Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
100.Penyelesaian ( Outro 2 )


__ADS_3

Pagi menjelang siang setelah Raffa bisa bertemu Aurel ia pun pergi bersama Tn Hernand menuju kantor polisi.


Keduanya bertekad untuk menyelesaikan semuanya secepat mungkin.Dalam perjalanan Tn Hernand yang penasaran mencoba membuka obrolan.


"Raffa, boleh om tanya desuatu?"


"Iya Om, silakan"


"Om bisa tahu sepertinya Aurel mulai menemukan semangatnya, bagaimana kamu membujuknya?" ucap Tn Hernand.


"Emmmh, itu Om ... hanya memberinya sedikit kata-kata meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja" balas Raffa sedikit salah tingkah.


"Sepertinya putri saya begitu mendengarmu, kata seperti apa yang kamu pilih? karena semua perkataan Om dan Tante seakan tak mempan padanya" ucap Tn Hernand semakin penasaran.


"Eh itu Om, saya, emm mengatakan semua isi hati saya saja" balas Raffa semakin grogi.


"Oh, apa kamu benar-benar menyayangi Aurel?" Tn Hernand kembali bertanya.


Entah mengapa bagi Raffa ucapan Tn Hernand seperti sesi interogasi.Belum juga sampai di kantor polisi ia sudah merasa tertekan.


"Kalau boleh jujur Om, iya saya sangat menyayanginya" balas Raffa dengan tenggorokan terasa kering.


"Baguslah kalau begitu dan kamu tidak main-main dengan perkataanmu itukan!?" tanya Tn Hernand kembali menekankan.


"Tentu! tentu tidak Om" balas Raffa dengan dada berdebar.


"Termasuk menikahi putri saya!?" ucap Tn Hernand bagai pukulan keras untuk Raffa.


Jelas saja Raffa tercekat mendengar ucapan Tn Hernand, ia tak menyangka kata itu keluar darinya.


"Ba, bagaimana Om bisa berkata seperti itu!?"


"Sudahlah tak perlu kamu tutupi lagi, Om apalagi Tante sudah tahu, saat kamu mengatakannya, Tante berniat mengantar minuman namun tak jadi" jelas Tn Hernand.


"Eh itu Om, itu ... " Raffa semakin gelagapan entah harus berkata apa.


"Hmm kenapa? jadi kamu tak serius dan tak mau menikahi Aurel!?" ucap Tn Hernand nampak serius.


"Bukan begitu Om! saya mau tapi tidak sekarang juga, saya serius tapi itu hanya untuk membuat Aurel kembali percaya diri, bu bukan berarti saya main-main cuma ... emh bagaimana jelasinnya ya" Raffa semakin salah tingkah.


"Haha ... tak perlu di jelaskan lagi Om paham maksud kamu, kamu berpikir terlalu muda dan masih banyak yang ingin kamu raihkan!?" balas Tn Hernand pengertian.


"Kurang lebih seperti itu Om" ucap Raffa singkat karena semakin sungkan.


"Sepertinya Om bisa mempercayakan Aurel sama kamu, tolong jaga Aurel dengan baik dan jangan pernah menyakitinya.Sedikit saja kamu menyakitinya tak akan Om biarkan kamu tenang!" ucap Tn Hernand penuh penekanan


Raffa hanya menatap lalu mengangguk tanpa bisa berkata apa-apa.


"Hehe Om hanya bercanda jangan tegang begitu, Om percaya kamu akan memperlakukan Aurel dengan baik" ucap Tn Hernand seraya tersenyum lalu menepuk pundak Raffa.


Tak lama mereka sampai di kantor polisi.Entah bagaimana banyak sekali awak media yang datang.


"Tuan Hernand bisa minta sedikit saja pernyataan, apa benar telah terjadi tindak kejahatan yang melibatkan putri Anda?" tanya seorang wartawan.


"Tolong klarifikasinya Tuan, apa semua ini memang benar putra Tn Arthur penyebabnya?" tanya yang lain.

__ADS_1


Di bantu asisten dan petugas yang berjaga di sana Tn Hernand juga Raffa segera memasuki ruangan Pak Iriawan.


