
Dan pada akhirnya, Anderson menepati janjinya. Ia membawa Melia pulang di tengah malam dan tentu saja itu benar-benar membuat Melia senang bukan main.
Hal yang pertama membuat Melia terkejut adalah, saat helikopter yang Melia kendarai langsung berhenti tepat di atas rumah milik Anderson. Sesuatu hal yang berhasil membuat mulut Melia menganga di buatnya.
"Aku pikir, ini akan terjadi hanya di film-film saja."
Anderson tersenyum bangga. "Kamu harus terbiasa. Karena mulai sekarang, aku akan membuatmu hidupmu seperti dalam film."
Melia tersenyum geli, meraih tangan Anderson yang kini membantunya untuk turun dari helikopter. Lalu bergandengan tangan untuk menuju ke lantai bawah.
"Aku pikir kamu akan membawaku ke rumah lamaku."
"Jangan mimpi. Sekali kamu masuk ke rumah ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Melia melenguh. Ya, Melia tahu itu. Seberapa keras usahanya kemarin untuk kabur, nyatanya dia akan kembali pada Anderson.
Hingga pada akhirnya, Melia sudah sampai pada ujung tangga. Niatnya ingin segera menyusuri tangga kedua, tapi itu semua terhenti ketika ia melihat sosok yang berada di depannya kali ini.
"Bram?"
Melia memekik saat ia menyerukan nama itu. Pun dengan Anderson yang tiba-tiba napasnya tertahan saat melihat kehadiran Bram.
Dan otak Melia tiba-tiba langsung dipenuhi oleh semua kebiadaban Bram. Pikirannya langsung dipenuhi dengan Rosa. Saat Bram dengan mudahnya melakukan hal keji yang tidak akan pernah termaafkan.
Tiba-tiba saja Melia berlari ke arah Bram. Langsung meninju mukanya dengan sangat keras hingga berhasil membuat Bram jatuh dengan luka goresan di pinggir bibirnya.
"Kurang ajar! Sialan! Biadab! Bagaimana bisa kamu memperkosanya?! Bagaimana mungkin kamu melakukan hal keji padanya?! Katakan padaku di mana dia sekarang?!"
Dan Melia mulai mengamuk, sedangkan Anderson hanya bisa menatap Melia dengan tarikan napas yang sangat dalam. Melia benar-benar emosi ...
"Melia, Melia ... tenang lah."
Bram bergeming. Ia hanya menarik napas panjang dan kemudian berdiri tegak.
"Bisa-bisanya kamu tidak menjawab apa pun dan mampu berdiri tanpa merasa bersalah sedikit pun."
"Melia, tenang lah," Anderson menarik Melia ke belakang. Hanya saja Anderson mulai takut jika Melia mulai memukul Bram lagi yang bahkan Anderson tahu kalau Bram tidak akan pernah berani untuk melawan.
"Masuk lah ke dalam kamar. Aku akan bicara pada Bram."
"Tapi ..." Melia menganga. Bagaimana mungkin Anderson akan berbicara baik-baik dengan pemerkosa ini.
"Melia, percaya lah. Aku akan membereskan semuanya. Aku sudah janji padamu."
Melia masih emosi, napasnya memburu. Tapi kemudian, Melia memberi kesempatan bagi Anderson. Melia harap, Anderson mau memperbaiki semuanya hingga kemudian ia langsung berlari ke arah kamar.
Lalu, setelah pintu itu ditutup, mata Anderson menyipit, menatap ke arah Bram dengan tatapan tajam.
"Katakan padaku, apa yang membuatmu kemari. Aku sudah bilang padamu untuk mencari Reyan, bahkan mencari keberadaan Rosa yang katamu bersama dengan laki-laki itu."
"Tidak ada satu pun pengawal yang tersisa."
Mendengar hal itu, kepala Anderson mendadak pening. Ia lupa kalau semua pengawal sudah ia perintahkan untuk membantu sahabatnya, Evan .
Astaga ...
Anderson segera sadar. Ternyata bersama dengan Melia dapat membuatnya amnesia dan melupakan semuanya.
Wanita itu seperti racun, seperti candu ... yang bahkan membuat Anderson kehilangan akal dan ingatan.
Bram masih berdiri di sana.
"Tapi saya sudah mengerahkan semuanya. Saya mencari pengawal lain, dan saya telah kurang ajar mencari bantuan ke semua mafia, seluruh kolega, termasuk Alexander untuk mencari keberadaan Rosa."
Napas Anderson tertahan ketika melihat seluruh usaha yang dilakukan oleh Bram. Bram telah melakukan semua hal itu dan berhasil membuat Anderson tercengang.
Tapi Alexander ...
Apa Bram tidak tahu seberapa mengerikannya dia?
__ADS_1
"Maaf, saya telah lancang."
"Tak apa. Kerahkan seluruh kemampuan yang kamu miliki. Aku tahu kamu sudah jatuh cinta padanya."
Hatinya terasa ngilu ketika mendengar ucapan Anderson. Ya, nyatanya dia memang sudah jatuh cinta hingga semesta pun tahu sudah seberapa frustrasinya Bram sekarang.
"Tapi, bukan itu saja alasan saya datang kemari."
"Maksudmu ...?"
"Dengan tanpa pengawal seperti ini, apa anda lupa dengan orang yang sudah menggantikan anda di penjara yang bahkan sudah menculik nona Melia."
Anderson tersentak kaget.
"Saya ... berhasil mencium pergerakannya."
Dahi Anderson mengernyit.
"Saya akan segera mengirim file kepada anda. Dan maaf, saya harus segera pergi dari sini untuk mencari keberadaan Rosa."
