Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
DUA ORANG KORBAN


__ADS_3

Tangan Bram mengepal kuat. Giginya gemeletuk. Ia tidak pernah menyangka bahwa Rosa cukup mampu untuk kabur dari rumah ini.


Surat pengunduran diri Rosa berada di tangannya. Dan sebuah kejutan lagi bahwa ketika Bram datang mengunjungi, Rosa sudah tidak ada dan entah ... ia pergi ke mana.


"Sial!"


Lalu dering ponselnya berdering nyaring. Bram segera mengangkatnya dan matanya kembali melebar.


"Nona Rosa berada dalam daftar penerbangan ke Kalimantan pagi tadi, Pak."


Tangan Bram kembali mengepal.


Kalimantan?


Kenapa tujuannya sama dengan tempat Bram membuang Reyan?!


Dengan cepat Bram segera keluar dari tempat ini, masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya untuk pergi.


***


"Melia?"


Dan mereka pada akhirnya sadar bahwa orang yang mereka sebutkan tadi, adalah orang yang sama.


Dan kini, Reyan mulai bercerita bahwa satu-satunya alasan dia berada di tempat ini adalah, karena Anderson yang berusaha menyingkirkannya karena berusaha menginginkan Melia.


Sedangkan Rosa pun pada akhirnya juga bercerita, bahwa bukan hanya Anderson yang berbahaya. Tapi, orang terdekatnya sekaligus sekretaris pribadinya, yang juga mampu melakukan segala macam cara untuk menyingkirkan siapa saja orang yang berani mengusik mereka.


"Bram?" Dan ucap hampir mereka bersamaan.


"Dan dia lah yang membuatku babak belur, mengikat bahkan membuangku ke sini."


Rosa menahan napas. Kali ini, ia mengusap perutnya sekali lagi. Tanpa sadar air mata itu kembali mengalir, teringat akan kejadian menyakitkan beberapa waktu yang lalu.


Reyan memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Rosa. Rosa terus saja menyentuh perutnya, seperti ada sesuatu hal yang berusaha ia sembunyikan.


"Dan kamu ...?"


"Aku juga salah satu korban mereka, dan ..."


Dan tangis itu meledak. Pada akhirnya Rosa tidak bisa menahannya lagi ketika saat ini ia memberi tahukan kepada Reyan kalau ia diperkosa oleh laki-laki bajingan itu, laki-laki yang kata Reyan membuangnya sampai ke pedalaman pulau Kalimantan.

__ADS_1


"Ya Tuhan,"


Reyan bahkan masih tidak percaya. "Jadi selama ini sudah berapa banyak korban yang mereka ciptakan akibat ulah mereka?"


Rosa menggeleng. Itu terlalu menyakitkan.


"Apa mereka tidak puas telah menghancurkan hidup dan keluargaku?"


Rosa mengangkat kepalanya menatap ke arah Reyan. Dan kali ini Reyan pada akhirnya terbuka, menceritakan seluruhnya kepada Rosa. Saat dulu hidupnya dihancurkan, hubungannya dengan Melia dipisahkan, dan sekarang ... ia harus kembali dihadapkan fakta bahwa Melia diculik paksa oleh Anderson.


***


Dan mereka terpaksa duduk dan termenung. Saling menatap dan membisu dalam pikiran mereka masing-masing.


Entah apa yang sedang Tuhan rencanakan. Dua orang korban, yang sama-sama rapuh dan dipatahkan, dipertemukan oleh suatu kebetulan yang tidak mereka sangka-sangka sebelumnya.


Reyan menahan napas kemudian berdiri.


"Maafkan aku ... tapi aku harus pergi. Aku harus bertemu dengan Melia. Aku harus menyelamatkannya." Mungkin hanya itu lah satu-satunya hal yang saat ini sedang dipikirkan oleh Reyan.


Rosa mengangguk. Ia pun tidak mempunyai alasan untuk mempertahankan Reyan atau pun membuat Reyan membantunya.


"Ya, salam untuk Melia."


"Dan kamu ...?"


Tiba-tiba Reyan merasa kasihan. Tapi, ia tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus bertemu dan menemukan Melia secepatnya.


Saat Reyan berbalik, Rosa kemudian menunduk.


"Wanita yang kamu cintai sungguh beruntung. Kamu rela melakukan apa pun demi dia." Ada rasa sedikit iri tapi Rosa berusaha untuk menampiknya.


Reyan menoleh,


"Suatu saat kamu pasti akan menemukannya."


Rosa menahan napas.


"Semoga," ada kepahitan yang terselip di sana.


Sejujurnya, apa masih ada laki-laki yang mau kepadanya setelah dia dikotori oleh laki-laki bajingan itu? Membuat Rosa meremas tangannya sendiri dan air matanya kembali mengalir.

__ADS_1


"Aku pergi ... suatu saat aku akan datang ke sini lagi dan mengembalikan hutang-hutangku."


Rosa mengangguk lagi.


"Hati-hati."


Baru satu langkah Reyan pergi, tiba-tiba getaran ponsel dari Rosa membuat mata Reyan melebar.


"Itu ponselmu?"


Rosa mengangguk.


Dan jawaban dari Rosa membuat dahi Reyan mengerut hingga semakin menyatukan alisnya. Giginya gemeletuk, raut mukanya berubah panik.


"K-kenapa?"


"Kenapa kamu mengaktifkan ponselmu?!"


"Memangnya kenapa?!"


"Sial."


Rosa ikut khawatir.


"Kamu belum tahu seberapa bahayanya Bram yang kamu maksudkan tadi." Tiba-tiba Reyan semakin mengkhawatirkan Rosa. Jika dia pergi dari sini, justru Rosa akan semakin bahaya.


"Kenapa? Ada apa?"


"Dia bahkan bisa mencarimu hanya dengan masalah sepele seperti ini?" Reyan menunjukkan ponsel itu hingga membuat Rosa langsung melemparkan ponsel dan membuangnya.


"Apa maksudmu?"


Perasaaan khawatir semakin menyeruak tajam. Tiba-tiba, Reyan menggandeng tangan Rosa dan menyeretnya untuk ikut bersamanya.


"Jika kamu benar-benar tidak ingin dia menemukanmu, ikut aku sekarang dan tingalkan seluruh barang-barangmu. Aku takut, semua barang yang ada di dihidupmu telah ditempeli alat pelacak."


"Apa ...?"


Dan pada akhirnya, mereka saling menggenggam tangan erat. Kabur dari tempat ini dan segera pergi sejauh mungkin.


Dua orang korban ... dua orang yang terluka ... dan dua orang yang sama-sama butuh dukungan ... kini berjalan beriringan dengan terburu-buru untuk menyelamatkan diri.

__ADS_1


***


09:23


__ADS_2