Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
IDENTITAS BARU


__ADS_3

Reyan benar-benar bahagia ketika setiap hari ia bisa melihat Melia. Mungkin, ini lah impiannya sejak dulu, bisa melihat Melia setiap pagi, melihat Melia selalu berada di sisinya dan yang paling penting, Reyan sudah merasa bahwa dia selangkah lebih maju untuk kembali mendapatkan hatinya.


Terkadang, Reyan memang masih menemukan Melia melamun dengan pikiran kosong, tapi menurutnya tak apa, semua akan berjalan seperti sedia kala. Semua hanya tinggal masalah waktu, dan jika Reyan mau bersabar, Melia pasti akan kembali padanya.


"Mel? Kenapa melamun lagi?"


"Eh?"


Reyan mengambilkan semangkuk sup ke depan Melia, mungkin Melia juga tidak sadar kalau sedari tadi dia hanya bermain-main dengan sendok di tangannya.


"Makananmu keburu dingin."


"Iya, Rey. Maaf."


Melia mencoba menyuapkan makanan ini ke mulutnya.


"Selama lebih dari satu minggu kamu tidak selera makan, tubuhmu bisa kurus kering."


Melia hanya tersenyum kecut, menarik napas panjang dan mengembuskannya. Entah, Melia benar-benar tidak selera makan.


"Kamu masih baik padaku," Melia kemudian mengibaskan pandangan ke segala arah. Melia ingat waktu pertama kali dia datang ke tempat ini, semuanya kumuh dan tidak terurus, tapi hanya dengan beberapa hari Reyan mampu mengubah semuanya, menjadi lebih bersih dan enak dipandang mata.


"Ya, rumah ini ada di pinggiran kota dan sepi. Aku sudah berniat membelinya untuk kita."


"Eh?" Mata Melia melebar.


"Tapi setelah kita berhasil melewati semuanya. Karena setelah ini, kita harus pindah Mel. Aku sudah menyewa mobil pribadi dan minimal kita harus keluar dari kota ini."


"M-maksudmu? Tapi, aku tidak tahu rencana ini sebelumnya."


Reyan mengangkat bahunya. Mengernyit satu kali lalu memandang ke arah Melia.


"Kamu sudah tahu betapa mengerikannya Anderson. Dia pasti akan mencarimu ke lubang tikus sekali pun. Dan sebentar lagi aku juga yakin jika kita tetap di sini dia akan segera menemukan kita, oleh karena itu ..."

__ADS_1


Tiba-tiba Reyan berdiri dan mengambil sesuatu dari laci tempat ia menaruh barang.


"Apa itu Rey?" Tanya Melia saat melihat Reyan menyodorkan sebuah map kecil ke hadapannya.


"Ini identitas baru kita."


"Eh?"


Mata Melia melebar saat melihat kartu identitas itu di depannya saat ini. Bahkan bukan nama Melia yang terpampang jelas di foto itu.


"Astaga. Kamu melakukan hal sejauh ini."


Reyan mengangguk.


"Bahkan, aku juga sudah mempunyai tiket untuk kita bisa pergi ke Sulawesi setelah ini. Ada sebuah desa terpencil di sana dan kita bisa hidup berdua dengan identitas baru kita."


"Reyan, ini ... astaga." Bahkan Melia tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Tapi Reyan ..."


"Apa kamu ingin ditangkap lagi? Apa kamu yakin akan bersama dengan orang yang membunuh kedua orang tuamu."


Dan ketika lagi-lagi mendengar akan hal itu, hatinya kembali ngilu. Dan tentu saja ... Melia menggeleng. Perbuatan Anderson nyatanya memang tidak termaafkan kan?


"Untuk itu, kamu harus mau. Aku sudah melakukan segala macam cara. Dan aku mohon, kali ini saja turuti permintaanku. Agar Anderson ... tidak menganggu hidup kita lagi."


"..."


Dan lagi-lagi Melia dihadapan kebingungan yang benar-benar membuat kepalanya sakit luar biasa. Melia tidak tahu dengan keputusan yang seharusnya dia ambil. Dan semua tindakan Reyan yang tiba-tiba itu, apakah memang seharusnya seperti itu? Atau kah memang seharusnya Melia menerima semuanya.


Tapi ...


Akan selalu ada kata tapi untuk melakukan hal nekat tersebut. Dan jujur, Melia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


"Mel ...?"


Reyan menggenggam erat tangan Melia, tapi secepat itu juga Melia melepasnya.


Reyan sedikit kecewa, tapi sebentar saja dia tersenyum lagi.


"Tidak apa-apa aku akan memberimu waktu untuk berpikir."


Dan Melia hanya bisa memandang ke arah jendela pada hari yang sudah senja, menanti matahari tenggelam ke ufuk barat.


***


Hampir tengah malam,


Tangannya mengepal penuh amarah. Mukanya merah padam, emosinya sudah tidak bisa terbendung lagi.


Anderson sedang berdiri di sebuah rumah pinggiran kota yang ditunjuk oleh Bram. Tubuhnya bergetar hebat karena menyadari bahwa ... Melia bersama dengan laki-laki itu di setiap malam.


"Kurang ajar ... aku harus memberimu pelajaran."


Anderson menoleh ke arah Bram, dan detik itu juga, Bram mengangguk bahwa memang rumah ini lah yang digunakan Reyan untuk membawa Melia setelah sekian lama.


Dan mendengar hal itu, Anderson sudah tidak bisa membuang-buang waktu lagi.


***


SURPRISE!!!! VIRGIN NOT FOR SALE AKHIRNYA DITERIMA KONTRAKNYA... HEHE SETELAH DRAMA PANJANG.


MAKASIH DUKUNGANNYA...


yeayyyy...


follow aku di Ig: hi_alaleana kalau berkenan.. makasih ;)

__ADS_1


__ADS_2