Lalu Bram pergi, sementara Anderson mengernyit, menyatukan kedua alisnya.
***
Di dalam sana, ada Melia yang harap-harap cemas, berusaha menguping di dekat pintu tapi Melia tidak dapat mendengar apa pun.
Hingga pada akhirnya pintu tiba-tiba terbuka, Anderson masuk ke dalam ruangan hingga membuat Melia terlonjak kaget.
"Kamu sedang apa, Mel?"
"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa lama sekali? Di mana Bram sekarang? Kapan aku harus bertemu dengan Rosa?"
Dan semua pertanyaan itu berhasil membuat Anderson mengernyit ketika mendengarnya.
"Sebenarnya, ada hal yang harus kamu tahu, Melia ..."
Melihat wajah Anderson yang tiba-tiba mengernyit seperti itu, berhasil membuat Melia menahan napas. Sepertinya memang benar bahwa Anderson menyimpan sesuatu hal yang entah ... sampai membuatnya seperti itu.
Dan semua hal itu berhasil membuat tubuh Melia lemas seketika. Tidak pernah ia bayangkan sebelumnya kalau Anderson mampu melakukan semua hal itu kepada Reyan, dan Bram yang telah menakuti Rosa hingga Rosa berusaha kabur darinya.
"Maafkan aku, aku telah mengecewakanmu lagi ..."
Melia mati kutu. Ia tidak bisa berpikir lagi.
"Mel ...?"
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang ini?"
"Aku sudah mengerahkan semuanya untuk mencari mereka untuk meluruskan semuanya."
Melia menelan salivanya pasrah. Menarik napas panjang dan menghembuskannya.
"Baik lah,"
Mendengar nada Melia yang seperti itu, Anderson mendongak.
"Tapi berjanji lah padaku. Setelah kamu berhasil menemukan mereka berdua, kamu harus memperbaiki semuanya. Berjanji lah untuk menempatkan semua pada tempatnya masing-masing seperti sedia kala."
Anderson mengangguk dan kemudian Melia meremas tangannya lekat-lekat.
"Terutama Reyan ..."
Nada suara Melia getir ketika menyerukan nama itu. Ia benar-benar tahu seberapa menderitanya lelaki itu.
"Ya, aku janji."
Melia tersenyum lalu menggantungkan semuanya pada janji Anderson.
"Ternyata jujur padamu lebih menenangkan. Aku menyesal telah membohongimu sekian lama hingga membuatmu terus salah paham."
__ADS_1
"Dan membuatku terus kabur maksudmu?"
Anderson terkekeh.
"Tidak akan kubiarkan kamu kabur dariku lagi."
Kalau pun aku kabur lagi, kamu pasti akan menemukanku lagi."
"Kamu sudah tahu rupanya."
Melia melenguh.
"Tidur lah, Melia. Besok aku akan bekerja dan sepulang kerja aku akan menjemputmu untuk mencari gaun pengantin."
Melia lagi-lagi melenguh.
"Lalu di rumah aku harus melakukan apa? Pasti membosankan."
"Kalau begitu, kamu bisa bersamaku besok. Kembali menjadi sekretarisku lagi."
"Eh?"
"Tugasmu tidak lagi berat. Tugasmu hanya menemaniku seharian, memijatiku saat aku lelah, menemani aku makan siang dan datang padaku setiap kali aku butuh sentuhan."
"Pikiranmu kotor sekali ..."
"Tidak buruk, kan?"
"Kalau pekerjaanku itu saja. Apa selama ini sudah ada yang menggantikanku menjadi sekretaris?" Tiba-tiba Melia penasaran akan hal itu.
"Tentu saja."
Mata Melia membelalak sempurna.
"Apa ...? Lalu ... apa dia cantik?"
Anderson mengernyit. Raut muka Melia tampak aneh, seperti orang yang sedang ... cemburu ...
"Ya, tinggi, putih, berkaki jenjang."
Melia menarik napas.
"Secantik itu?"
"Ya, dia juga seksi. Matanya bulat sempurna dan kadang dia memakai rok mini yang kadang membuatku gerah."
Melia semakin panas. Mukanya merah padam ketika saat ini Anderson benar-benar berani menceritakan perempuan lain di depannya.
Dan melihat itu semua, Anderson hanya tertawa. Reaksi Melia yang cemburu nyatanya benar-benar membuat Anderson terhibur.
"Aku bercanda, Melia. Dia perempuan paruh baya yang bahkan hampir mempunyai cucu. Lagi pula, aku juga tidak mungkin melirik perempuan lain selain kamu. Kamu satu-satunya wanita di hidupku, dan kamu pasti sudah tahu itu ..."
Melia bernapas penuh kelegaan. Bahkan hampir saja Melia ingin mengamuk tapi Anderson lagi-lagi memeluknya.
"Besok, main lah ke kantor bersamaku. Aku akan pertemukan kamu dengannya."
Lalu mereka menghabiskan malam bersama hanya dengan saling tatap dan bercanda bersama. Hingga mereka tidak sadar bahwa di sudut pekarangan rumah ini, ada sorot mata yang memandang mereka dengan tatapan jijik lewat jendela kamar kaca yang terbuka.
Ia telah membawa pisau, napasnya memburu tidak terima ketika mereka berakhir bahagia.
"Aku sudah dipenjara sekian lama tapi apa ini balasan kalian?" Desisnya dalam kegelapan.
***
Haloha, bagi kalian yang pengen baca ceritaku yang lain bisa mampir di w a t t p a d.
Judulnya
Hasrat Tuan Alexander ... akunku namanya denands
__ADS_1
akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan cerita itu di w a t t p a d. Bagi yang punya aplikasinya silahkan join... wakakaka.
16:12