
Kepala Anderson benar-benar seperti ingin meledak. Bagaimana tidak? Dia baru saja mendapati kenyataan kalau Melia kabur dari hidupnya, dan sekarang ia baru mendapatkan informasi kalau laki-laki yang ia sekap, juga sudah pergi dan menghilang begitu saja.
"Sial!"
Anderson benar-benar murka kala ini. Semua orang tertunduk, semua pengawal Anderson bahkan tidak berani mendongak karena ketakutan melihat Anderson yang benar-benar marah, termasuk Bram itu sendiri.
Salah satu pengawal Anderson yang baru saja datang, kini memberikan sebuah rekaman cctv dari luar rumah itu, mengatakan bahwa Reyan juga ikut terlibat dalam semua kekacauan ini.
Anderson membanting itu semua. Amarahnya meluap, ia bahkan sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi melihat ketidak becusan para pengawalnya.
"Bagaimana bisa kalian melakukan ini?! Bagaimana kalian bisa menjadi tidak becus seperti sekarang?!"
Dan semuanya masih tertunduk. Hingga sampai pada suatu ketika, ada satu lagi pengawal yang kemudian berjalan ke arah Anderson. Membisikkan sebuah kalimat di telinga Anderson yang membuat mata Anderson kembali terbuka lebar.
Gigi Anderson gemeletuk. Tangannya bergetar kuat dan seketika itu juga ia melangkah dengan cepat ke arah Bram.
"BRAM ...! Berani-beraninya kamu mengacaukannya?!!!" Anderson mencengkeram kerah Bram. Tangannya benar-benar mengepal kuat karena merasa terkhianati di sini.
"Sudah kukatakan jangan pernah macam-macam denganku!"
Dan hari ini, Anderson baru mengetahui fakta itu. Bahwa Bram telah melakukan sebuah kesalahan besar, memperkosa teman dekat Melia hingga Rosa nekat menelefon Melia untuk mencari pertolongan.
Setengah jam yang lalu, kala Anderson melihat rekaman cctv saat Melia berbicara dengan seseorang, Anderson menyuruh orang untuk menyadap apa yang sebenarnya mereka bicarakan.
Dan ternyata ...
"Aku tidak percaya bahwa orang terdekatku lah yang sudah mengacaukan segalanya."
Satu pukulan lagi mendarat di tubuh Bram saat ini. Membuatnya langsung limbung dan jatuh ke atas tanah.
"Maafkan saya, Tuan ... saya hanya ..."
Anderson sudah tidak berkata apa-apa lagi. Ia emosi. Ia benar-benar marah. Yang dilakukan Bram telah benar-benar membuat semuanya kacau. Kalau saja Rosa tidak menghubungi Melia, mungkin Melia tidak akan pernah mempunyai pikiran buruk tentangnya.
__ADS_1
Anderson mengibaskan pandangan ke sekitar. Melihat ke mana dan bagaimana ia harus menemukan Melia. Hingga sampai pada akhirnya ia menemukan begitu banyak kamera pengawas yang juga terpasang dari semua sudut taman.
"Cepat sabotase seluruh rekaman jalanan. Tutup semua akses transportasi umum. Taruh semua orang sebanyak yang kita punya di semua gerbang stasiun luar kota agar Melia tidak bisa ke luar dari kota ini."
"Baik, Tuan."
Dan hanya dengan satu kali aba-aba itu, semua orang tampak bergegas pergi. Segera melakukan semua instruksi dari Tuannya.
"Dan untukmu, Bram. Kalau kamu tidak bisa menemukan Melia, akan kupastikan bahwa kamu juga akan membayarnya."
Bram menahan napas, ia terbatuk kemudian menganggukkan kepala satu kali.
***
Melia terengah-engah. Ia hampir pingsan ketika ia baru sadar bahwa sudah satu jam ia berlari seperti ini.
Wajahnya pucat, ia sudah teramat letih saat ini.
"Ya Tuhan ... kuatkan aku ..."
Matanya sudah mulai berkunang-kunang. Seluruh tubuhnya seakan seperti sudah mati rasa, tapi entah kenapa tekadnya saat ini jauh lebih kuat, Melia harus memastikan tentang segalanya, tentang Anderson dan semua hal yang baru saja dikatakan oleh Reyan.
Melia berlari lagi. Dirinya, tidak membawa apa pun lagi selain raganya. Mengikuti apa yang dikatakan Reyan dan kini ia kembali berlari lagi untuk mencari kebenaran itu.
***
Sedangkan di tempat lain Reyan menunggu Melia dengan harap-harap cemas. Ia percaya bahwa Melia akan segera sampai di tempat ini.
Sial ... jika tadi Melia memberi tahukannya di mana ia berada ia pasti sudah menjemputnya.
Rasa khawatir mulai menyeruak tajam.
Apakah Melia baik-baik saja?
__ADS_1
Apa Melia berhasil kabur lagi untuk datang ke tempat ini?
Adalah dua hal yang mengganggu pikiran Reyan saat ini.
Tapi tidak ... Melia pasti akan datang ke tempat ini, kan?! Karena Melia memang harus datang ke tempat ini.
Hingga sayup-sayup terdengar langkahan kaki yang begitu cepat. Terlihat Melia berlari dengan tertatih-tatih terlihat dari arah seberang sana.
Mata Reyan terbelalak sempurna. Ia selalu tahu wanitanya memang sehebat ini.
"Melia ...?"
"Reyan ...?"
Reyan segera naik ke arah motornya dan menjemput Melia di seberang sana. Sungguh, Reyan masih tidak percaya akan kehadiran Melia saat ini.
"Aku senang kamu akhirnya percaya padaku, Mel."
Melia masih terengah-engah saat Reyan turun dari motornya dan meraih kepalanya.
"Reyan, aku ... aku ... harus melihat bukti yang kamu janjikan kepadaku."
Tapi Reyan menggeleng.
"Nanti Melia, nanti ... aku harus membawamu pergi dulu. Di sini masih tidak aman. Aku harus membawamu ke tempat aman dulu agar kita bisa bicara panjang lebar."
Dan pada akhirnya Reyan mengulurkan tangan itu, membawanya pergi dari sini.
***
Follow author di ig : hi_alaleana ....
disana udah aku upload sekuelnya HTA ya... judulnya Hasrat Tuan Alexander ... sesuai janjiku kemarin.. makasih :)
__ADS_1