Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
KENANGAN TENTANG BRAM


__ADS_3

Ada genggaman yang tidak mau terlepas.


Sedari tadi Rosa terus menggenggam tangan Melia tanpa mau untuk melepasnya.


"Kamu sudah baik-baik sekarang, Ros." Seru Melia pada Rosa ketika Rosa sudah mulai agak tenang sekarang ini. Rasanya Rosa seperti tidak mau ditinggalkan, bayang-bayang Bram selalu menghantuinya dan Rosa ketakutan setengah mati jika sosok itu kembali datang.


"Aku tahu apa yang saat ini sedang terjadi padamu, Ros. Untuk itu aku minta maaf, aku menjadi orang yang benar-benar tidak bisa melindungimu."


Rosa menggeleng, menarik napasnya panjang lalu menatap ke arah Melia.


"Mel, bisa kah kamu bantu aku ...? Mungkin hanya padamu aku bisa meminta tolong. Aku mohon, jangan biarkan aku bertemu dengan Bram lagi." Pinta Rosa kepada Melia. Dan sorot mata putus asa, takut, marah dan benci membuat Melia tidak pernah bisa menolak seluruh permohonannya.


Melia mengangguk. "Aku akan membicarakan ini kepada Anderson ..."


Rosa bernapas lega. Ia menarik napas panjang kemudian memeluk Melia lagi. Tangisan itu nyatanya keluar semakin deras tanpa bisa Rosa tahan-tahan lagi.


Rasanya sangat menyakitkan jika ia kembali bercerita dan mengungkit semua hal yang terjadi kepada dirinya di masa lalu. Mungkin sampai kapan pun, Rosa tidak akan pernah bisa melupakan dan memaafkan laki-laki bajingan seperti Bram itu.


"Terima kasih ..."


***


Di atas sana, dua orang itu sedang berdiri berhadapan dan hanya saling pandang tanpa bicara apa-apa.


Semua sunyi, semua sepi dalam keheningan.


Bram di sana hanya berdiri menatap ke arah Anderson. Sementara Anderson hanya berulang kali menarik napas panjang dan sesekali menatap ke arah langit gelap yang semakin pekat.


"Caramu salah ..."


Pada akhirnya Anderson mengatakan akan semua hal itu, tentu saja Anderson sedang membicarakan tentang semua perbuatannya terhadap Rosa, hingga kenapa pada akhirnya Rosa bisa terbaring di ranjang rumah sakit.


"Saya tahu ..."


Nada suaranya getir, hingga Anderson pun tahu, di luar tubuhnya yang kuat seperti baja itu, di dalam hatinya ia pasti sedang menangis terisak-isak.


"Setelah semua hal yang sudah terjadi padanya, apa kau akan tetap mengejarnya?"


"Sama seperti anda yang selama bertahun-tahun mengejar seseorang yang anda cintai."


Tangan Anderson mengepal kuat.


"Bodoh."


Bram tidak menolak. Bram akui dia memang sebodoh ini.


"Apa kamu tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan di kamar perawatan itu? Apa kamu tidak ingin tahu apa yang akan Rosa katakan pada Melia?! Rosa pasti akan memohon kepada Melia untuk meminta bantuanku agar menjauhkanmu dari sisinya."


Bram menarik napas panjang. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi nantinya.


"Bertahun-tahun aku menguntit Melia selama ini, bohong rasanya kalau aku tidak tahu bahwa sebentar lagi dia pasti akan datang kepadaku. Dia pasti akan bicara berapi-api padaku dan memintaku untuk membantu sahabatnya itu untuk bisa membuatmu menjauh darinya."

__ADS_1


Pertahanan Bram akhirnya runtuh, air mata itu akhirnya menetes juga.


Bram akan tahu apa yang akan terjadi nantinya.


"Lalu pada akhirnya apa kamu sudah tahu kalau aku tidak akan pernah bisa menolak apa pun semua permintaan dari orang yang aku cintai selama ini? Bahkan ketika dia memintaku untuk terjun ke dalam jurang pasti aku akan melakukannya."


Bram terisak. Separuh hidupnya dia mengabdi pada Anderson, dia juga pasti tahu kalau Anderson mampu melakukan semuanya.


Tapi ... jika dia dipaksa untuk berhenti untuk mengejar Rosa, Bram tidak akan pernah sanggup.


"Kamu pasti juga tahu apa yang akan aku lakukan padamu. Dan jika kamu melawannya, aku pasti akan membuat hidupmu hancur seperti apa yang sudah-sudah."


Anderson menarik napas getir. Jujur ia sangat berat untuk melakukan semua ini kepadanya. Bram adalah orang yang paling dekat dengannya selama bertahun-tahun, tapi ketika Melia meminta dirinya untuk melakukan sesuatu kepada Bram, Anderson tidak akan pernah bisa menolak.


Anderson pun tanpa sadar juga ikut menitikkan air mata.


"Kamu bodoh Bram."


Tiba-tiba saja Bram mendongak. Ia menghapus air mata itu kemudian menatap tajam tuannya itu.