Setelah bertemu dengannya proses pelaporan sampai pemberian keterangan pun secepatnya mereka lakukan.


Proses yang memakan waktu itu pun tak terasa akhirnya selesai.Tanpa di duga Tn Arthur pun berada di sana.


"Tuan Hernand maaf! bisa tunggu sebentar!?" ucap Tn Arthur sedikit berlari.


"Ada apa lagi! bukannya semua sudah berada di tangan yang tepat!?" balas Tn Hernand terlihat malas.


"Kali ini saya mau minta tolong, bisakah Anda mengampuni anak saya!? saya mohon maaf atas semua tindakan bodohnya" ucap Tn Hernand begitu memohon.


"Terlambat! sekarang saya mau tanya, anggap Raffa ini putra saya dan dia melakukan hal yang sama terhadap putri Anda, apa Anda akan diam begitu saja!?" balas Tn Hernand balik bertanya.


"Ta, tapi Tuan Hernand, saya minta pada Anda, saya janji akan membuatnya menyesali semua tindakannya dan tak akan mengulanginya saya sungguh berjanji" ucap Tn Arthur kembali memohon.


"Maaf permintaan Anda tak bisa saya kabulkan, toh pelaporan sudah di buat juga.Siapkan saja pengacara yang terbaik untuknya" balas Tn Hernand pendek seraya beranjak pergi.


Tn Arthur yang tak mau menyerah mengalihkan tatapannya pada Raffa,


"Hei kamu, mungkin kamu mau mendengarkan saya, maukah kamu membantu meringankan masalah putra saya!?" tanya Tn Arthur pada Raffa seraya menahan lengannya.


Raffa melirik pada Tn Arthur seraya mengerutkan dahinya, "Tuan, saya sudah beberapa kali memberinya kesempatan, tapi kali ini ia sudah sangat keterlaluan!"


"Saya minta beri dia kesempatan sekali lagi, maukah kamu membantunya?" Tn Arthur kembali memintanya.


"Saya akan jelaskan pada Anda, putra Anda memfitnah saya melecehkan satu mahasiswi, merusak kedai kopi saya, menculik dan mencoba membunuh saya dan itu berulang kali, selama ini saya diam! tapi maaf kali ini ia melibatkan orang terpenting dalam hidup saya.Semoga Anda mengerti" ucap Raffa lalu meninggalkannya.


Tn Hernand begitu terkesima dengan sikap Raffa yang berani ia pun kembali mendekat pada Tn Arthur.


Tn Arthur jelas terdiam tanpa bisa berkata apapun lagi.Semua rasa kecewanya ia tumpahkan dengan memaki putranya sendirian.


Tanpa berlama-lama mereka meninggalkan tempat tersebut di iringi serbuan para awak media.Raffa sendiri memutuskan pergi menemui ibunya.


Sesampainya di kediaman keluarga Adhitama Raffa hanya melihat Bi irah yang tengah mencuci piring.


"Bi, kok sepi!?"


"Eh Den Raffa kirain siapa, itu Den, lagi pada di kamar Non Alisa, kamar kedua di kanan" ucap Bi Irah.


"Oh, makasih ya Bi saya ke atas dulu" balas Raffa.


Dengan segera Raffa menuju kamar Alisa.Di dalam kamar nampak Bu Aisyah sedang berbincang dengan Alisa juga Alena.


"Assalamualaikum, Bu?" ucap Raffa seraya mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam" balas mereka berbarengan.


Tak beberapa lama pintu terbuka di iringi Alena yang muncul seraya tersenyum, "Eh kamu, pasti nyari Ibu ya?" tanya Alena.


"Raffa!" ucap Bu Aisyah terlihat khawatir, "Tolong jujur sama Ibu ada apa lagi sebenarnya? apa benar yang di beritakan itu!?"


"I, Ibu tenang dulu justru Al ke sini ingin langsung menjelaskannya, maaf tadi jika Al tak membalas telepon Ibu" balas Raffa.


"Ya sudah tunggu apalagi Ibu ingin mendengarnya" ucap Bu Aisyah tak sabar.

__ADS_1


"Apa gak masalah kita bicara di sini Bu?" Raffa meragu seraya melihat Alena juga Alisa.


