
"Bohong! Kamu bohong kan?!"
Sungguh. Air mata Melia sudah tidak bisa ia tahan lagi saat ini. Tangannya terus meremas dadanya karena merasakan sakit yang teramat sangat.
"Untuk apa aku membohongimu? Aku mengatakan hal yang benar."
Melia menggeleng-gelengkan kepalanya keras. Ia masih tidak percaya dengan semua yang Reyan ucapkan.
"Anderson pembunuh orang tuamu, Melia. Sadar lah ... bahkan aku mempunyai bukti yang harus aku berikan padamu."
Seluruh tubuh Melia lemas seketika, ia ambruk lagi jatuh ke atas tanah.
"Dan sekarang bisa kah kamu mempercayaiku sekali saja?"
"..."
"Kita harus bertemu, Melia. Aku harus bertemu denganmu untuk memberikan semua bukti ini padamu."
Sungguh. Melia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia sudah tidak mampu lagi untuk mengatakan apa pun lagi kepada Reyan.
"Reyan ... aku mohon jangan membohongiku."
"Apa untungnya aku membohongimu?!"
"..."
"Kalau kamu masih menginginkan kebenaran, aku mohon buang ponselmu sekarang juga."
__ADS_1
Dahi Melia kembali mengerut ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Reyan. Sedangkan Reyan, di seberang sana teringat akan ucapan dari laki-laki yang tadi malam ia bebaskan. Bahwa ... seluruh hidup Melia telah disadap dan disabotase oleh Anderson.
Dia ... melarang apa pun, satu-satunya hal yang harus Melia lakukan untuk bebas lepas dari Anderson adalah membuang seluruh barang yang ia punya karena kemungkinan besar semua barang yang Melia punya, sudah di tempeli oleh alat pelacak sehingga memudahkan Melia ditangkap oleh Anderson lagi.
"Apa maksudmu ...?"
"Dengan semua hak yang Anderson punya, tidak ada yang tidak mungkin bahwa seluruh barang yang kamu punya disabotase olehnya?"
"Apa lagi ini Rey?!"
"Apa kamu masih tidak sadar juga?! Apa kamu bodoh?! Apa kamu masih bisa-bisanya mau menutup mata lagi?! Apa kamu lupa dengan kejadian di rumah lamamu yang penuh dengan kamera cctv?!"
Dan seluruh tenaga Melia kembali lemas dibuatnya. Ia kembali membungkam mulutnya dan kemudian menangis.
"Kita harus bertemu, Melia. Katakan padaku kamu di mana atau kita harus bertemu di suatu tempat."
"Kita tidak punya banyak waktu. Buang ponselmu sekarang juga."
"T-tapi ..."
"Aku menunggumu di tempat pertama kali kita bertemu. Kamu pasti paham di mana itu, Mel. Kalau kamu ingin mengetahui siapa sebenarnya sosok Anderson, kamu harus turuti perkataanku."
Melia menyeka air matanya, semua perkataan Anderson benar-benar membuat hatinya panas. Melia ingin pembuktian dan Melia ingin tahu apakah memang benar apa yang semua Reyan katakan.
Tiba-tiba saja, Melia nekat langsung membuang ponsel ini di sampingnya. Tertatih-tatih untuk bangkit lagi dan segera berlari pergi dari sini.
Kira-kira baru seratus langkah Melia berlari, terdengar decitan suara mobil yang berhenti hingga memekakkan telinga.
__ADS_1
Melia menoleh, ketika ia melihat bahwa mobil-mobil itu adalah milik Anderson dan banyak pengawalnya, Melia langsung mencari tempat persembunyian.
Bram dan Anderson tampak turun. Mencari keberadaan Melia dengan tergesa-gesa.
Dan ketika Bram melihat ponsel Melia tergeletak di atas tanah, Anderson dengan cepat langsung berteriak dengan sumpah serapahnya.
"Ini ponsel nona Melia, Tuan."
Anderson meraih ponsel itu dan meremasnya.
"Mungkin nona Melia sadar bahwa ada alat pelacak di ponsel itu, tapi saya akan tetap berusaha untuk mencari keberadaan nona Melia. Saya yakin, nona Melia masih belum pergi terlalu jauh dari tempat ini."
Di dalam tempat persembunyian, Melia lagi-lagi membungkam mulutnya sendiri.
Ya Tuhan ... apa dia tidak salah dengar?
Reyan benar. Lagi-lagi semua perkataan Reyan adalah benar. Ada alat pelacak yang terpasang di dalam ponselnya.
Air mata itu kembali menetes dan Melia menahan tangisannya. Menggeleng-geleng keras, lalu segera bersiap berlari dari tempat ini secepat kilat agar tidak ketahuan.
"Cepat cari Melia sampai dapat!"
Teriakan Anderson nyatanya memang mengerikan. Melia yang masih mendengar hal itu bahkan sampai gemetaran karena kembali merasa takut akan sosoknya.
Anderson ...
Siapa sebenarnya dia?
__ADS_1
***