
Wajah Melia masih memucat ketika teringat akan paket berdarah yang baru saja ia lihat tadi di ruangan Anderson. Tubuhnya gemetar, rasa takut kembali menyeruak saat mereka kembali merasa diteror seperti ini.
"Tidak usah kamu pikirkan. Kamu tahu siapa aku, kan? Aku akan mencari orang yang mengirimkan paket itu kepadaku tadi."
"Aku takut akan berbahaya."
Anderson menggeleng dan kembali menenangkan Melia. Ia kemudian langsung menarik tangan Melia untuk ikut bersamanya.
"Tenang lah, tidak usah kamu pikirkan lagi."
Lalu, semua rencana Anderson untuk bekerja telah hilang. Pada akhirnya, ia lebih memilih untuk meninggalkan perusahaan karena suasana hatinya telah berubah kacau.
Paketan itu ...
Anderson harus cepat menemukan siapa pelakunya. Karena Anderson juga mulai khawatir akan keselamatan Melia.
"Kita harus pulang. Kita batalkan pergi ke butik tapi aku sudah menyuruh mereka untuk membawa seluruh gaun itu ke rumah agar kamu bisa mencobanya tanpa harus keluar rumah."
"Eh?"
Anderson menarik tangan Melia untuk segera masuk ke dalam lift. Entah lah, Anderson terlihat gelisah dan Melia tahu akan hal itu.
Paketan itu jelas-jelas mengganggu mereka berdua. Dan Anderson teringat akan kata Bram beberapa waktu yang lalu saat dia mengingatkan tentang orang yang sudah menggantikannya di penjara.
Dan satu-satunya hal yang Anderson yakini siapa pengirim paketan itu adalah dia ... tidak salah lagi ...
Anderson menggandeng tangan Melia erat, keluar lewat pintu kaca besar dan lagi-lagi Anderson memergoki Melia yang sedang melamun sedih.
"Sudah lah jangan kamu pikirkan."
"Bagaimana aku bisa tenang ...? Itu seperti teror. Dan ayam itu dimutilasi dengan sangat mengerikan."
Tiba-tiba saja Melia kembali merasa mual. Ia hampir muntah saat ini juga.
"Mel,"
Melia menggeleng.
Anderson lalu merangkul bahu Melia untuk menenangkan. Mencoba membuat Melia nyaman dan melupakan semua hal yang baru saja terjadi.
"Bagaimana kalau ada banyak orang yang ingin mencelakai kita."
"Kamu lupa siapa aku? Percaya lah, aku bisa mengatasi ini."
Melia melenguh. Bahkan di depan mobil Melia masih saja gelisah ketika Anderson membuka pintu.
"Lupakan masalah itu dan ayo masuk ke dalam mobil tuan puteriku ..."
__ADS_1
"Anderson, aku sedang tidak bercanda."
"Aku tidak bercanda. Tersenyum lah, dan masuk ke dalam mobil."
"Bisa kah kita mencari siapa pengirim itu sekarang? Aku masih kepikiran." Raut wajah Melia kembali khawatir, tapi Anderson menggeleng.
"Nanti saja. Apakah sekarang kamu ingin mencari alasan untuk menunda-nunda waktu memilih gaun pengantin dan menunda acara pernikahan kita? Ah, tentu tidak akan kubiarkan."
"Bukan seperti itu tapi ..."
Melia menarik tangan Melia lagi untuk masuk ke dalam mobil.
"Sayang ..."
Melia kembali menghela napas.
"Tersenyum lah, aku mohon ..."
Melia mengernyit.
"Percaya padaku."
Dan tiba-tiba saja Melia merasa diyakinkan. Semua kegelisahan tadi mendadak sirna ketika menatap ke arah sosok Anderson. Rasa takut itu nyatanya menguap begitu saja ketika Anderson terus meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja.
"Aku mencintaimu ..."
Dan pada akhirnya Melia tersenyum saat menggantungkan janji itu. Dan sesaat kemudian, ia tersenyum ... menatap ke arah Alexander dan Alexander merangkul bahu Melia dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Melia mengkhianatiku?"
Ketika Anderson merangkul Melia tanpa perlawanan, hati Reyan benar-benar sakit dan tersiksa.
Setega ini kah Melia padanya?
***
Reyan kemudian pulang dengan lemas ...
Semua yang ia perjuangan selama ini, ternyata sia-sia belaka.
"Rey, kamu sudah pulang?"
Yang menyambut Reyan pertama kali adalah Rosa. Tapi, Rosa tampak tertegun ketika melihat wajah Reyan yang sangat kacau.
"Kamu tidak apa-apa?"
Air mata itu nyatanya tidak menandakan Reyan baik-baik saja. Membuat Rosa khawatir dan
__ADS_1
harus segera mendekat ke arah Reyan.
Hanya dengan melihat reaksi Reyan, sudah menandakan bahwa semua tidak berjalan sesuai dengan rencana.
"Melia ... di mana Melia? apa kamu belum bisa menemukannya."
Reyan menggeleng lagi.
"Bukan hanya belum, tapi sepertinya ... aku tidak bisa menggapainya lagi."
Mata Rosa melebar.
"Maksudmu?"
"Melia ... ternyata mengkhianatiku."
Dahi Rosa semakin mengerut karena tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Reyan.
Tapi wajah Reyan, sudah mampu menjelaskan tentang semuanya. Raut wajah patah hati itu nyatanya tidak dapat disembunyikan. Membuat Rosa segera mengerti bahwa sepertinya cinta Reyan telah bertepuk sebelah tangan.
"Apa pada akhirnya Melia lebih memilih Anderson dibanding kamu?"
Entah dari mana asalnya Rosa bisa mengatakan itu semua. Reyan menangis dan itu sudah dapat menjawab pertanyaan dari Rosa.
Rosa merasa kasihan.
Hatinya ikut sakit saat melihat Reyan sedang patah hati. Tiba-tiba saja Rosa mendekat, menepuk-nepuk bahunya berusaha menenangkan dan memeluk Reyan sebagai pertanda bahwa dia tidak harus seterpuruk sekarang ini.
"Bagaimana bisa dia tega mengkhianatiku."
Mereka tidak sadar bahwa ada langkah yang mendekat ke arah mereka berdua. Perlahan tapi pasti, seseorang itu semakin melangkah dan kini berada tepat di depan pintu.
Tangannya kemudian meraih gagang pintu. Dengan tenang ia langsung membuka pintu itu namun terkunci ...
Ia menghela napas. Lalu tiba-tiba, ia menendang pintu itu dengan sekali hentakan hingga pintu itu hancur jatuh ke atas tanah.
Lalu yang Bram lihat pertama kali adalah,
Reyan dan Rosa yang tampak berpelukan. Mereka begitu kaget ketika melihat Bram yang tiba-tiba sudah berada di depannya dengan ada dua pengawal yang ada di belakang Bram.
"Bram?"
Rosa kaget luar biasa. Bram entah dari mana asalnya sudah berada tepat di depan mereka.
Sementara itu, Bram mengepal tangan penuh amarah.
Wanitanya ... kenapa bisa sampai dipeluk oleh orang lain?!
__ADS_1
***
12:06