"Kami juga sudah melihat beritanya Al, untuk apalagi kamu tutupi" ucap Alena seraya tersenyum.


Sedikit ragu Raffa pun masuk lalu duduk di salah satu kursi kamar sementara Ibu Aisyah duduk di ranjang di temani Alena juga Alisa.


"Berita itu benar Bu, saat Ibu di rumah sakit Aurel di culik dan mereka meminta Al datang ke tempat mereka menyekapnya" ucap Raffa lalu melanjutkan semua ceritanya hingga akhir.


"Ibu jangan khawatir lagi, semua akan baik-baik saja karena kali ini Leon sudah di tahan pihak yang berwajib"


"Syukurlah kalau begitu, Ibu jadi merasa sedih untuk Aurel, semoga saja ia kuat menghadapi semuanya" ucap Ibu Aisyah lega sekaligus bersimpati.


"Gak nyangka si Leon nekat bener! dari dulu gak pernah mau berubah" ucap Alena nampak gusar.


Sementara Alisa hanya mengerenyitkan dahi dan memilih diam karena tak tahu apapun soal semua itu.


"Itu sebabnya Al baru bisa datang Bu karena baru selesai dari kantor polisi untuk menyelesaikan itu semua" ucap Raffa tak enak hati.


"Ibu mengerti Nak, Ibu lega mendengar semuanya, semoga kita semua selalu di beri jalan terbaik oleh Allah, ammiinn.Peluk Ibu Nak" balas Bu Aisyah seraya membuka kedua tangannya.


Tanpa ragu Raffa pun segera memeluk Ibunya dengan erat.Nampak begitu nyamannya ia dalam dekapan sang bunda, membuat Alena juga Alisa merasa iri.


"Alena jadi cemburu melihatnya, jangan lupa sama Alena dong Mah" ucap Alena dengan bibir di tekuk.


"Emhhh, ini anak Mama selalu saja manja, sini sayang jangan cemberut gitu" balas Bu Aisyah seraya meraih wajah Alena dan membiarkannya bersandar di bahunya.


Alena pun tersenyum bahagia, sementara Alisa hanya menatap datar ketiganya dengan perasaan tak karuan.


"Anak Mama yang satu lagi gak mau di peluk? pundak Mama masih siap nih" goda Bu Aisyah pada Alisa.


Sedikit meragu Alisa mendekat lalu perlahan menumpukan wajahnya pada bahu Bu Aisyah dari belakang.Raffa sendiri berpindah ke pangkuan Ibunya.


"Ternyata seperti ini rasanya punya tiga anak manja, sangat menyenangkan, Ibu sangat sayang kalian" ucap Bu Aisyah seraya mengecup Alisa dan Alena bergantian.


Tanpa mereka sadari Tn Harry yang baru datang terus menatap kehangatan mereka.Sedikit ragu ia pun masuk ke dalam kamar dengan tersenyum haru.


"Apa gak ada yang mau meluk Papa?" ucap Tn Harry nampak sedih.


"Papa!" seru Alena juga Alisa.


"Kebetulan Papa datang, Alisa mau bilang sesuatu"


Alena segera meraih tangan Papanya lalu mengajaknya duduk di ranjang Hingga berhadapan dengan Bu Aisyah.


"Ada apa sebenarnya Alisa?" tanya Tn Harry tiba-tiba merasa canggung.


Raffa juga Bu Aisyah segera membenarkan posisinya masing-masing.


"Pah, Alisa mau minta sesuatu, Papa janji akan mengabulkannya ya" pinta Alisa nampak berharap.


"Kalau Papa sanggup, akan Papa berikan apapun itu sayang.Kamu minta apa sayang?" balas Tn Harry.


"Alisa tahu ini mungkin mengejutkan dan terlalu cepat tapi Alisa sudah memikirkannya" ucap Alisa lalu menarik nafas dan kembali berucap, "Alisa mau Ibu Aisyah tinggal di sini selamanya sebagai Mama kita semua Pah"


Bagai di sambar petir semua orang begitu terkejut dengan permintaan Alisa.Bukan saja tiba-tiba namun mungkin ini bukan hal mudah bagi sebagian orang di sana.

__ADS_1


[[ End ]]


__ADS_2