
Melia segera menghindar, buru-buru ia menarik diri dari hadapan Anderson yang sebentar lagi akan menyiumnya.
"Maaf, Pak. Sepertinya saya harus mempersiapkan rencana kita untuk meeting ke Bali."
Anderson mengangkat sebelah bibirnya kecewa. Ia tahu bahwa Melia pasti akan menolaknya seperti ini.
"Apa kamu memang benar-benar membenciku?"
Melia menggeleng. "Bukan seperti itu. Tapi saya hanya takut dosa. Kita bukan mahramnya."
Mendengar hal itu, Anderson sedikit tertawa. Di masa sekarang seperti ini, ternyata masih ada perempuan seperti Melia.
"Kamu unik, Mel. Sosokmu yang selalu polos dan apa adanya, membuatku semakin tergila-gila."
Melia termangu. Sedangkan Anderson hanya bisa menatap Melia lekat-lekat.
***
Masih pukul sebelas siang dan masih ada waktu bagi Melia dan Anderson untuk mempersiapkan semuanya. Untuk itu, mereka kembali ke kantor, Melia juga harus membawa dokumen serta berkas-berkas yang harus mereka bawa saat mereka meeting nanti.
"Pak, sebaiknya saya turun di sini."
Ucapannya berhasil membuat Anderson kaget. Beberapa saat lagi mereka akan sampai ke kantor, tapi Melia malah meminta Anderson untuk menurunkannya di tepi jalan.
"Kenapa Mel? Tinggal sebentar lagi kita sampai."
__ADS_1
Melia menggeleng. "Jangan, Pak. Saya hanya takut kalau ada pegawai yang melihat kita bersama. Mereka pasti akan memikirkan hal yang tidak-tidak."
Mendengar hal itu, Anderson malah tertawa. "Kenapa? Aku suka kalau mereka menganggap kita pacaran. Jadi, tidak ada satu orang pun yang berani mendekatimu seperti laki-laki kemarin bukan?"
Deg.
Mata Melia melebar seketika.
Boby.
Ya ampun, Melia hampir lupa dengannya. Padahal tadi malam, Melia sempat mencurigai Anderson kalau ...
Bahkan memikirkannya saja, Melia mulai merasa takut.
"Pak, saya turun di sini saja."
Astaga. Ini di depan kantor!
Melia gelagapan. Ia melihat begitu banyak teman-temannya dan beberapa karyawan lainnya di sini. Dan mereka pasti akan kaget saat mereka melihat dirinya sedang turun bersama dengan bos mereka.
"Tunggu apa lagi Melia? Ayo masuk."
"Pak ... saya bisa jalan sendiri."
Tapi sepertinya, Anderson mulai mengabaikan pekikan Melia yang sudah mulai protes. Ia malah tertawa dan kemudian turun, membuka pintu di mana Melia duduk dan mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Sial!
Tingkah Anderson benar-benar membuat keributan. Mata semua karyawan tertuju ke arah dirinya.
Melia gelagapan. Sungguh. Apa yang sedang direncanakan oleh bosnya ini?
Belum selesai Melia berpikir tiba-tiba Anderson sudah mulai menarik tangannya. Membawa Melia keluar dari dalam mobil dan tentu saja hal itu langsung membuat kegemparan di seluruh penjuru kantor.
Semua orang hampir tidak percaya. Mata meraka terbelalak kaget dengan apa yang baru saja mereka lihat saat ini.
Sementara di sudut sana, ada Rio, satu-satunya teman dekat Anderson yang juga ikut kaget melihat penampakan yang baru saja terjadi ini.
Apa lagi ketika melihat Anderson kini malah merangkulkan tangannya ke arah pundak Melia hingga membuat Melia ikut syok melihat perlakuannya.
"Pak, jangan seperti ini."
"Tsut. Biar semua orang tahu kalau kamu adalah satu-satunya milikku, Melia."
"Apa? Maaf, Pak. Tapi saya tidak pernah mengatakan hal seperti itu ..."
Ha ha ha.
Anderson malah tertawa. Sementara Melia, hanya bisa mengutuk di dalam hati. Sungguh. Melia meralat ucapannya yang tadi sempat memuji Anderson karena berhasil menjadi laki-laki normal pada umumnya.
Tapi ternyata Melia salah.
__ADS_1
Anderson masih sama persis. Ia tetap menjadi orang bajingan yang pernah ia temui di sepanjang hidupnya.