan itu lah sebuah tatanan kalimat yang akhirnya melelehkan keadaan.
Melia hanya berdehem sedikit dan hanya tersenyum sedikit ke arah Reyan.
"Aku pikir, kamu masih membenci strawberry, tapi kamu malah memesannya." Melia mengangkat alisnya ketika menatap cake yang bahkan sudah Reyan cicipi saat ini.
Reyan terkekeh. "Entah lah, sejak kita berpisah aku malah sering memesan ini. Mungkin, aku rindu padamu."
Dan bom itu akhirnya meledak. Melia menghela napas satu kali ketika Reyan mulai membahas tentang hubungan mereka di masa lalu.
"Sudah tidak ada hal yang perlu kita bicarakan lagi, Rey."
"Jadi menurutmu seperti itu?" Reyan mengelak. Sudah hampir bertahun-tahun mereka berpisah dan Melia memutuskan hubungan secara sepihak, tentu saja saat mereka secara kebetulan bertemu, hal ini perlu diluruskan bukan?
Sementara itu, Melia mulai merasa tidak nyaman. Ia buru-buru ingin mengambil tas, tapi Reyan langsung berdiri untuk menghalangi Melia pergi.
Tapi saat Reyan melakukan itu, ia tidak sengaja menatap ke arah laki-laki bertubuh gempal di sudut sana. Laki-laki yang sedari tadi Reyan amati, dan laki-laki yang selalu tampak tidak nyaman saat ia bertemu dengan Melia.
Sebenarnya, siapa laki-laki berjas itu?
"Menurutmu, setelah kamu mengkhianatiku dengan cara sadis seperti dulu, aku mau memaafkanmu?"
__ADS_1
"Mel, tunggu. Bisa kah kita bicara baik-baik? Ada hal yang harus kita luruskan."
Melia sebenarnya masih merasa enggan untuk duduk di depan Reyan. Jika ia ingat tentang kejadian beberapa tahun yang lalu, hatinya masih terasa sangat sakit.
"Kenapa kamu selalu mengatakan bahwa aku mengkhianatimu? Padahal, aku merasa aku tidak pernah mengkhianatimu. Justru, kamu yang meninggalkanku disaat aku benar-benar butuh dukungan."
Dahi Melia langsung mengerut begitu saja.
"Apa?!"
"Ya, jelas-jelas kamu meninggalkanku." Tuduh Reyan.
Melia menggeleng keras. "Menurutmu, setelah kamu tidur dengan perempuan lain, apakah itu bukan yang dinamakan pengkhianatan?" Melia tertawa lalu mengutuk ke arah Reyan yang sedari tadi terus mengelak dan terus membela diri. "Astaga, apa semua laki-laki bisa begitu mudah tidur dengan wanita?"
Sungguh. Melia masih geram dengan semua perbuatan setiap laki-laki yang dikenalnya.
Tapi, mata Reyan hanya membelalak sempurna saat mendengar semua perkataan dari Melia.
Tidur dengan wanita lain?!
Astaga! Apa yang Melia katakan?!
"Aku tidak pernah tidur dengan perempuan lain, asal kamu tahu! Aku tidak sehina itu. Dan apa kamu lupa kalau itu bertentangan dengan agama kita?!"
Melia ikut syok saat mendengarnya.
"Bohong. Aku bahkan masih menyimpan fotonya." Melia kemudian mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya dan memperlihatkan sebuah foto yang sampai saat ini ia simpan. Sebuah foto yang harus ia ingat seumur hidupnya tentang pengkhianatan paling menjijikkan, di mana Reyan sedang bersama dengan seorang wanita di dalam sebuah kamar.
"Ini, lihat ini."
Dan saat Reyan menatap ke arah foto itu, mata Reyan kembali terbelalak.
"Aku berani bersumpah bahwa itu bukan aku! Dan aku bahkan tidak mengenal wajah perempuan itu!"
"Apa?!"
Reyan semakin yakin bahwa ini adalah sebuah kejanggalan.
"Justru kamu yang meninggalkanmu, Mel. Dulu, saat keluargaku hancur dan kita sekeluarga harus pergi ke luar negeri, kamu dengan teganya mengatakan bahwa kamu tidak bisa meneruskan hubungan ini. Kamu mengatakan bahwa kamu tidak bisa hidup denganku yang sudah jatuh miskin. Kamu bilang, kamu berharap bisa mendapatkan laki-laki kaya agar kamu bisa hidup nyaman."
__ADS_1
Perkataan Reyan benar-benar membuat Melia syok berat. Tangannya gemetar hebat saat ia baru sadar bahwa ia tidak pernah mengatakan hal sekejam itu.
"Bohong. Aku tidak pernah mengatakan hal sekejam itu."
"Aku bahkan masih menyimpan tangkapan layar saat kamu mengirimiku pesan seperti itu."
Dan ketika Reyan menunjukkan pesan itu. Sungguh. Melia langsung membungkam mulutnya sendiri.
"Aku berani bersumpah kalau aku tidak pernah mengatakan hal sekeji itu!"
"Aku pun juga sama. Aku juga tidak pernah tidur dengan perempuan mana pun. Kalau mau bukti, ayo kita berikan foto itu kepada ahlinya agar kita tahu, apakah foto itu hasil editan atau memang asli."
Mendengar itu pun, seluruh tenaga Melia terasa lemas seketika. Pun juga dengan Reyan yang pada akhirnya tahu bahwa memang ada yang salah di sini.
Pada akhirnya Reyan menatap ke arah laki-laki bertubuh gempal itu yang sepertinya langsung pergi dari sini. Ia terlihat langsung merogoh ponselnya dan seperti menghubungi seseorang .
"Reyan, katakan padaku. Apa kamu benar-benar bukan laki-laki yang ada di foto ini?"
"Aku berani bersumpah itu bukan aku! Aku akui itu memang wajahku, tapi itu bukan aku!"
Melia kaget bukan kepalang.
"Dan kamu, Melia. Apa kamu benar-benar yakin kalau kamu tidak pernah mengirimiku pesan seperti ini?!"
Melia menggeleng keras. "Itu juga bukan aku!"
Mereka terbelalak hampir bersamaan. Mereka syok, mereka benar-benar kaget dengan situasi yang membingungkan seperti ini.
Dan ternyata memang benar, dengan apa yang sebenarnya Reyan curigai sejak awal. Sepertinya, memang ada yang janggal di sini. Ada sesuatu yang salah hingga Reyan harus benar-benar mencari seseorang yang sudah sejak lama merecoki hubungan mereka.
Lalu tiba-tiba, saat Reyan menatap ke arah laki-laki bertubuh gempal yang ada di sana, orang itu salah tingkah. Dia tiba-tiba pergi begitu saja dan keluar dari kafe ini.
Entah orang itu, atau ada orang lain yang menyuruh laki-laki itu untuk menguntit Melia bahkan sudah sejak lama.
***
"Halo, Bos. Gawat! Mantan pacar nona Melia telah kembali dan sepertinya mereka sedang meluruskan kesalah pahaman mereka di masa lalu."
"Kalau begitu, kenapa tidak kamu bunuh saja mantan pacarnya itu?" Begitu jawaban dari Anderson yang langsung marah dan membanting ponselnya keras-keras ke atas lantai.
__ADS_1