Bram seperti mempunyai keberanian begitu saja. Tatapannya berubah mengerikan. Giginya gemeletuk, tangannya kembali mengepal dengan sangat kuat.


"Kalau itu yang akan anda perintahkan. Saya akan dengan dengan senang hati siap melawan anda."


Kata-kata itu nyatanya tidak membuat Anderson kaget. Nyatanya, saat-saat seperti ini pasti akan datang. Ada sesuatu hal yang saat ini Bram perjuangkan. Bram yang ia kenal sebagai seorang yang penurut, kini sudah bukan lagi.


Bram kemudian melangkah mundur ke belakang. Menganggukkan kepala satu kali untuk pamit kepada Anderson.


"Kamu ingat saat pertama kali kamu datang padaku? Saat kamu dengan senang hati menggantikan ayahmu untuk menjaga keluargaku?"


Bram yang membelakangi Anderson, tanpa sadar sudah menitikkan air mata itu. Kata-katanya tertahan, ingatan masa lalunya kembali bermunculan hingga dadanya terasa sangat sesak.


"Keluargaku memang sangat berhutang budi pada anda, Tuan."


Bram memejamkan mata sebentar. Ia terisak lagi. Memang benar apa kata Rosa kalau selama ini dia memang akan menjadi anjing yang selalu menuruti tuannya. Tapi mau bagaimana lagi ...? Jasa-jasa keluarga Anderson, tidak akan pernah bisa tergantikan."


"Aku ingat anak kecil yang terisak-isak di tengah hujan dan kedinginan."


"Lalu anda datang mengulurkan tangan dan memayungi saya."


Anderson mengangkat sudut bibirnya. "Kamu masih ingat rupanya."


Anderson kemudian melangkah mendekat ke arah Bram sambil menepuk pundak bagian belakangnya.


"Sekarang aku akan membebaskanmu, Bram. Buang semua rasa terima kasih itu. Buang semua rasa balas budi yang mungkin akan terus berjalan beriringan di dalam kehidupanmu yang aku tahu itu akan menyesakkan."


"..."


"Untuk itu, saat Melia datang padaku untuk memohon-mohon padaku untuk membebaskan sahabatnya dari dirimu, kamu bisa dengan mudah untuk melawanku tanpa harus menoleh lagi tentang masa lalu."


Bram mengangguk. Ia kemudian menoleh kepada Anderson yang kini malah memegang kedua bahunya.

__ADS_1


"Kamu tahu bagaimana aku memandangmu selama ini. Kamu lebih dari seorang sekretaris, aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya, tapi aku selalu menganggapmu sebagai teman, bahkan ..." Kata-katanya tertahan. "Saudara."


"Tuan?"


"Aku sudah bukan tuanmu lagi. Pergi lah, Bram. Lakukan apa pun yang ingin kamu suka. Kejar lah apa pun yang ingin kamu kejar. Mulai sekarang, aku membebaskanmu. Aku sudah menganggap semuanya impas. Jangan pikirkan balas budi lagi. Selama ini kamu sudah dengan baik menjagaku."


Air mata itu kembali menetes di antara mereka.


"Tapi saat Melia datang dan meminta pertolongan padaku, sebaiknya kamu memang siap untuk melawanku."


Bram mengangguk tapi sejenak kemudian ... ia malah tertawa menatap ke arah Anderson. "Akan aku lakukan dengan senang hati."


Lalu Bram benar-benar melangkah pergi. Dan untuk yang kedua kalinya Anderson memanggil namanya.


"Bram."


"..."


Bram menghentikan langkah.


"Sial. Bahkan aku yang tidak rela melihatmu pergi?!" Anderson tertawa menertawakan dirinya sendiri.


Sedangkan Bram, tidak bisa menghentikan tangisannya.


"Kalau nanti kita bertemu lagi, tolong panggil aku dengan namaku saja, Anderson."


Bram mengangguk. Lalu kini, Bram benar-benar melangkah, menjauh dari hadapan Anderson.


***


Oiii, holaa... siapa yang disini penumpang kapalnya Bram dan Rosa, atau penumpang gelapnya Bram sama Reyan.. wkwk..


mau dibikinin cerita tentang mereka gag? ealah, baru kemaren autornya bilang mau vakum tanganku gatel pengen nulis cerita Bram.


oo tidak semudah itu verguso. Bram bakalan tetep dibikinin cerita ... tapi nanti ... setelah proyek w a t t p a d selesai. semoga aja kalian masih inget aku (ngarep)


inget kan kalok Bram punya masa lalu sama anderson. tapi aku gag mau bahas itu di sini, ada di cerita yang coming soon. wkaak


so, ditunggu ya .. semoga secepatnya (setelah vakum tentu saja). aamiin


oiya sebelum jadi kapal penumpangnya Bram, kalian bisa baca karyaku ini dulu





muah, kutunggu kalian di w a t t p a d...


atau bisa ikutin aku di Ig hi_alaleana untuk tahu aku nulis cerita di mana aja... (diih ngarep)

__ADS_1


__ADS_2