
Dan pada akhirnya ...
Melia mengetahui semuanya. Mengetahui setiap detail mengerikan tentang Anderson. Bahwa kini Melia mengetahui bahwa ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh Reyan ...
Kalau Anderson, adalah orang di balik semuanya. Yang menghancurkan hidup Reyan, yang menghancurkan hubungan mereka, yang menguntit Melia, yang hampir membunuh Boby, dan yang paling menyakitkan adalah ... ternyata Anderson lah orang yang membuat orang tuanya meninggal. Yang dengan sangat bajingannya menyembunyikan semua ini, dan dengan kurang ajarnya menyuruh orang lain menggantikannya di penjara.
Tangisan itu ... nyatanya tidak bisa berhenti. Melia merasakan patah hati yang teramat sangat. Melia tidak pernah menyangka ... orang yang sangat ia cintai ternyata mampu berbuat seperti ini.
"Mel ..."
Reyan semakin tidak tega melihat Melia yang masih terduduk sambil terus terisak.
Reyan berjalan menyentuh bahunya, meraihnya hingga kemudian memeluk tubuh itu.
Namun, hanya selama satu menit kemudian ... tangisan itu perlahan menghilang, suara sesenggukan itu tiba-tiba juga ikut pergi. Dan ketika Reyan menatap ke arah Melia, Melia sudah jatuh pingsan di sana.
"Melia! Melia!"
***
Seluruh rekaman cctv terus dikirimkan kepada Anderson satu persatu. Membuat Anderson pada akhirnya tahu, bahwa Reyan memang dalang di balik semua ini.
Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Reyan membonceng Melia. Melakukan perjalanan sampai ke luar dari kota ini hingga membuat tangan Anderson gemetar hebat.
"Kami sudah menemukan titik di mana motor itu berhenti, Tuan. Dan tidak ada gerakan lain, kami yakin dia sudah berada di suatu tempat."
"Cepat ke sana sekarang juga."
"Baik, Tuan."
Dan semuanya terasa begitu lama bagi Anderson. Seperti sebuah detikan jam yang tidak bergerak sama sekali. Menyadari bahwa wanitanya bersama dengan pria lain benar-benar membuat dirinya murka, tubuhnya terasa terbakar dan bisa meledak kapan pun dan di mana pun.
"Percepat mobilnya!"
"Baik, Tuan."
Bram dan seluruh pengawal merasa ngeri dengan Anderson. Mereka kemudian segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, segera menuju tempat yang seharusnya ada Melia di sana.
__ADS_1
Tapi,
Ketika mereka pada akhirnya sampai setelah satu jam mereka berjalan, yang ada ... hanya motor Reyan yang terparkir di sini.
Sial!
Anderson semakin marah. Emosinya sudah tidak bisa ia tahan lagi. Kini, ia merasa dipermainkan.
"Apa kamu bodoh?! Bagaimana lagi-lagi kalian tidak becus seperti ini?!"
"Maaf, Tuan. Kami tidak mengira bahwa Reyan mampu melakukan hal seperti ini."
"Bagaimana bisa setelah kalian membawaku sampai sejauh ini tapi kalian tidak menemukan Melia?!"
Dan mereka hanya saling termangu satu sama lain, saling memandang dan mengerutkan kening.
"Kalian benar-benar bodoh!" Dan lagi-lagi Anderson mengumpat. Memegangi kepalanya yang sudah sangat sakit sekarang ini.
"Reyan sepertinya tahu bahwa kita menguntitnya. Sepertinya dia sengaja menghentikan motornya di tempat ini dan sengaja menggunakan kendaraan lain."
"Maaf, Tuan. Sepertinya kita kehilangan jejak."
"Br*ngsek! Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu?! Aku sudah membayar kalian mahal!"
Para pengawal itu memandang satu sama lain, motor ini terparkir di sebuah ruko yang usang, seperti sengaja ditinggalkan Reyan untuk mengecoh mereka. Tidak ada cctv di sini, pun dengan kendaraan yang lalu lalang di tempat ini mereka juga kebingungan dengan apa mereka menumpang kendaraan apa atau bagaimana Melia dan Reyan menyelinap pergi dengan kendaraan umum yang jumlahnya bahkan hampir ratusan.
Anderson semakin gila ... Lebih tepatnya sudah tidak waras. Sumpah serapah sudah Anderson keluarkan sejak tadi, menandakan sudah segila dan sefrustrasinya dia sekarang.
Bram yang melihat itu semua lagi-lagi menghela napas kemudian menatap ke sekeliling ruangan, tiba-tiba ia berjalan ke segala arah pada ruko usang di sampingnya saat ini.
Mustahil rasanya jika tidak ada petunjuk lain lagi di tempat ini. Bram kemudian berjalan dan berjalan hingga sampai pada suatu ketika ... Bram melihat sebuah mobil yang terparkir yang hanya berjarak sepuluh meter dari tempat ini.
Bram berlari, matanya menyipit sambil mengangkat bibirnya satu kali.
***
"Teh, atau jeruk panas ...?"
__ADS_1
Melia kembali diam. Ia hanya menatap kosong pada jendela di ujung ruang dengan melamun.
"Kamu yakin akan tetap diam, Mel?"
Melia hanya menggeleng dan lagi-lagi ia mengusap air matanya.
"Kamu sudah tahu betapa bajingannya dia, kan?"
"Reyan, aku mohon aku tidak ingin membicarakannya ..." suaranya masih serak menahan tangis.
"Tapi kita tetap harus membicarakannya."
"Tidak hari ini, aku mohon ..."
"Sudah seharusnya kamu melupakan laki-laki itu dan kembali padaku, kamu sadar kan kalau hubungan kita berakhir karena campur tangan laki-laki bajingan itu?"
Air mata itu nyatanya kembali menetes lagi.
"Mel, aku masih cinta padamu."
"Reyan, aku ..."
"Hubungan kita tidak pernah berakhir asal kamu tahu. Aku tetap menganggap kita bersama karena di masa lalu kita memang tidak pernah benar-benar putus."
"Aku mohon ... jangan bicarakan masalah ini dulu, aku ..."
Tapi Reyan meraih bahu Melia, meraih dagu Melia dan mencengkeram erat kedua tangannya erat-erat.
"Aku mencintaimu, Mel. Sangat. Tidak bisa kah kita bersama seperti dulu lagi?"
Melia kembali menangis. Ia menggelengkan kepalanya. Ia ingin melepas tangan itu tapi tangan Reyan semakin erat.
"Kamu harus ingat, Melia ... hubungan kita belum benar-benar berakhir karena aku tidak pernah mengucapkan kata pisah untukmu begitu pun juga kamu. Semua, adalah ulah dari laki-laki itu."
Melia memejamkan mata rapat-rapat. Melia tidak bisa lagi menjelaskan kepada Reyan. Ia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Reyan telah salah mengartikan semuanya. Dan bagaimana caranya Melia menjelaskan tentang semuanya padanya ...?
__ADS_1